Catatan Parenting 1 : Belajar Bahagia, Bahagia Belajar – Ida S. Widayanti

Catatan Parenting 1 : Belajar Bahagia, Bahagia Belajar
Catatan Parenting 1 : Belajar Bahagia, Bahagia Belajar
Ngomongin soal parenting gak akan ada habisnya. Selalu ada saja ilmu baru yang bikin mata terbelalak. Bagaimana tidak, jika saya melewatkan hal-hal itu, pengaruhnya akan sangat besar pada pola asuh anak saya nanti. Ya, saat ini saya banyak belajar teorinya.

Mungkin tak sedikit, yang nyinyir dibelakang karena saya tampak begitu antusias. Tak perlu terganggu, tiap orang boleh memiliki pendapat yang berbeda.

Kali ini, saya mendapat pinjaman buku dari Mak Wiena, seorang kakak, sahabat, guru, mentor dan entah apalagi yang membuat saya kagum padanya. Ada dua buku yang ia pinjamkan. Sebenarnya buku catatan parenting memiliki tiga seri. Namun saat ini saya baru membaca sampai buku ke dua.

Isi buku Catatan Parenting 1 : Belajar Bahagia, Bahagia Belajar, buat saya cukup “menampar” wajah saya cukup keras. Bagaimana tidak, penulisnya, Ida S.Widayanti berhasil membuat saya semakin sadar untuk selalu bercermin. Ingin seperti apa anak dan keluarga kita nanti, semua ada ditangan kita.

Berikut petikan-petikan kalimat “ajaib” dari buku tersebut :

Bagian 1 : Belajar Bahagia 

“Kita hanya bisa memberikan apa yang kita miliki, mana mungkin kita bisa memberikan kebahagian, jika kita tidak merasa bahagia”

Kasih Sayang 

“Kalau Allah saja sedemikian Mahakasih sayangnya mengala kita tidak mengisi hari-hari dengan limpahan kasih sayang kepada keluarga, tetangga, teman kerja atau bahkan pada orang yang tidak kita kenal?”

Di Sebuah Pengadilan Agama 

“Jauh di ruang sidang kantor pengadilan agama, banyak orang yang belum mendapatkan pasangan hidup. Berdoa dengan sungguh-sungguh memohon didekatkan pintu jodoh. Ironisnya, sebagian justru tengah menyia-nyiakan anugerah pasangan yang diberikan Allah”

Pasangan 

“Perpisahan tak selamanya buruk. Ada yang berpisah mampu menjadi solusi terbaik bagi keduanya. Namun, ketahuilah bahwa menjalani hidup dengan kesendirian adalah hal yang tidak mudah”

Suami yang Sempurna 

“Keburukan akhlak ternyata dapat memusnahkan rasa cinta di hati pasangan”

Sehidup Semati 

“Suami-istri adalah pasangan perjalanan dalam kehidupan ini. Tentu saja seperti perjalanan ke suatu tempat, harus ada tujuan yang jelas, serta rencana,mdan juga bekal”

Saat Kau Cinta 

“Kalau ada yang bilang bibit itu penting, sesungguhnya bukan masalah keturunan bangsawan atau rakyat jelata, namun bagaimana kualitas hiduo dan mentalitasnya”

Jangan Tunggu Ada Saingan 

“Kesantunan, kebaikan, kemurahan dan kerendahan hati , serta wajah yang senantiasa dibasuhnair wudhu, dapat mempercantiknseorang wanita sehingga membuat suami akan tersqu mencintai”

Fenomena Perceraian 

“Perlu langkah antisipasi bagaimana agar keretakan fondasi rumah tangga ini dapat dihindari. Jangan sampai perceraian menjadi lifestyle atau gaya hidup yang cenderung terus meningkat”

Baju Ibu Bagus, deh ! 

“Jika dapat menjalin hibungan yang sehat, harmonis, dan kuat dengan anggota keluarga , kita akan menjadi pribadi uang kuat dan menyenangkan saat keluar rumah”

Senyum Tukang Sampah 

“Jika suami-istri senantiasa bersyukur terhadap rezeki yang mereka terima, maka sesungguhnya hal itu akan melapangkan limpahan rezeki pada mereka”

Menanti Hadirnya Buah Hati 

Punya anak atau tidak itu sepenuhnya pilihan Allah. Namun, menjalani pernikahan dengan bahagia atau tidak adalah sepenuhnya pilihan pasangan”

Bagian 2 : Makna Bahagia 

Membahagiakan anak adalah termasuk memberikan bimbingan dan pengertian yang hakiki akan makna kebahagiaan. Namun , seringkali orangtua tak mengerti, bahkan mungkin kurang peduli”

Panggilan Kesayangan 

“Panggilan kelihatannya sepele, namun percayalah bahwa hal itu amatlah penting bagi jiwa anak. Bahkan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi Wa Salam saja memberikan nama panggilan untuk istri tercintanya, Aisyah Radhiyallahu ‘anha, yaitu Humaira yang berarti kemerah-merahan”

Ladang Tak Terbatas 

“Bila orangtua menyerahkan pendidikan sang anak secara total kepada sekolah dan buru, mereka sebenarnya lupa, bahwa mereka tengah menyia-nyiakan hamparan ladang amal yang tak terbatas yang membentang amat luas di hadapannya”

Yang Tak Terulang 

“Ketika anak kita besar kelak, tak banyak yang bisa kita lakukan. Mereka telah memiliki dunia sendiri. Kita tak bisa memberikan pengaruh sebesar ketika mereka masih kecil”

Mengapa Harus Ibu 

“Ibu sangat potensial untuk menjadi guru terbaik bagi anaknya. Pertama, ibu adalah orang yang paling dekat dan paling bisa mengerti anaknya. Selama sembilan bulan dalam kandungan, dua tahun dalam dekapan, adalah modal yang cukup bagi ibu untuk meyakini bahwa ibulah yang pali dekat dan paling memahami keinginan sang anak. Ibu akan lebih tau cara terbaik untuk mengajari anaknya”

Rumah Kanvas 

“kreativitas sdalah kemampuan membuat sesuatu yang baru dan berbeda; atau kemampuan berpikir lain dari yang lain. Kreativitaslah yang menyebabkan dunia ilmu dan teknologi terus maju dan berkembang. Kreativitas juga yang membuat anak mampu mengahadapi persaingan”

Prasekolah 

“Seorang ahli pendidikan berkata, “Semakin banyak melihat dan mendengar, seorang anak akan semakin ingin melihat dan mendengar,” karena itu lanjut sang ahli, “Tragedi anak daerah miskin adalah bahwa ia kerap kali tak penah berhasil memasuki spiral pertumbuhan intelektual ini”

Bermain 

Permainan bersifat mendewasakan. Melalui bermain, seseorang belajar banyak tentang kehidupan, baik kemandirian, keberanian, sosialisasi, kepemimpinan, dan menyadari arti akan eksistensi dirinya”

Hipnotis 

Oleh karena itu, orangtua perlu berhati-hati dalam memilih kata-kata kepada anaknya. Tanpa disadari sebenarnya orangtua memiliki kemampuan terpendam dalam menghipnotis, yang bisa berdampak buruk pada buah hatinya”

Ketika Anak Bertanya 

Saat terbaik untuk memberi pengetahuan pada anak adalah saat mereka bertanya. Ketika rasa ingin tahunya besar, maka informasi akan tersimpan sangat kuat. Oleh karena itulah, berhati-hatilah menghadapi pertanyaan anak”

Putus Hubungan 

“Apakah memutuskan hubungan kekeluargaan sebuah solusi? Selama di dunia, bisa saja orangtua memutuskan ikatan kekeluargaan dengan anak. Namun tak berarti orangtua bisa lepas dari tuntutan pengadilan akhirat kelak atas kewajiban mendidik anaknya itu”

Usia Senja 

“Ibarat benih yang ditanam, jenis dan kualitas buahnya akan disesuaikan dengan benih dan kualitas perawatannya. Semua hasil didikan tersebut akan berpulang kembali pada Orangtuanya”

Anak dan Cucu 

“Kita memang tidak pernah tahu akan seperti apa keturunan kita kelak. Namun, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengajarkan agar kita senantiasa mendioakannya dan mendidiknya sebaik mungkin”

Menuju Titik Seimbang

Keluarga dan rumah adalah pusat kehidupan spiritual kita. Kita tidak mungkin mendapatkan kedamaian dan ketentraman batin tandpa adanya kedamaian dan ketentraman di rumah kita”

Bagian Tiga 

Newton 

“Kalau hati senantiasa dibersihkan ketika berbuat jahat,q meski secarafisik tak merasakan sakit, hatilah yang akan menderita.  Hati akan merasa tak enak dan selalu gelisah”

Garis Lurus 

“Berada dalam jalan yang lurus adalah berada pada jelan kebenaran. Berkata lurus adalah menyatakan kebenaran. Seringkali kehidupan memaksa kita untuk berkelok-kelok atau bahkan menyimpang dari garis yang telah ditetapkan”

Besi 

“ketika seorang anak menjadi keras sifatnya, tengoklah cara mendidikdan memperlakukannya sejak dini. Disitulah sesungguhnya letak permasalahannya”

Intan vs Arang 

“Meskipun pada wujudnya manusia sama, tapi bisa sangat berlainan. Ada amnusia yang sangat bernilai dan berharga dan ada manusia hina yang tidak berharga, tergantung kualitasnya”

Menghitung 

“Menurut para ahli, sering menghitung dat meningkatkan kinerja dan kemampuan otak. Orang yang jarang menghitung dan melakukan aktivitas otsk, besar kemungkinan akan cepat pikun”

Bersih 

“Kebersihan lahir sering kali menjadi cermin kebersihan di dalam. Inti berislam adalah senantiasa membersihkan dan menyucikan diri dari dosa dan perbuatan keji”

Mudahnya Kebaikan 

“Orang selalu mengatakan bahwa untuk berbuat kebaikan itu butuh perjuangan. Padahal, berbuat jahat justru perjuangannya lebih berat”

Bohong 

“Berbohong dapat mengurangi daya ingat. Banyak berbohong akan menumpulkan otak dan mengacaukan logika. Jadi jika anak kita ingin pintar, ajarilah untuk tidak berbohong”

Terbaik 

“Andaikata manusia tahu kapan ia meninggal, ia bisa berleha-leha dahulu. Setelah dekat kematian baru ia bertobat, berbuat kebaikan dan beribadah ”

Terjajah Keinginan 

Puasa adalag metode yang dirancang oleh Allah SWT untuk manusia agar mampu mengendalikan diri dari berbagai keinginan. Selama satu bulan penuh, kita dilatih meredam berbagai keinginan, untuk diterapkan pada sebelas bulan berikutnya”

Cerdas Emosi 

“Puasa dapat meningkatkan derajat perasaan atau EQ manusia dan berpengaruh dalam pembentukan sifat-sifat seseorang seperti empati, santun, sabar, dermawan, kasih sayang dan peduli”

Hiburan 

“Mungkinkah orangtua mengikuti teladan Nabi SAW dalam mendidik anak-anaknya? Mereka diajari mengaji, dimaukkan ke sekolah terbaik, dan senantiasa dinasehati agar berakhlak mulia. Sementara tontonan buruk tiap hari tidak bisa dihidari”

Bagian Empat : Memotivasi

Hadapilah 

“Hanya satu kata “hadapilah”, tapi itu menjadi “mantra” ajaib hingga kini yang mampu membuat saya siap menghadapi apapun rintangan hidup saya”

Dorongan 

“Olok-olokan dan hinaan temannya hampir menenggelankannya pada rasa frustasi. Namun ibu dari anak laki-laki ini mampu menjadikan hinaan ini menjadi sebuah dorongan yang membuatnya melesat6 bagai anak panah”

Dukungan Seorang Ibu 

“Kesuksesannya merupakan buah dari perjuangannya selama bertahun-tahun. Namun yang paling berperan, menurut Mary, adalah dukungan ibunya saat ia masih kecil”

Sebuah Globe 

“Dalam keseharian, kita tidak menyadari bahwa apapun yang diberikan pada anak kita akan berpengaruh besar terhadap perjalanan hidup buah hati kita, baik yang bermanfaat ataupun yang merusak”

Metamorfosis 

“Bagaimana mungkin seorang ibu akan memompakan semangat tinggi pada anaknya untuk meraih cita-cita setinggi langit andai si ibu sendiri tidak lagi memiliki cita-cita”

Suka Cita dalam Pekerjaan 

“Jika Anda adalah orangtua yang justru amat mencintai pekerjaan, ajaklah anak-anak sesekali ke tempat kerja. Dengan semangat, Anda ceritakan seluk-beluk pekerjaan yang dilakukan setiap hari. Saat itu, sesungguhnya Anda tengah menanamkan pemahaman bagi anak tentang makna bekerja, bahkan membuat mereka melambung dalam cita-cita dan impian masa depan”

Kepuasan 

“Sejak kecil anak harus diajari bahwa mereka tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka harus belajar untuk menunda kepuasan (delay grafication)

Imajinasi 

“Pada dasarnya, anak secara alamiah memiliki kekuatan imajinasi, namun sayang justru orangtua atau guru bukan semakin menyuburkan melainkan memiskinkan bahkan mematikannya”

Indahnya Dunia Pengetahuan 

“Ketertarikan akan ilmu pengetahuan, akan sangat berpengaruh pada anak-anaknya. Bayangkan jika saat anak-anak belajar, orangtua turut larut kemudian mendiskusikan secara intens dengan segala gairah dan rasa ingin tahu yang tinggi”

Mencegah 

“Bukankah memberi peringatan dan mencegah kemungkaran adalah kewajiban setiap muslim? Namun, kebanyakan seolah kebal dengan berbagai gejala yang ada disekelilingnya”

Kegigihan 

“Anak-anak hampir selalu berhasil, meraih keinginan persistance (kegigihan) dalam mencapai tujuan. karena itulah hampir semua pengamat bisnis mengatakan bahwa kunci keberhasilan  dalam dunia bisnis adalah persistance”

Perjalanan Sang Waktu 

“Bagi masyarakat matrealistis, waktu berarti uang. Pada masa genarasi awal umat islam, waktu diibaratkan pedang, jika tidak mampu mengendalikannya bisa membunuh. Ada masyarakat kita, waktu diibaratkan karet, karena itulah muncul istilah “jam karet”

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

2 tanggapan untuk “Catatan Parenting 1 : Belajar Bahagia, Bahagia Belajar – Ida S. Widayanti”

Tinggalkan komentar