Saat Anak-Anak Berdamai

Refleksi seorang ibu tentang konflik kecil pertemanan anak, label “cengeng”, dan belajar mempercayai cara anak-anak berdamai dengan perasaannya.

Di dunia anak-anak, kata bestie bisa lahir pagi ini, lalu sore harinya terlupa karena sudah asyik bermain lagi. Yang sering kali tertinggal justru bukan marahnya, melainkan cerita yang berlapis-lapis di kepala orang dewasa.

Hari itu, aku menyadari kembali satu hal: anak-anak punya caranya sendiri untuk berdamai— dan tugas kita, orang tua, adalah tidak terburu-buru ikut ribut.

“Mama Cinta, mau telepon bisa nggak?”

“Mbak, aku lagi batuk. Jadi nggak bisa telepon. Chat aja nggak apa-apa ya?” jawabku.

“Enaknya sih lewat telepon, Mbak. Tapi nggak apa-apa,” balas Mama Nia.

Marahan kemudian berteman. Salah satu ritme dalam hubungan pertemanan di dunia anak-anak. Kita oeang dewasa, harus bijaksana menyikapiya.

“Ini Amo kemarin nangis. Katanya Cinta nggak mau bestie-an lagi sama dia. Amo dibilang cengeng. Terus tadi pagi, sudah sampai parkiran sekolah, dia nggak mau masuk. Takut dibilang cengeng lagi.”

Aku membaca pesan itu pelan-pelan. Nada bicara Cinta memang sering terdengar tinggi. Bukan hanya ke teman-temannya—aku dan adik-adiknya yang setiap hari bertemu pun sering mengira ia sedang marah, padahal mungkin itu hanya caranya bicara. Aku mengambil napas sejenak sebelum membalas.

Aku tidak memasukkan keluhan itu ke hati. Bukan karena aku menyepelekan perasaan Amo, tapi karena aku tahu: ini dunia anak-anak.

Marah sebentar.

Berteman lagi.

Marah lagi.

Lalu lupa.

Yang sering kali membuatnya panjang justru ketika orang dewasa ikut menyimpan perasaan terlalu lama. 

“Makasih ya, Mbak, sudah menyampaikan perasaan Amo. Aku minta maaf kalau Cinta bikin Amo sedih. Nanti pulang sekolah, aku obrolin sama dia,” tulisku.

Aku lega. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena disampaikan langsung. Bukan lewat orang tua lain. Meski, jujur saja, aku juga ragu—orang tua mana sih yang mau benar-benar ngadu? Orang tua yang jadi teman dekatku saja cuma temanku sejak SMP. Hahaha. 

Sore harinya, saat Cinta pulang sekolah, aku mencoba membuka obrolan pelan.

“Gimana praktik tadi? Seru?” Hari ini mereka praktik membuat helikopter dari gelas kertas.

“Seru, tapi nggak bisa terbang. Cuma muter,” jawab Cinta. Nada suaranya penuh antusias. Aku tahu, hatinya sedang baik-baik saja.

“Eh, Cinta ada masalah sama Amo?” tanyaku hati-hati.

“Enggak ada tuh. Dari kemarin kita main bareng. Tadi juga pas praktik kan sekelompok. Dia ketawa-ketawa aja,” jawabnya spontan.

“Oh, bagus deh kalau gitu,” kataku.

“Mama mau nyampaikan aja ya. Tadi mamanya WA. Katanya Amo sedih karena kamu dibilangin cengeng dan katanya kamu nggak mau bestie-an lagi.”

“Hah? Kapan Cinta nggak mau bestie-an lagi sama dia?” Cinta terlihat bingung.

“Lagian kita mainnya bareng terus, Mah.”

“Iya, Mama juga nggak tahu. Mama cuma menyampaikan cerita dari mamanya. Alhamdulillah kalau kalian baik-baik aja. Semoga nggak ada marah-marahan ya.”

“Amiiiinn. Ih, tapi aneh sih,” katanya masih terlihat heran.

Aku tersenyum kecil. Buat anak seperti Cinta, mungkin memang aneh rasanya— marah yang tidak kembali berteman. Sedih yang disimpan terlalu lama. Label seperti cengeng yang dibawa pulang ke rumah.

Percakapan itu mengingatkanku: anak-anak sering kali selesai lebih cepat dari kita. Mereka bertengkar, lalu bermain lagi. Menangis, lalu tertawa. Berdamai tanpa perlu mengingat detail luka. 

Mungkin, yang perlu belajar bukan mereka— melainkan kita, orang dewasa. Untuk tidak menambah beban, tidak terburu-buru memberi label, dan percaya bahwa anak-anak sedang belajar menavigasi emosinya sendiri. Karena tidak semua nada tinggi adalah marah. Tidak semua air mata berarti lemah. Dan tidak semua masalah perlu diwariskan hingga dewasa. 

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar