Berbagai Profesi di Karnaval TK

Jika kemarin-kemarin kemeriahan HUT RI diwarnai dengan berbagai lomba, Cinta masih melanjutkannya dengan agenda lain. Kali ini karnaval bersama teman-teman TK se-Balikpapan.

Begitu diberitahu di wag kelas dua hari sebelumnya, aku langsung memberi tahu papah dan nenek. Yang semangat sudah pasti nenek. Karena sejak Nindy, nenek tidak pernah absen menonton cucu-cucunya karnaval. Apalagi, 2 tahun ini, seluruh kegiatan tidak bisa dilakukan. Otomatis, antusiasme jadi berkali-kali lipat.

Lanjutkan membaca “Berbagai Profesi di Karnaval TK”

Bisa Karena Biasa

“Nanti bantuin bikin presentasi ya. Kakak aja yang bikin, tapi ade di sebelah sambil ditanya-tanya,” kata suami belum lama ini.

Wuih, tumben banget nih. Biasanya juga kalau bikin presentasi gak pernah minta bantuan, batinku. Usut punya usut, ternyata suami kepincut dengan presentasi dari canva. Saat kami keluar kota bulan lalu, suami harus membuat presentasi. Kami hanya membawa macbook milik kantor yang minim aplikasi. Tapi karena canva bisa diakses secara online, maka aku membantu membuatkan presentasi suami. Saat itu, aku yang mengerjakannya.

Lanjutkan membaca “Bisa Karena Biasa”

Mengatasi Kantong Kering

Sebagai orang yang puluhan tahun tinggal di daerah yang dekat garis khatulistiwa, aku cukup bahagia waktu diajak jalan-jalan ke daerah yang dingin-dingin sejuk. Bagaimana tidak, aku mudah sekali berkeringat. Kadang iri rasanya melihat orang-orang yang tidak mudah berkeringat meski aktivitasnya ringan. Meski di kotaku musim hujan dan musim kering alias kemarau tidak pernah bisa diprediksi, aku pernah tinggal di perumahan yang dikelilingin pepohonan lebat. Ini mengurangi rasa kegerahan dan keringat. Terutama saat pagi hari. Di pukul 06.30, aku masih bisa menikmati embun dan kabut saking dinginnya. Kalau malam, suara jangkrik yang bersahut-sahutan sudah jadi alunan tidur yang menenangkan. Sayangnya, itu hanya berlaku di beberapa wilayah, yang dikelilingi pepohonan lebat. Kotaku saat ini lebih banyak perumahan yang gersang.

Lanjutkan membaca “Mengatasi Kantong Kering”

Baper Itu Dulu

Ih, kok mereka ngumpul-ngumpul tapi gak ajak aku sih. Apa aku sudah gak dianggap teman lagi? Apa aku sudah gak seasyik dulu (eh emang dulu asyik)?

Minimal basa basi kek, meski aku gak ikut ngumpul bareng mereka.” Protes batinku saat melihat postingan beberapa temanku yang berkumpul bersama.

Tapi suara hatiku yang lain ternyata tidak mau tinggal diam.

Eh, bukannya kemarin-kemarin mereka pernah ngajakin ya. Tapi kamu selalu nolak. Alasan gak bisa. Gak ada suami yang bakal bantuin jaga anak. Atau tidak setuju dengan lokasi nongkrong yang mereka usulkan”

Lanjutkan membaca “Baper Itu Dulu”

Cerita di Sekolah

“Ma, Cinta gak usah sekolah aja deh,” kata Cinta. Aku menghentikan aktivitasku sejenak.

“Kenapa?” tanyaku.

“Cinta takut Ma. Takut kalau disuruh baca doa, Cinta gak bisa. Takut kalau salah-salah. Kalau baca doa sama mama, Cinta salah kan dibenerin,” jawab Cinta.

“Cinta tau gk, di sekolah nanti itu Cinta belajar bareng-bareng sama teman yang lain. Kalau salah ya gak apa-apa. Nanti akan dibantu sama bunda di sekolah. Mama tanya deh, Cinta bisa berlari?”

Cinta mengangguk.

Lanjutkan membaca “Cerita di Sekolah”

Ketika Mengerjakan, Tidak Pakai Hati

Jangan pernah mengerjakan sesuatu tanpa hati yang bahagia. Kenapa? Karena yang kita lakukan pasti tidak akan maksimal. Beberapa bulan lalu, di RTku telah mengadakan pemilihan ketua RT. Kali ini, beberapa nama mengajukan diri menjadi ketua RT. Kebanyakan warga tentu tahu track record para calon ketua RT. Tapi aku tidak dan mungkin beberapa warga lain juga ada yang tidak tahu.

Aku jelas tidak mengenal, karena minim sosialisasi dengan lingkungan. Tapi ibu, tante dan pamanku sangat memahami. Cara pemilihannya, seperti tahun-tahun sebelumnya. Dipilih lewat pencoblosan langsung. Namun, satu kartu keluarga hanya boleh satu pemilih.

Setelah terpilih ketua RT yang baru segera melakukan pergerakan. Sayangnya, tidak semua warga mendukung. Ada saja yang tidak suka dengan terobosan-terobosan yang ada. Walaupun terobosan itu memberi perubahan yang baik. Ya, begitulah kalau memang tidak suka pada personalnya ya. Oh iya, sebenarnya kemenangan antar calon cukup tipis lho.

Beberapa saat setelah menjabat, ketua RT yang baru mengundangku ke rumahnya. Hanya saja, aku berhalangan dan tidak bisa hadir. Keesokan harinya, aku mendapatkan cerita dari pamanku yang hadir dalam undangan tersebut. “Namamu masuk sebagai ketua pemberdayaan wanita lho ris,”kata paman.

“Hah? Gak salah? Gak pernah ikut kegiatan RT terus tiba-tiba ditunjuk,” jawabku.

“Gak paham,” kata paman sambil berlalu pergi.

Akhirnya aku mendapat penjelasan dari Ketua RT kenapa namaku bisa ditulisakan dalam perangkat RT. “Cuma simbolis kok. Namamu diusulkan sama mbak Rina,” tambah bu RT. Ya, ketua RTku adalah seorang perempuan.

“Bu, maaf ya. Sebaiknya dicari yang lain saja. Saya tidak bisa aktif berkegiatan di luar. Lagi pula, anak-anak belum bisa ditinggal,” alasanku.

“Sudah sambil jalan saja. Nanti tetap didampingi kok,” tambahnya.

Aku juga menyuarakan ke mbak Rina, salah satu perangkat RT yang sudah berpengalaman  bertahun-tahun di RTku. “Sudah santai aja,” jawabnya. Tak ada satupun yang mengizinkanku mundur.

Akupun berusaha untuk tetap profesional dalam menjalankan peran. Meski dalam perjalanannya, aku memang tidak bisa fokus karena selalu membawa anak-anak dalam memenuhi undangan dari puskesmas. Berbeda dengan banyak komunitas yang aku ikuti, semuanya selalu mendukung dan ramah pada anak-anak yang dibawa. Tentu saja ini membuat hatiku galau. Sejak menikah, aku sudah berniat untuk melibatkan dalam semua agendaku. Jadi, kalau tidak ramah dengan anak, tentu aku makin tak tenang.

Dan aku semakin menyikapi dengan santai tanpa beban, karena ternyata aku tidak pernah dilibatkan pada keputusan apapun yang berhubungan dengan “kewajibanku” sebagai kepala pemberdayaan perempuan. Meski sedikit kecewa, aku juga bersyukur. Karena artinya jawaban itu hanya formalitas belaka.

“Padahal Riska kalau diberi kepercayaan sepenuhnya, pasti total,” kata ibu ke tanteku.

“Yang sodorin nama Riska memang aku, karena dulu riska memang mau terlibat kan. Cuma kaget juga kalau ternyata Riska sering tidak tahu ada keputusan apa-apa,” kata tanteku. Percakapan tak sengaja mereka membuatku tertawa. “Dulu memang mi, semangat mau edukasi. Tapi memang gak mudah. Orang pas posyandu, habis timbang langsung pulang. Gak bisa disalahin, ibu-ibu lain pasti punya kesibukan. Datang ke posyandu, kalau gak seru, ya gitu aja,” jawabku.

Karena sebenarnya seperti ibu-ibu lain, aku juga tidak mau lama-lama berkumpul. Ha-ha.

Tips Mengajak Anak Ke Pemancingan

Sungguh menyenangkan bila bisa melakukan kegiatan bersama anak-anak. Seperti piknik, ke pantai, memancing dan masih banyak lagi. Untuk keluarga yang punya hobi memancing sepertiku, tent menyenangkan punya waktu khusus memancing bersama-sama.

Tapi apakah memancing bisa dilakukan dengan anak-anak? Tentu saja bisa. Tapi ada yang perlu dipersiapkan. Karena kolam pemancingan, rata-rata tidak terlalu ramah anak. Orang tua perlu siaga jika anak-anak berlarian ke sana kemari. Hampir tidak pernah aku temukan kolam pemancingan yang memiliki pagar pembatas dipinggirnya. Lanjutkan membaca “Tips Mengajak Anak Ke Pemancingan”

Pengalaman Mencari Sekolah

Saat ini para orangtua sedang disibukkan dengan mencari sekolah baru untuk anak-anaknya. Entah masuk SD, SMP, ataupun SMA. Berbeda dengan yang mencari kuliah ya. Kebanyakan sudah mandiri mencari kampus idamannya.

Tahun ini, 3 keponakan dan 1 sepupuku sedang mencari sekolah baru. Bila, keponakan terkecil akan masuk Sekolah Dasar. Tidak terlalu riweh, karena sejak lama ibu dan ayahnya sudah berniat memasukan ke salah satu sekolah swasta yang cukup favorit. Pendaftaran juga sudah dilakukan sejak Desember tahun lalu.

Lanjutkan membaca “Pengalaman Mencari Sekolah”

Mencari Ulasan Dokter (Bagian 2)

Di kehamilan kali ini, aku cukup galau memilih dokter kandungan. Dua kehamilan sebelumnya, aku selalu berkunjung ke dr Rachmat Nugroho, Sp.OG di RS Ibnu Sina. Alasan utamanya karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Tapi dokter Rachmat punya penggemar yang sangat banyak. Dan menurut keterangan kakakku dan sahabatku, yang bekerja di RS daerah (dokter Rachmat juga,bertugas di RS tersebut), track reccordnya cukup baik.

Lanjutkan membaca “Mencari Ulasan Dokter (Bagian 2)”