Alih Fungsi Ruang Tamu

Rumah orang-orang Indonesia, kebanyakan memiliki ruang tamu di bagian depan. Fungsinya temtu saja untuk menerima tamu. Baik yang beneran tamu atau keluarga. Begitu pula dengan rumah saya.

Meski, diperjalanannya kedatangan keluarga tidak lagi kami terima di ruang tamu. Pasti langsung menuju ruang tv (yang sekaligus ruang keluarga). Saya yang orangnya pemalu (🤪), tentu sering “komplen” soal ruang tamu. Kenapa? Karena memang tidak pernah ada tamu yang berkunjung 😂. Teman-teman saya bisa dihitung jari. Kalaupun kami berkumpul, pasti akan memilih tempat yang cukup luas (rumah dan parkirannya) serta anak-anak mudah bermain. Begitu pula dengan teman-teman ibu saya. Tidak ada kunjung mengunjungi. Ditambah lagi, pandemi ini membuat kami memang tidak mungkin kedatangan tamu. Dalam setahun, kedatangan tamu bisa dihitung dengan jari deh.

Saya sudah sering menyampaikan usulan untuk mengubah alih fungsi ruang tamu. Namun sebagai Ratu di rumah tentu ibu saya tidak setuju. Ruang tamu tetap harus jadi ruang tamu 😂. Hingga suatu hari, saya berkata “Ade sholat di ruang tamu aja deh. Di ruang tengah banyak yang lewat-lewat. Gk enak juga,”

Jadilah ruang tamu saya berubah menjadi mushola dadakan. Sholat jadi lebih tenang karena tidak ada yang seliweran lagi.

Tapiiiiii, sebagai manusia yang suka mencari cara untuk self healing, sayapun kembali mengusulkan untuk mengubah alih fungsi ruang tamu sebagai ruang bermain. “Lah, nanti sholatnya terganggu anak-anak main lho” kata ibu saat saya mengutarakan niat. “Iya, tapi kan mereka mainnya di belakang Riska. Bukan di depan mah. Beda kalau sholat di ruang keluarga. Lagian, kalau mereka berhambur di ruang tamu, nenek buka pintu kamar gk bakal ngomel. Kan yang berhambur gak keliatan,” jawab saya.

“Boleh yaaaaa. Ibu taulah anak ibu ini suka geser-geser. Kalau bosan kan nanti dibalikin lagi,” pinta saya.

Akhirnya usai sholat subuh, dibantu Cinta, kami menggeser-gerek rak buku serta mainan. Kursi dan meja tetap disediakan atas permintaan ibu Ratu. Tapi meja jadi tempat meletakkan pupuh 🤣. Jadi, jika suatu hari ada tamu dadakan, terap bisa kami sambut di ruang tamu.

Btw panggilan saya ke ibu memang suka berubah-ubah. Kadang manggil mamah, ibu, nenek, mami, suka-sukalah.

Setelah seminggu alih fungsi, sayapun merasa lebih nyaman. Meski berhambur (ya gak mungkin rapiii kaleeeeee), tapi tidak lagi seperti kapal titanic. Sirkulasi udara menurut saya juga jadi lebih nyaman, karena saat bermain kami membuka pintu. Udara yang masuk dan keluar lebih banyak.

Yeaaay 🥳🥳🥳

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar