“Keren juga kalau bisa kerja di kantor ini,” batinku suatu pagi, saat melewati sebuah gedung bertingkat saat menuju sekolah. Gedung Biru, kantor media cetak yang sangat terkenal di kotaku. Bangunannya tampak megah dengan dinding yang dikelilingi kaca berwarna biru. Setiap menuju atau pulang sekolah, aku selalu melewati gedung ini. Sangat keren. Apalagi kalau aku bisa menjadi seorang wartawan. Pasti tambah keren lagi. Itu adalah salah satu cita-citaku.
Lanjutkan membaca “Kaltim Post Fun Fest 2023”Kategori: Refleksi Diri
Aku dan Secangkir Kopi
Seteguk kopi, beberapa tahun silam tak kan pernah berhasil melewati tenggorokanku. Sakit kepala, jantung yang berdebar kencang dan sulit tidur adalah salah satu penyebab aku menghindarinya.
Namun sekarang sungguh bertolak belakang. Aku bukan pencinta kopi. Tapi kopi ternyata mampu mengajakku menyepi sejenak, di tengah keriuhan anak-anak.
Lanjutkan membaca “Aku dan Secangkir Kopi”Ke Dokter Gigi
“Ma, gigi depan Cinta yang bawah sakit,” kata Cinta suatu pagi.
“Coba mama liat. Mama pegang ya,” kataku sambil menekan gigi yang dimaksud. “Oh, agak goyang nih kak. Nanti kalau sudah goyang banget, kita ke dokter gigi ya. Kita cabut giginya,” kataku.
“Gak ah. Cinta takut,” jawab Cinta cepat. Cinta memang punya trauma dengan dokter gigi. Waktu ia berusia dua tahun, kami pernah membawanya ke dokter gigi.
Lanjutkan membaca “Ke Dokter Gigi”Udahlah Google Maps Saja
Siapa yang kalau ke suatu daerah tidak dikenal mengandalkan GPS? Yuk kita gandengan tangan. Ha-ha. Meski sudah 6 tahun menikah dengan laki-laki kelahiran kota tetangga, aku sampai sekarang tidak pernah hafal jalannya. Bahkan untuk menuju rumah mama mertua, aku harus menggunakan Google Maps. Padahal nih, sebelum menikah 4 tahun aku bekerja juga sering bolak balik ke kota tepian. Mungkin dalam sebulan aku pasti ada ke Samarinda selama seminggu. Harusnya aku sudah mulai hafal ya.
Lanjutkan membaca “Udahlah Google Maps Saja”Cerita Cinta Mendaftar SD
“Pendaftaran murid baru sudah dibuka lho. Mau daftar gak?” tanya mbak Ika suatu hari melalui pesan whatsapp.
“Hah! Baru dua bulan sekolah TK mbak. Masa sudah buka pendaftaran SD?” aku bertanya tidak percaya.
“Gak tau nih. Di whatsapp grup sekolah sudah dibagikan infonya. Kalau memang mau, gak apa-apa daftar dulu. Toh kalau gak jadi, gak ada kerugian apa-apa karena gak ada yang dibayar,” jawab mbakku. Maka, aku pun mengiyakan sarannya. Saat aku menyampaikan informasi tersebut ke suami, jawabannya pun serupa denganku.
Lanjutkan membaca “Cerita Cinta Mendaftar SD”Market Day di Sekolah
Beberapa pekan lalu, sekolah Cinta mengadakan sebuah kegiatan yang sudah Cinta tunggu-tunggu sejak awal masuk sekolah.
Apakah itu? Kegiatannya adalah market day. Kegiatan ini sudah 14 tahun dilaksanakan di sekolah Cinta. Tak menyangka usia sekolah Cinta sudah 14 tahun. Yang artinya aku sudah bertambah tua. Bagaimana tidak, aku sudah mengenal sekolah ini sejak keponakan pertamaku lahir, Nindy yang saat ini sudah berusia 12 tahun. Dalam satu tahun, market day dilaksanakan dua kali. Semester pertama untuk kelas TK B dan semester kedua untuk anak-anak kelas TK A. Mereka akan bergantian menjadi penjual dan pembeli.
Tunai atau Non Tunai
Saat ini, kita tentu sudah dipermudah dengan penggunaan uang non tunai. Berbagai macam pembayaran menggunakan uang non tunai, bisa kita pilih. Mana yang mempermudah pasti akan kita pilih. Di pasar dekat rumah contohnya, ada satu toko buah yang cukup besar memberikan kemudahan pembayaran untuk pelanggannya. Bisa melalui mesin EDC, Qris ataupun transfer. Aku sudah pernah menggunakan ketiganya. Untuk harga buah-buahan cukup bersaing kok dengan toko yang lain. Sehingga tidak membuatku merasa keberatan. Lagi pula, biasanya membeli buah ada di urutan terakhir. Karena tokoknya dilalui saat pulang dan pergi menuju pasar sayur-mayur. Alasan lainnya tentu karena pilihan pembayaran itu. Uang cash biasanya pas untuk belanja sayur mayur beserta lauknya. Di pasar juga belum kutemukan pembayaran non tunai. Sehingga saat uang cash sudah tidak tersedia, tapi masih mau membeli buah, maka membeli di toko buah dengan pembayaran non tunai adalah jalan ninjaku. Bahkan untuk membayar daftar ulang sekolah saja, aku memilih membayar dengan uang non tunai. Rasanya janggal sekali, kalau dompet yang tiba-tiba sesak dengan uang kertas, harus tipis seketika. Ha-ha.
Lanjutkan membaca “Tunai atau Non Tunai”Aksi Heroik Petugas Pemadam Kebakaran – Station 19
Tak terasa aku cukup lama, mengikuti perjalanan serial 911 di Fox Crime yang sekarang berpindah ke Disney Hotstar. Saat ini, 911 sudah memasuki sesion ke 6. Dan masih muncul episode terbarunya setiap hari kamis.
Nah, untuk menunggu episode-episode selanjutnya, akupun mencoba menonton serial serupa lainnya. Salah satunya adalah Station 19. Sebenarnya, serial ini sudah lama aku mulai. Tapi, sempat terhenti cukup lama, karena belum menarik perhatianku.
Lanjutkan membaca “Aksi Heroik Petugas Pemadam Kebakaran – Station 19”
Bermain Teka Teki Silang
Teka-teki silang. Tampak tua gk sih permainan yang satu ini? Aku mengenal teka-teki silang dari majalah bobo, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Tentu saja, mengisi teka-teki silang adalah yang menyenangkan sekaligus seru.
Beranjak besar aku mulai mengisi teka-teki silang lewat buku kumpulan TTS. Saat itu yang mengenalkanku embah Min. Setiap hari, embah selalu mengisi TTS di waktu luangnya. Aku yang sepulang sekolah, sembari menunggu jemputan dari bapak suka iseng-iseng mengerjakan. Eh ketagihan. Jadilah saat bertemu penjual majalah keliling atau di suatu tempat, aku sering menanyakan buku TTS.
Lanjutkan membaca “Bermain Teka Teki Silang”Pengalaman (Yang Mungkin) Menyeramkan
“Mah, kenapa sih mama carikan Cinta sekolah yang dekat kuburan. Kan serem?” kata Cinta suatu pagi.
“Dekat? Masa sih? Perasaan mama jauh deh. Lagi pula, kita bisa gk lewat kuburan kok,” jawabku.
“Iya mah, tapi tetap aja seram, karena Cinta lihat,” kata Cinta lagi.
“Eh, tapi kan rumah kita juga dekat kuburan. Malah lebih dekat lagi dari pada sekolah kita,” kataku mengingatkan.
“Iya tapi gak keliatan ma. Kalau sekolah beda,” Cinta masih bersikeras.
“Kan sekolah juga gak keliatan,” kataku lagi.
“Pokoknya beda. Cinta gak paham kenapa mama suka banget sama daerah sekolah Cinta. Dekat kuburan, dikelilingi hutan, sepi, kalau berangkat sekolah pagi udaranya dingin. Mana kadang masih ada kabutnya,” cerocosnya.
Lanjutkan membaca “Pengalaman (Yang Mungkin) Menyeramkan”