Catatan Kecil Sebelum Hari Ini Ditutup

Refleksi malam seorang ibu tentang lelah, amarah, penyesalan, dan usaha berdamai dengan diri sendiri sebelum hari ditutup pelan-pelan.

Malam datang tanpa banyak suara. Lampu-lampu sudah diredupkan, rumah mulai bernapas lebih pelan. Di sela kelelahan yang belum sepenuhnya pergi, ada keinginan sederhana: menutup hari ini dengan jujur. Bukan dengan rangkuman prestasi, bukan juga daftar hal yang belum tercapai—melainkan dengan mengakui apa yang benar-benar terasa di dalam dada.

Hari ini tidak istimewa, tapi juga tidak sepenuhnya biasa. Ada tawa kecil yang sempat muncul, ada lelah yang diam-diam menumpuk, ada perasaan yang tidak sempat diberi nama. Maka sebelum hari ini benar-benar ditutup, aku ingin meninggalkan satu catatan kecil. Sebagai penanda bahwa aku hadir, bertahan, dan mencoba mendengarkan diriku sendiri—meski hanya sebentar.

“Tidak semua hari perlu dirayakan. Beberapa cukup dicatat, lalu dilepas dengan pelan.”

Sebagai seorang ibu, aku selalu berharap setiap hariku bermakna. Untuk diriku sendiri, dan tentu saja untuk keluarga kecilku. Aku ingin menjadi sosok yang hangat, sabar, penuh kasih. Namun pada kenyataannya, emosi tidak selalu bisa dikendalikan. Ada hari-hari ketika lelah lebih dulu berbicara, ketika nada suara meninggi tanpa direncanakan, dan kesabaran terasa begitu tipis.

Setiap kali amarah tersulut, penyesalan datang hampir bersamaan. Kenapa aku tidak bisa menahannya sedikit saja? Kenapa anak-anak seolah tak kunjung memahami? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala, saling tumpang tindih, hingga akhirnya membuatku ingin menyerah pada pikiran sendiri. Ah, sudahlah—begitu sering aku mengakhiri percakapan batin itu.

Marah, menyesal, marah lagi, lalu menyesal kembali. Seperti roda yang terus berputar tanpa tahu cara berhenti. Di titik tertentu, aku mulai bertanya lebih jujur: jangan-jangan memang masalahnya bukan pada situasi, bukan pula pada orang lain. Mungkin ada sesuatu di dalam diriku yang belum benar-benar diberi ruang untuk bernapas.

Apakah karena aku terlalu lama tanpa jeda, sendirian di tengah keriuhan yang tak pernah benar-benar sepi? Atau mungkin karena aku terlalu keras pada diri sendiri—menuntut untuk selalu sabar, selalu kuat, selalu bersyukur, tanpa memberi izin untuk lelah? Pertanyaan itu tidak langsung menemukan jawabannya. Tapi malam ini, aku tidak ingin memaksanya.

Malam ini, aku memilih berhenti sejenak. Mengakui bahwa hari ini melelahkan. Bahwa aku sempat marah, sempat kecewa pada diri sendiri, tapi juga tetap berusaha mencintai. Catatan kecil ini bukan pembenaran, bukan pula penghakiman. Ia hanya pengingat lembut: bahwa aku manusia, ibu yang sedang belajar, dan esok hari selalu memberi kesempatan untuk mencoba lagi—dengan hati yang sedikit lebih tenang.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar