Memasuki usia Rangga 9 bulan, saya tidak sengaja melihat postingan story mbak Jannah, salahsatu influencer kota Minyak, yang juga teman saya di beberapa komunitas. Mbak Jannah sedang memulai program menurunkan berat badan menggunakan Herbalife. Iapun memention coachnya, Mbak Wulan.
“Wah, mbak Jannah mulai program. Pengin juga eh,” batin saya kala itu. Tapi, hati dan jari saya belum tergerak untuk memulainya (Mulai follow dan tanya-tanya).
Setelah ketiga kali melihat postingan mbak Jannah, yang menjalani program dengan BAHAGIA, sayapun memfollow mbak Wulan. Eh, dengan ramah mbak Wulan langsung menyapa saya di DM Instagram. Sayapun dengan sok akrab langsung mengutarakan keinginan saya menggunakan herbalife.
Oh iya, tahun 2013, saya pernah niat banget buat menurunkan berat badan dan menerapkan hidup sehat yang setengah-setengah. Yoga, pilates dan bersepeda adalah olahraga pilihan. Hampir setiap harinsaya berolahraga. Kecuali hari Sabtu, karena paginya ada rapat di kantor. Sayapun mengimbanginya dengan konsumsi herbalife. Saat itu, berat badan bisa turun ke angka normal yaitu 53-54 kg.
Tapi karena tanpa pendampingan dari coach herbalife (belinya sama teman sekantor), sayapun stop karena sudah merasa puas. Mestinya yaaa gk asal stop juga sih. Apalagi setelah resign, saya masih belum bener menerapkan pola makan. Pokoknya dulu konsumsi seenak udel deh. Bahagianya pun setengah-setengah. Hahaha. Jadi si lemak-lemak ini kembali ke 58 (berat awal saat mulai minum herbalife).
Jadi di pertengahan Ramadan, sayapun memutuskan memulai program dengan herbalife. Sebenarnya saat puasa, berat badan saya mulai turun, dari 67 kg, menjadi 66 kg. Tapi, saya tetap semangat memulai program karena ingin membiasakan hidup lebih sehat sampai Ramadan berlalu.
Berat badan saat memulai program adalah 65,2 kg. Saat sahur saya mengonsumsi shake dan ppp. Tak hanya itu, sayapun diundang di grup whatsapp yang isinya teman-teman yang sedang memulai program. Selain itu, beberapa coach herbalife di Balikpapan juga tergabung. Jadi setiap hari kami diberikan edukasi mengenai diet yang sehat. Jadi bukan promosi produknya. Tapi benar-benar memberikan edukasi. Yaaa, kalau tidak lanjut program, kita tetap bisa menerapkan pola hidup sehat dari edukasi yang diberikan.
Mbak Wulan, rajin sekali mendampingi saya dan teman-teman lain. Pertanyaan yang paling sering ditanya ke saya adalah “Gimana mbak, happy gak menjalaninya?” HAPPY DONG. Karena sering ditanya happy atau gak, kalimat itu jadi seperti mantra buat saya. Kalau mood program mulai turun, sayapun bertanya sama diri sendiri. “Bahagia? Kalau gak bahagia, gimana bisa target programnya terpenuhi?”
Berat badan saya saat memulai challenge adalah 64,1. Setelah 10 hari menjalani program, berat badan turun 1,6 kg. Sehingga menjadi 62,5 kg. Wohoooooo 😱😱😱.

Saat ini, sayapun melanjutkan program di 21 daya challenge bersama beberapa teman seperjuangan. Menyenangkan rasanya, karena memiliki teman-teman yang juga sedang berjuang. Hasil dari program tiap orang memang tidak sama. Tapi, menikmati setiap prosesnya, menjadikan program ini lebih terasa berarti.
Nanti, saya akan tuliskan lagi bagaimana pengalaman di 21 days challenge herbalife yang sedang saya jalani.
