Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangun komunikasi dengan anak. Meski selalu bersama Cinta, saya tetap membutuhkan waktu yang berkualitas dengannya.
Kebetulan mendekati hari Lebaran, kue kering menanti kami dengan riang. Ya, tradisi setiap tahun yang selalu keluarga saya lakukan. Err, tahun lalu sih gak, saya memilih membeli, haha.
Karena tahun ini merasa mampu, maka saya membuatnya. Lalu bagaimana Cinta. Saya pun mengajaknya terlibat dalam proses pembuatan kue. Seperti menumpahkan gula halus dari gelas ke wadah, menaburi bulir-bulir berwarna (lupa namanya 😅). Bahkan saat menggunakan mixer, Cinta juga ikut memegangi.
Kotor? Pasti. Kita yang orang dewasa saja, pasti kesulitan untuk tidak berhamburan. Apalagi Cinta yang usianya masih 17 bulan. Tapi, pengalaman ini yang ingin saya berikan.
Berkaca dari pengalaman saya saat kecil. Ibu, selalu melarang saya untuk membantu melakukan pekerjaan di dapur. Saya paham, kalau itu bentuk sayang ibu. Ibu tidak ingin saya kotor-kotoran, ingin kuenya sesuai bentuk dan rupa yang diinginkan, dan ingin pekerjaan cepat selesai.
Tapiiiiii, saya tercetak menjadi perempuan yang tidak bisa masak. Saya benar-benar terjun ke dapur, 2 tahun sebelum menikah. Itu pun karena ibu tidak bisa lagi terjun ke dapur karena mengurus bapak.
Syeediiih. Untuk mama mertua tidak mempermasalahkan. Pyuuuuhhhh.
Oh iya, alasan lain saya mengajak Cinta turut partisipasi membuat kue, agar dia banyak melakukan kegiatan dengan sentuhan. Anak seusianya selalu ingin tahu, selalu ingin menyentuh dan memindah-mindahkan sesuatu. Maka inilah saatnya.
Diomelin uti dan ibu ika? Cuekin saja! Saya malah mengajak kakak-kakak yang lain.


