Malam datang tanpa banyak suara. Lampu-lampu sudah diredupkan, rumah mulai bernapas lebih pelan. Di sela kelelahan yang belum sepenuhnya pergi, ada keinginan sederhana: menutup hari ini dengan jujur. Bukan dengan rangkuman prestasi, bukan juga daftar hal yang belum tercapai—melainkan dengan mengakui apa yang benar-benar terasa di dalam dada.
Hari ini tidak istimewa, tapi juga tidak sepenuhnya biasa. Ada tawa kecil yang sempat muncul, ada lelah yang diam-diam menumpuk, ada perasaan yang tidak sempat diberi nama. Maka sebelum hari ini benar-benar ditutup, aku ingin meninggalkan satu catatan kecil. Sebagai penanda bahwa aku hadir, bertahan, dan mencoba mendengarkan diriku sendiri—meski hanya sebentar.
