Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.
Pekan ini kami para ulat, akhirnya keluar dari Gua Jungle of Knowledge. Keluar dari gua, kami tiba di kebun apel. Apelnya berlimpah ruah dan segar-segar. Banyak yang bikin ngiler deh.
Dan seperti biasa saat ada jadwal live di Facebook, keluarga saya di grup 2 Sekar sambil berdiskusi. Hampir semua deg-degan saat ada percakapan yang menyiratkan bahwa kami harus live di Facebook. Uwwwuiiiiiihhhhhh.
Kok part 2? Iya, karena saya sudah melewatinya di anak pertama. Kali ini kami mengucapkan sampai jumpa lagi di anak ke dua. Semoga bertemu di anak-anak selanjutnya.
Kembali menggunakan clodi di anak kedua, memberikan cerita yang berbeda. Tentu saja, setiap anak punya perjalanan yang berbeda kan. Namun,lagi-lagi saya sedikit jumawa dengan pengalaman sebelumnya yang menyenangkan. Sedikit cerita toilet training aka tatur Cinta bisa dilihat di sini.
Penggunaan clodi Rangga, anak ke dua saya, berjalan mulus tanpa hambatan. Seperti Cinta,saya sesekali menggunakan pospak saat menginap di rumah ibu mertua dalam waktu singkat. Jika agak lama, saya tetap memilih menggunakan clodi. Atau saat harus keluar rumah seharian, maka pospak terpaksa saya gunakan.
Pekan ini, kami para ulat di Hutan Kupu-Kupu Cekatan di ajak masuk ke gua The Jugle of Knowladge. Hmmm, karena gelap kami tidak bisa melihat apa. Hanya suara-suara yang terdengar. Suara-suara ilmu ini membuat saya tidak takut lagi di kegelapan. Eh, tapi sesekali saya juga melihat cahaya yang berasal dari bekal potluck ulat-ulat lain. Seru !!!!!
Sajian potluck dari ulat-ulat lain sungguh banyak. Begitu melihat album potluck, ingin rasanya saya makan semua. Untung saya bawa peta, jadi saya melahap sesuai yang di peta saja deh.
Pekan pertama di tahap ulat-ulat ini, Saya merasakan banyak tantangan. Bagaimana tidak, pekan ini kami diminta untuk menggungah makanan yang sudah kami santap. Melihat album ini makananku, sangat banyak makanan yang menggugah selera saya (ketauan banget ini hobi makan). Ya,banyak materi menarik yang dihidamgkan teman-teman. Namun, karena harus fokus dengan mind map,maka saya tetap memilih melahap ilmu manajemen waktu di pekan pertama ini.
Alhamdulillah, peta belajar di pekan ke empat tahap telur sudah saya selesaikan. Saatnya saya mengalirkan perasaan ini. Lega sekaligus bahagia karena bisa melewati tahapan-tahapan telur. Ternyata saya memang perlu waktu bercakap-cakap dengan diri sendiri. Mencari dan menemukan kebutuhan diri. Ya, sebelum menjadi ibu yang bahagia tentu saya harus bisa membahagiakan diri sendiri. Saya bahagia maka saya bisa menjalani peran-peran lain dengan bahagia.
Memasuki pekan ke empat tahap telur, saya mulai bisa fokus. Tidak seperti sebelumnya yang kondisi kesehatannya naik turun. Namun, materi di pekan kali ini, cukup membuat saya kalang kabut dan “ratatotil” alias teringat kembali pada materi matrikulasi. Yups, materi dimana para pembelajar diajak membuat mind mapping.
Ya Allah dulu waktu sekolah aku ngapain aja yaaakk, sampe kagak ngerti bikin mind mapping T-T.
Beruntung teman-teman di grup 2 Sekar rajin berbagi. Jadi banyak yang bisa menjadi inspirasi saya. Dan berbekal tekad dan kacamata kuda, saya mencoba membuat mind mapping ala saya.
Alhamdulillah jurnal pekan ketiga sudah di depan mata. Sejak selesai menonton live Selasa lalu, saya sudah mulai mencoret-coret di buku catatan. Namun tidak kunjung usai lantaran kondisi tubuh yang belum fit benar serta nenek yang masih sakit. Qadarullah kami habis gantian sakit.
Sambil mencari-cari jawaban bagaimana cara saya belajar, saya teringat saat Magika dan kunang-kunang ngobrol soal deep sleep. “Sayang, mungkin ade butuh belajar deep sleep. Ade kan kalau ngantuk, gampang jadi singa,’ujar saya suatu malam saat suami pulang kerja. “Bukannya ade itu gampang deep sleep. Soalnya kan kita sering ngobrol pulang kerja gini, tiba-tiba udah ilang,” kata suami balik bertanya.
Saat mendengar cerita kunang-kunang awal pekan, saya sempat bertanya-tanya apakah saya harus mengubah isi jurnal hijau saya?
Diskusi di grup 2 “sekar” pun mengalir. Diskusinyapun memberikan pencerahan. Meski haris mengubah isi telur hijau, namun saya berpegangan pada potensi yang membuat saya bahagia. Karena memang tujuan dari keluarga saya saat ini adalah bahagia bersama anak-anak. Artinya yang saya lakukan melibatkan anak-anak.
Alhamdulillah, sekarang saya kembali belajar di Kelas Bunda Cekatan Batch 2. Rasanya????? Kayak naik roll coaster. Deg-degan, bahagia, tapi juga harap-harap cemas. Mirip-miriplah rasanya dengan gelombang cinta saat akan bersalin.
Buat saya, belajar di kelas kali ini sedikit berbeda dengan kelas bunda sayang, kelas terakhir di Institut Ibu Profesional yang saya ikuti. Di New Chapter ini, kami para pembelajar diajak untuk lebih aktif lagi. Butuh? yuk kejar ilmunya.
Di pekan pertama ini, saya melihat langsung penjelasan para kunang-kunang. Yang baru saya sadari, ternyata sekarang saya lebih mudah memahami penjelasan jika lewat video atau Live. Meski menonton videonya pun tidak bisa hanya sekali.
Sebelum mencorat-coret potensi yang saya lakukan dalam keseharian, sayapun mengintip NHW 7 di kelas Matrikulasi yang saya ikuti sebelumnya. Mata saya langsung tertuju pada kolom tidak suka dan tidak bisa. Ternyata, saat ini potensi tersebut sudah berubah posisinya. Wohoooooooo.