Pertanyaan Sederhana di Posyandu | Refleksi Ibu tentang Tumbuh Kembang Anak
Ada pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi membuat kita berhenti sejenak—bukan karena tidak tahu jawabannya, melainkan karena tidak yakin sedang berada di percakapan yang mana.
Pertanyaan itu datang ke posyandu, di antara antrean, catatan tumbuh kembang, dan suara anak-anak kecil.
“Raisa sudah bisa apa, Bu?” tanya petugas kesehatan di hadapanku.
“Hah?” jawabku sambil mengernyitkan kening. Bukan. Bukan karena aku tidak mendengar. Aku hanya bingung harus menanggapi dengan cara seperti apa. Di kepalaku, tiba-tiba muncul jawaban absurd yang ingin sekali kulontarkan.
“Oh, dia sudah bisa masak, Bu. Bisa lari sambil melompat, salto, dan main layangan.” Aku yakin, kalau aku benar-benar menjawab seperti itu, petugasnya akan bereaksi sama denganku sekarang. Sama-sama bengong. Lalu mungkin tertawa kecil. Ha-ha.
“Maaf, Bu,” kataku akhirnya. “Indikator bisa apanya ini maksudnya seperti apa ya?” Aku ingin memastikan. Karena kata bisa ternyata luas sekali. Terlalu luas untuk ditebak begitu saja.
“Sudah bisa menyusun barang-barang belum?” tanya petugas itu lagi, kali ini lebih spesifik. “Ohh,” aku mengangguk.
“Sudah, Bu. Menyortir benda berdasarkan warna dan ukuran juga bisa. Memegang pensil bisa. Berdiri satu kaki juga bisa.”
Petugas itu tersenyum kecil. “Bagus kalau begitu. Tumbuh dan kembangnya sesuai usia ya, Bu. Makannya lebih dibanyakin lagi proteinnya. Biar makin tinggi dan berat badannya nambah.”
“Baik, Bu. Terima kasih banyak informasinya,” jawabku.
Percakapan itu singkat. Sederhana. Tapi sepulangnya, aku justru memikirkannya lama. Menjadi petugas kesehatan—terutama yang harus berhadapan langsung dengan banyak orang setiap hari—tentu bukan hal mudah.
Mereka harus menjaga emosi. Menakar intonasi. Memilih kata. Salah nada sedikit, bisa dianggap tidak ramah. Padahal, tidak semua suara datar berarti marah. Dan tidak semua wajah tanpa senyum berarti tidak peduli.
Ada orang-orang yang memang butuh waktu untuk hangat. Ada yang baru terlihat ramah setelah percakapan dibuka. Ada pula yang wajahnya sudah terlihat tegas, bahkan sebelum bicara. Aku menyadari, kadang yang kita butuhkan hanyalah satu hal kecil: klarifikasi.
Bertanya ulang. Memberi ruang agar percakapan tidak salah arah. Hari itu aku pulang dengan satu pengingat sederhana: tidak semua kesalahpahaman lahir dari niat buruk. Kadang, ia hanya muncul karena kita terlalu cepat menyimpulkan— tentang nada suara, tentang wajah, atau tentang satu pertanyaan yang terdengar sepele Dan mungkin, seperti tumbuh kembang anak, relasi antar manusia pun butuh waktu, butuh sabar, dan butuh saling memahami, pelan-pelan.