Di hari ke 8 tantangan komunikasi produktif, ternyata kurvanya naik turun. Ya iya sih, anak-anak kan unik. Setiap saat selalu belajar hal baru.
Seperti hari ini, setengah hari kami dilakukan di luar rumah. Tentu, ini tantangan yang cukup besar untuk saya. Dimana, kesabaran yang paling diuji. Mau langsung menuruti atau bersepakat dulu.

Setelah sampai di rumah, saya memutuskan mengajak Cinta bermain Jenga sebentar. Sebenarnya sih biar saya bisa leyeh-leyeh 😆. Supaya lebih ramai, sama mengajak dua abang sepupu Cinta yang tinggal di sebelah rumah.
Jika menurut keterangan kotak permainan, permainan ini memang belum waktunya Cinta mainkan. Tapi, yang ada dibayangan saya, Cinta memainkan terserah dia. Akan dibuat apa balok kayu tersebut? Silakan berkreatifitas.

Sesaat sebelum kami memulai permainan, Cinta ingi menggunakan balok kayu.
“Kak, dibagi yaa. Mama dan abang mau main juga,” kata saya.
“Cinta mau bikin rumah maa,” kata Cinta.
“Silakan sayang, mama pinjam sedikit yaa,” tanya saya.
“Oke”
Benar saja, meski hanya disusun berjajar Cinta menganggap kayu-kayu tersebut Dinding rumah. Ia membayangkan warna dinding dari masing-masing rumah. Bahkan, ia menyebutkan siapa-siapa saja pemilik rumahnya.
Tapi, ketika di tengah-tengah permainan, ternyata si abang ingin ikut bermain. Si abang menyusun balok menyerupai kerangka rumah. Cinta ingin mencoba hal yang sama, tapi tak kunjung berhasil. Iapun berteriak kesal.
“Cinta kenapa? Kesal ya baloknya jatuh terus,” kata saya mencoba berempati.
“Kayak manaaaa? Cinta gak bisa!” Kata Cinta.
“Bisa kok, pelan-pelan ya. Mama bantu boleh?” tanya saya. Cinta mengangguk setuju. Sayapun mengarahkan Cinta membuat balok berdiri tegak. “Yeay, Cinta bisa. Kalau sabar dan perlahan-lahan pasti bisa kok,” kata saya menyemangati. Cintapun melanjutkan bermain balok kayu.
