I Love Babywearers

phonto

“Saya percaya dengan menggendong secara tidak langsung kita memberitahu bayi bahwa ia tidak perlu khawatir. Karena ada orangtua yang menjaga dan menyayanginya. Ia bisa belajar menenangkan diri dari situasi yang tidak nyaman. Saya juga yakin, jika bonding bisa terbentuk lewat menggendong”

“Menggendong bayi, dapat memanjakan bayi dan membuat bayi menjadi bau tangan.” Mitos ini kerap kita dengar. Bahkan, sejak kecil saya sudah familiar dengan mitos ini. Sayangnya (he-he) saya tidak setuju dengan mitos ini 😁😁

Saat kecil, saya terbiasa digendong oleh embah. Sampai sekarang, memori itulah yang melekat dalam ingatan saya. Bangun tidur, saat sakit, dan kapanpun saya mau, embah dengan senang hati menggendong. Tidak hanya sekadar menggendong, embah juga kerap menemani bermain dan bercerita. Saya yang sejak kecil introvert, tentu terselamatkan dengan kehadiran embah. Itu pula, yang membuat saya bertekad untuk tidak ragu-ragu menggendong anak saya.

Ya, ketika stoller menjadi prioritas ibu muda, saya malah meniadakannya. Soalnya aya sudah mendapatkan lelesan dari kakak saya, ha-ha 😌😌. Alasan kedua, karena saya ingin banyak menggendong.

Pegel? bisa jadi. Tapi menggendong, sama dengan memeluk. Dan memeluk atau dipeluk itu menenangkan (buat saya🤗). Meskipun sudah sejak lama bertekad untuk banyak menggendong, saya tidak begitu mengetahui ilmunya. Tahunya, ya hanya sekadar menggendong.

Ternyata menggendong tidak asal-asalan. Bukan hanya itu, menggendong cara tradisional (yang biasa dilakukan dengan jarik) adalah cara gendong yang kurang tepat. Dan belakangan, saya dimasukkan dalam lubang kelinci oleh Mak Wiena. Jadilah saya makin keracunan gendongan.

Gendongan yang ergonomis tentu menjadi poin utama. Saya kutip ulasan dari web Indonesian Babywearers . Di web dijelaskan kenapa gendongan harus membentuk M-Shape. Yang dikatakan M-shape itu bagaimana? Saat bayi lahir, bentuk tulang belakang akan melengkung seperti huruf C. Ini yang disebut total kyphosis. Pada saat ini, otot-otot belum cukup kuat menopang tulang belakang. Usia 3-4 bulan, bayi mulai menegakkan kepala, otot-otot di leher mulai kuat, bentuk normal dari tulang belakang menyesuaikan lagi, namun tetap melengkung. Umur 8-9 bulan sudah mulai lebih kuat otot-otot menyangga tulang belakang, namun bentuk badan juga masih melengkung. Dan begitu seterusnya sehingga di usia 1 tahun ke atas, otot-otot sudah cukup kuat untuk menegakkan punggung (lihat gambar).

Saat kita menggendong bayi-bayi, sangat penting untuk menggunakan gendongan yang memungkinkan agar bentuk tulang belakang bayi masih dalam posisi melengkung, seperti natural bentuk punggung bayi. Kain/bahan gendongan yang dipakai harus menutupi seluruh punggung bayi sehingga bayi tidak terjungkal ke belakang dan menjaga agar posisi tulang belakang ini tetap melengkung.

Selain tulang belakang yang masih belum sempurna perkembangannya, tulang panggul bayi juga masih tersusun atas tulang rawan. Posisi sendi panggul ini akan menentukan perkembangannya, dan posisi yang benar adalah dengan membuka kedua paha bayi, paha disangga oleh body panel gendongan, lutut lebih tinggi, dan sendi panggul tidak ekstensi. Bagaimana jadinya posisi yang uenak dan uapik biar tulang belakang gak terganggu tumbuhnya, sekaligus sendi panggul gak geser-geser tempatnya?
Posisi M-shape adalah posisi ideal, dimana kedua sendi panggul tidak terganggu perkembangannya, sekaligus juga tetap menjaga agar bentuk tulang belakang tetap di posisi melengkung (sesuai bentuk anatomis bayi menurut umur). Perhatikan bahwa tidak ada yang menekan pantat bayi di bagian bawah, body panel bagian bawah juga lebar, kain/bahan gendongan bagian bawah menopang kedua paha, lutut menjadi lebih tinggi daripada pantat, dan punggung bayi akan melengkung, disangga oleh body panel/kain gendongan.
Sumber:

Ada beberapa jenis gendongan yang biasa digunakan. Dan saya memiliki beberapa di antaranya.
1. Stretchy Wrap
img_3720
Stretchy Wrap
Foto: Google

Gendongan jenis ini yang pertama kali saya miliki. Kenapa? Karena saya kerap melihat ketika anak sakit, metode kangoroo dilakukan dengan gendongan jenis ini. Dulu sekali saya sering merasa aneh dengan gendongan ini. Bisa jadi, karena baru gendongan ini yang sering saya lihat. Penggunaannya tentu memeluk erat anak. Saya sering merasa kasihan pada bayi yang digendong. Belum lagi kalau si penggendong bertubuh makmur 🤥 (kasih cermin ke muka sendiri). Gendongan ini saya beli, saat belum menikah. Jadi, yang jadi kelinci percobaan tentu para keponakan saya. Dan itu masih berlangsung sampai sekarang. Ha-ha. Gendongan ini bisa digunakan mulai newborn hingga anak usia 4 bulan. Meskipun pada keterangan pembelian, gendongan ini bisa digunakan hingga anak cukup besar. Namun review beberapa orang, semakin besar darn berat anak, maka gendongan akan semakin molor. Sehingga harus sering-sering membenarkan posisi gendongannya.

 2. Ring Sling
Ringsling Foto: Nana Mei Tai
Ringsling
Foto: Dok. Instagram @nanababycarrier
Sebagai seorang newbie, gendongan jenis ini saya rasa menjadi pilihan utama. Selain bentuk dan modelnya seperti gendongan tradisional, penggunaannya pun lebih mudah. Tinggal masukan bayi ke kantongan dan tarik sisa kain untuk mengencangkan. Secara waktu, gendongan ini cukup cepat digunakan. Meskipun cukup nyaman, gendongan ini hanya bertumpu pada satu bahu saja. Ringsling yang saya miliki merupakan produk dalam negeri, yaitu Nana Baby Carrier. Motif tenun khas Indonesia membuat ring sling ini sangat cantik. Pilihan warnanya pun cukup banyak. Kalau tidak salah, ada dua jenis ring yang ditawarkan. Yang besar dan kecil. Punya saya, besar atau kecil ya? (malah tanya).

Foto: Dok. Pribadi

Gendongan ini sudah saya miliki saat usia kehamilan 28 minggu. Jadi saat perut sudah mulai membesar, saya masih kesenangan menggendong keponakan saya, Billa. Dan saat Cinta lahir, ring sling yang selalu saya bawa kemana-mana. Bahkan sambil beres-beres rumah. Jadilah gendongan ini, cuci – jemur – pakai. Meskipun begitu, warna ringsling ini tidak pudar. Masih tetap sama seperti awal. Gendongan ini bisa digunakan mulai newborn hingga anak usia 5 tahun.

3. Soft Structure Carrier (SSC)
Foto: Dok. Instagram @nanababbycarrier
Foto: Dok. Instagram @nanababycarrier

Gendongan jenis ini, tentu saja menawarkan kemudahan dalam penggunaannya. Tinggal klik, gendonganpun terpasang. Nana Baby Carrier masih menjadi pilihan saya pada gendongan ini. Saya jatuh cinta pada motif etniknya. Dan karena saya pencinta warna hitam, tentu saja hitam yang saya pilih. Bahkan saya rela ikutan pre order. Padahal kalau tidak salah, Nana Baby Carrier sudah produksi gendongan. Jadi tidak menerima orderan. Beruntunglah saya, diberi kesempatan ikut memesan. Karena usia Cinta masih belum memenuhi syarat menggunakan SSC, kelinci percobaan masih tidak berubah, si Billa. Gendongan ini bisa digunakan mulai anak usia 4 bulan hingga 5 tahun.

 4. Meh Dai (Sebelumnya Mei Tai)
Meh Dai Foto: Dok. Instagram @nanababbycarrier
Foto: Dok. Instagram @nanababbycarrier

Sekilas gendongan ini sama dengan Soft Structure Carrier (SSC). Yang membedakan hanya pada panelnya. Meh Dai menggunakan tali panjang untuk mengencangkan gendongan. Ribet? Ya, untuk yang tidak biasa. Jika sudah biasa, mah pejam mata juga bisa yaa, hehe.

Awalnya, karena sumber racun (baca: Mak Dhan) memposting fotonya menggunakan gendongan jenis ini di grup. Saya pun latah penasaran. Saat itu belum kepikiran untuk membeli, karena masih setia dengan ring sling. Tapi karena Nana Baby Carrier memproduksi motif sapi, makin latahlah saya. Gendongan jenis ini menurut saya terasa lebih memeluk. Karena tingkat kekencangan lebih mudah kita atur. Gendongan ini bisa digunakan mulai anak usia 4 bulan hingga 5 tahun.

5. Woven Wrap
Foto: Dok. Instagram @omahgendongan
Foto: Dok. Instagram @omahgendongan

Semakin lama mengenal gendongan, tentu saja makin penasaran dengan jenis-jenis gendongan lain. Woven Wrap yang saya miliki merupakan hadiah dari Mak Yuyun, mak Awen, mak Hastin, mak Vera, mak Menik, mak Wiena, mak Reny, mak Chacha, mak Catri, mak Mels, mak Hilda, mak Sinta, mak Mira, mak Lucy dan mak Vendri. Mamak-mamak dari komunitas Ibu Menyusui. Woven wrap yang jadi pilihan adalah warna Lolypop milik Babywrap.com.my. Saya membelinya di Omah Gendongan. Begitu woven wrap sampai ketangan saya, langsung saja saya mengeksekusinya. Daaaaaaaaaaann, saya langsung jatuh cinta dengan gendongan jenis ini. Beban gendongan tersebar rata di pundak, punggung pun tidak mudah pegal. Ditambah lagi, bayi benar-benar seperti dipeluk. Bisa jadi nasib woven wrap akan sama seperti ringsling, cuci – jemur – pakai. Gendongan ini bisa digunakan mulai newborn hingga anak usia 5 tahun.

6. Pouch
Foto: Gogle
Foto: Google
Gendongan ini cukup simple. Anak tinggal dimasukkan ke dalam kantong gendongan dan selesai. Saya pribadi kurang tertarik dengan gendongan jenis ini. Karena  gendongan di sesuaikan dengan ukuran tubuh si penggendong. Di rumah saya, ukuran tubuh penghuninya nano-nano. Sulit kan memutuskan untuk membeli ukuran yang mana. Gendongan ini bisa digunakan mulai anak usia 4 bulan – 5 tahun.
Setelah memiliki beberapa jenis gendongan, di usia Cinta saat ini ringsling dan woven wrap banyak saya gunakan. Namun, ketika cinta makin besar nanti, bisa jadi saya semakin kebingungan akan menggunakan gendongan yang mana.
avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar