Kaulah matahariku
Dan kaulah samudra
Tempat hatiku bermuara
Merindukan hadirnya buah hati di saat hati gundah sejak kepergian bapak, memang tidak mudah. Sosok yang ternyata memenuhi ruang di hati. Ruangan yang kukira telah rusak tak berpenghuni.
—-
Memiliki anak dengan usia yang tidak terpaut jauh sebenarnya sudah jadi rencana saya dan suami. Selesaikan ASI hingga dua tahun, maka kami sudah siap menghadirkan seorang adik untuk Cinta. Meski masih kecil, saya tetap bertanya pada Cinta apakah kehadiran seorang adik ia rindukan?
Seperti Cinta, nama Rangga kami pilih sejak mengetahui jenis kelamin bayi lewat hasil usg. Norak? Mungkin 😹. Penggemar AADC? Gak juga. Meski banyak yang menganggap seperti itu. 🤣 tapi percayalah, sebenarnya bukan karena AADC saya memutuskan memberi nama Cinta dan Rangga.
Perjalanan kehadiran Rangga di keluarga kami, cukup jauh berbeda dengan Cinta.
Jika dulu, saat hamil Cinta saya bisa mempersiapkan diri dan kehamilan dengan maksimal. Kali ini, saya harus bisa mentoleransinya. Rangga, sudah belajar berbesar hati sejak dalam kandungan.
Misal, kami harus mengalah dengan menyuapi kakak terlebih dahulu. Jadi biasanya, saya udah (merasa) setengah kenyang duluan saat makan untuk diri sendiri. Jika dulu, berangkat yoga dengan motor adalah hal yang wajib, di kehamilan Rangga saya harus menuruti permintaan suami dengan di antar mobil. Karena Cinta juga ingin ikut, meski saat saya yoga mereka menuju destinasi lain. Terlebih lagi saya juga mengganti jalan pagi dengan jalan sore atau jalan ke mal 🙈. Kenapa? Karena jam tidur Cinta yang sempat berantakan. Sehingga, saat pagi hari saya lebih memilih tidur. Dari pada ambruk di jalan kan 🤪. Banyak hal, yang membuat saya dan Rangga harus mengikuti kondisi yang ada. Namun, seperti orangtua lainnya, saya selalu panjatkan doa terbaik untuknya. Begitu pula saat hari persalinan tiba, Rangga dengan gagah membuktikan bahwa ia mampu menjaga saya dan kakaknya. Saat sang papah sedang bertugas di luar kota, Rangga lahir dengan gagah perkasa.
Kembali bersalin di Griya Bunda Sehatpun tetap jadi list teratas. “Gak mau pindah tempat lain,” tanya suami. “Buat apa?” Saya balik bertanya. “Ya kali mau pindah. Kalau kakak sih ya mending di sana. Udah tau gimana saat lahiran Cinta dulu,” jawabnya. “Melahirkan di rumah aja deh,” kata saya. “NOOOOOO. Nanti malah panikan. Kalau di GBS kan semua sudah tersedia,” jawab suami.
Di kehamilan kali ini sayapun sengaja mengurangi frekuensi ke dokter kandungan. Kenapa? Karena anak kedua? Gak juga sih. Saya hanya ingin GBS punya catatan lengkap mengenai perjalanan kehamilan saya. Tidak seperti saat Cinta dulu. Meski pun dulu mbak Neny tetap memantau secara pribadi. Mengurangi ke dokter spesialis kandungan juga karena saya malas mengantri. Pak dokter cukup favorit, jadi yang antri puaaaaaannjaaaaaang daaan laaaaamaaaaaaa.
HPLnya Kapan?
Saya kerap mendapatkan pertanyaan seperti itu. Biasanya jawaban saya gak tau, hpl dokter dan hpht beda soalnya. Terpaut dua mingguan. Saya sih penginnya sesuai hpht. Kenapa? Karena gak sabar pengin gendong bayi. Sedang suami, berharap hpl mendekati usg. Karena dekat dengan hari kemerdekaan. Ha-ha.
Bingung dengan hpl ikut memengaruhi keputusan lain. Misal mencari perlengkapan bayi, start PR-PR, serta pekerjaan suami. Apalagi, keluarga suami juga akan mengadakan pernikahan, rencana persalinan saya cukup membuat mereka bingung. Karena berharap besar kehadiran kami suami di acara pernikahan.
Menikmati Kehamilan
Di kehamilan Rangga pula, saya akhirnya bisa menikmati kembali yang namanya massage. Duuuhhhh, bahagiaaaas rasanya. Karena terakhir massage (yang buat santai-santai) waktu masih kerja. Setelah kelahiran Cinta ada sih saya massage dan sejenisnya, tapi lebih karena saya capek banget atau sakit. Lebih asyik kan kalau massage emang buat memanjakan diri.
Di usia 37 minggu, saya juga memulai massage induksi (sebelumnya pijat hamil biasa). Melalui home care GBS spa, saya mendapatkan terapis -mbak Ifa-, yang ramah kebangetan dan cocok untuk saya. Di usia kehamilan 39 minggu, saya kembali melakukan massage induksi. Niatnya sih memang memancing induksi. Sehabis pijat, saya memang sedikit merasakan gelombang-gelombang (adeknya) cinta. Namun, saat itu saya pikir hanya palsu. Jadi tidak terlalu saya rasakan. Selain itu, saya juga sengaja untuk ngemil nanas dan mangga (yang mangga mah emang doyan).
Cek Lokasi Acara Pekan Menyusui Sedunia
Di bulan Agustus ini, bukan hanya saya yang mengalami gelombang (adiknya) Cinta. Tapi teman-teman di FormASI Balikpapan juga merasakan sensasi serupa. Pasalnya di tanggal 4 Agustus, diadakan talkshow Pekan Menyusui Sedunia 2019. Yang bikin mules, karena banyak SDM yang tidak bisa hadir (ternyata saya salah satunya, ha-ha). Untunglah, mereka memang tidak mengharapkan kehadiran saya karena HPHT di awal agustus. “Dari pada nyuruh dia, terus tau-tau, dia melahirkan. Bingung kita,” ujar mak Yun.
Karena masih yakin belum waktunya, hari Jumat saat cek lokasi, saya ikut hadir bersama ibu dan Cinta. Saat di lokasi, gelombang (adeknya) cinta hadir tiap 10 menit sekali. Tapi durasinya tidak panjang. Dan saya juga masih merasa biasa saja.
“Eh jangan goyang-goyang dong. Nanti brojol di sini,” kata mak Catri saat melihat saya menggerakan pinggul. Gerakan yang sebenarnya tanpa sadar saya lakukan. “Ya gak apa-apa. Kalau mau melahirkan aku tinggal pergi nih. Koper udah di mobil juga,” jawab saya.
Pulang dari cek lokasi, saya masih menikmati es cream dulu. Di perjalananpun setiap gelombang (adeknya) cinta datang saya masih bisa menyetir mobil. Berani amat! Soalnya saya sambil simulasi 🤣. Berniat menyetir mobil ke GBS sendiri. 🙈✌🏻
Yank, kayaknya malam ini pulang deh!
Begitu chat saya kirim ke suami, telpon segera berdering. Serius! Udah berasa banget. Masih bisa ditahan? Ini kalau pulang sekarang sempat gak ya. Pertanyaan bertubi dari suami muncul. Saat pagi hari akan berangkat ke Samarinda suami sebenarnya ragu. Berangkat atau tidak.
“Dari dini hari sih berasa gelombang (adeknya) cinta. Tapi belum ada flek sampai sekarang. Ya udah pergi aja. Gk apa-apa,” kata saya meyakinkan suami. Sebenarnya saya sendiri juga tidak yakin sih. 🤣🤣🤣🤣
“Lahirnya tunggu papah pulang aja ya de,” kata suami.
“Hussh, ya suka-suka dong ade mau lahir kapan,” jawab saya segera.
Nenek Panik!
Sesampainya di rumah, gelombang (adeknya) cinta mulai sering. Sayapun menggunakan dua aplikasi penghitung. Satu di halo GBS dan satunya aplikasi kehamilan. Kok dua. Gk apa-apa, soalnya halo GBS baru bisa di android 😬😬.
Selepas magrib, Cinta mengajak saya untuk membaca buku bersama. Seperti biasanya ada 10 buku yang minta dia bacakan. Sembari sesekali menikmati gelombang cinta yang hadir, saya masih membacakan Cinta buku. Tanpa disadari Cinta ketiduran. Saya? Sempat ikut ketiduran juga. Terbangun saat gelombang cinta hadir. Saya kembali menghitung dengan aplikasi dan melaporkannya ke mbak Neny. Tidak sampai lima menit, tapi durasi hanya 1 menit lebih sedikit. Mbak Neny, meminta saya untuk ke GBS saja, setelah saya katakan ada sedikit darah keluar setelah saya BAB tadi. Apalagi menurut mbak Neny rumah saya dan jarak GBS yang gak dekat-dekat banget. Sayapun memberi tahu ibu untuk bersiap.
PANIK KAPTEN! Sebenarnya saya pengin ketawa cekikikan melihat reaksi ibu. Sudah terbaca. Ibu akan panik. “Ibu belum siap-siap de. Belum sholat. Kayak mana ini,” kata ibu saya.
“Siap-siap aja. Sholat dulu. Masih tahan kok. Lagian mbak neny nyuruh ke GBS supaya gampang observasinya,” jawab saya tenang. Errr, mencoba tenang mungkin. Biar nenek gk makin panik. Jam 9 malam, sayapun mengorder taksi online. Wajah drivernya agak pucat, karena mengantarkan ibu yang mau bersalin. 🤣
“Saya tadi juga habis ngantar ibu mau bersalin juga mbak. Tapi cuma di RSKD. Ini kenapa mbak jauh bener. Kalau saya terlalu ngebut, terlalu kena guncangan, tegur aja ya mbak,” kata masnya. Dari bahasanya terlihat tenang. Meski raut wajahnya terlihat panik 😹.
Driver sedikit agak tenang karena sepanjang perjalanan saya masih bisa mengobrol. Padahal dia gak liat aja, tiap gelombang (adeknya) cinta muncul, saya menggoyangkan pinggul ke kanan dan ke kiri.
Bahkan saat sampai di tujuan, saya mau menurunkan sendiri koper dan tas-tas. “Mbak, biar saya aja. Mbak masuk aja duluan,” kata masnya.
Stay Cool
Sesampainya di GBS saya masih berusaha terlihat santai. Berusaha? Iya berusaha. Pengalaman bersalin Cinta yang tidak langsung ketika sampai di GBS membuat saya tidak mau kepedean. Siapa tau, sama seperti Cinta ada waktu yang perlu saya tunggu. Jadi, oleh Bidan Ayu saya diperiksa dulu di ruang periksa. “Sudah hampir bukaan lengkap mbak,” kata bidan Ayu. “Hah!!” Sayapun terkejut. Tak menyangka secepat itu. Tapi saya tak mau langsung kegeeran. Karena saat persalinan Cinta dari bukaan lengkap sampai bersalin, ada waktu dua jam yang harus saya lalui. Sayapun mengabari suami sembari menunggu sebentar di ruang suci aka ruang bersalin disiapkan. Tidak sampai lima menit, saya diminta ke ruang bersalin.
Tapiiiii, lima menit saat sendirian itu saya merasa benar-benar sendiri. Sunyiiiiiiii. Saya sempat takut mellow. Apalagi tanpa suami yang menemani persalinan kali ini. Dan karena hasrat mengejan muncul, saya langsung cepat-cepat menyalakan Hypnobirthing yang saya simpan di HP. Saya sampai gk liat-liat lagi, mana yang mesti saya dengarkan. Pokoknya puter aja. Ha-ha. Ketika sendirian itu, saya juga sedikit panik sebenarnya. Takut nafas bubar barisan aka berantakan dan takut tiba-tiba “kesurupan” 🤣.
Untunglah, gk perlu waktu lama. Saya diminta ke ruang suci. Sayapun disambut mbak Neny, bidandari kesayangan yang selalu saya sebut dalam setiap doa selama kehamilan.
Melihat saya yang santai, mbak neny pun membuka sarung tangannya. “Rebozo dulu yuk. Katanya Ayu kepala masih tinggi,” kata mbak Neny. “Dimana mbak? Posisinya kudu gimana nih,” tanya saya kebingungan. Ditengah kebingungan itu, hasrat mengejan kembali muncul. Mbak nenypun meminta saya naik ke tempt tidur bersalin saja. Dia mau cek lagi sendiri. Baru merebahkan diri, tiba-tiba saya mengejan tanpa diminta, tanpa bisa ditahan. Seketika cairan hangat mengalir di paha. Sayapun kembali mengatur nafas. Dan tiba-tiba, ada yang nongol 🤣🤣🤣.
Sayapun kembali mengatur nafas sambil membatin “yaelaahh, hape nenek bunyi mulu. Siapa sih yang telponin 🤦🏻♀️🤦🏻♀️.” Ibu saya memilih memunggu di ruang tunggu bersama Cinta. Bukan karena harus menjaga Cinta, tapi ibu gak berani. 😹😹
Tidak lama kemudian, Ranggapun lahir. Disambut dengan kebahagiaan yang membuncah. Sayapun segera menelpon suami dan mengatakan bahwa saya dan rangga telah terlahir kembali. Suami langsung mengubah panggilan telpon ke video call. Muka bahagia campur sedih. 😅
Bahagia karena jagoannya lahir, sedih karena tidak bisa menemani. Padahal, malam sebelumya kami sedang simulasi posisi bersalin. Suamipun sesegera mungkin menuju kota Minyak. Beruntung saya, sudah membayangkan kalau persalinan ini akan terjadi. Jika suatu saat saya bersalin dan suami tidak bisa menemani, maka saya harus ……..
Ya, saya memang suka membayangkan kejadian-kejadian yang belum terjadi.
PR! PR! PR!
Bisa bersalin dengn waktu singkat, menurut saya bonus yang luar biasa dari Allah SWT. Bonus? Berarti gk kerjain PR? Oh tentu dikerjakan. Tapi saya merasa kalau kurang maksimal dalam pengerjaannya. Seperti jalan pagi yang amat minim, yoga yang baru di mulai saat usia kehamilan 32 minggu. Dan masih banyak lagi. Makanya saya bilang ini bonus. Meski untuk mendapatkan bonus ini, saya tetap harus berusaha keras versi saya.
Alhamdulillah, masya Allah, doa yang saya ucapkan berulang kali dikabulkan. Salahsatunya adalah bersalin express. Sampai GBS bukaan lengkap dan bayi tinggal meluncur. Allahu Akbar. Maha Besar Allah. Atas izinnya, saya kembali mendapatkan bonus yang luar biasa.
Tapi kan yang namanya bonus itu tetap perlu usahakan ya? 😁😁😁😁 Allah gk mungkin ksih bonus kalau hambanya tidak mau berusaha.
Dan di bulan Kemerdekaan ini, perjalanan kami berlayar di samudera kehidupan pun di mulai. Selamat berlayar Rangga, merdekalah menghirup udara. Merdekalah meraih kebahagianmu. ⛵️⛵️⛵️⛵️⛵️⛵️