Tas Kulit Lokal

Apa yang ada dibenak Anda, saat mendengar tas kulit? Mahal, awet, dan masih banyak lagi. Pecinta tas kulit, terutama kulit sapi, sangat banyak. Bahkan, di beberapa grup Facebook, penggemarnya rela waiting liat demi mendapatkan tas idamannya.

Saya mengenal tas kulit, di tahun 2012. Saat itu, saya tidak sengaja masuk ke toko Java Kulit. Saya kepincut dengan model backpack. Harganya sangat mahal untuk ukuran saya yang masih mahasiswa dan bekerja dengan gaji UMK 🤣. Saya bisa membelinya dengan cara mencicil ke ibu. Cicilan paling menyenangkan. Tanpa bunga, tanpa patokan nominal tiap bulan 😆.

Tas kulit tersebut, sampai sekarang masih layak digunakan. Memang dibagian talinya ada bagian yang terkelupas. Tapi untuk body tas sendiri, masih sangat bagus. Padahal saya tidak memperhatikan penyimpanannya.

Tas kulit kedua yang saya miliki merk Kaynn. Gara-gara postingan seorang seller make up korea. Sayapun jatuh cinta pada beberapa model tas kulit milik kaynn.

Ada juga tas kulit milik Radoce Jogja, yang saya miliki. Ini karena rekomendasi seorang teman yang koleksi tas-tas kulit. Sebenarnya dia juga merekomendasikan Abekani. Tapi, saya tak sanggup rebutan waiting listnya. Radoce cukup terjangkau, namun pengerjaannya yang pre order memakan waktu lama. Saya kurang sabar kalau ikutan PO. Emang sih, gk teror sellernya, tapi kan gemes pengincepat-cepat pakai. Wkwkwk

Nah, tas kulit berikutnya karya Rosie Craft. Pengrajin tas ini berasal dari Balikpapan. Enaknya lagi, kita bisa custome ingin model seperti apa tas-tas yang kita inginkan. Jenis dan kualitas kulitnya pun bisa kita pilih sendiri.

Selain kualitas, modelnya dan harga, buat saya layanan setelah berbelanja juga sangat penting. Sampai saat ini, saya baru berkomunikasi dengan Kaynn. Karena produknya yang ready stock. Jadi mau tanya-tanya, atau kasih kesan-kesan tas kulit setelah pemakaian, tetap asyik.

Dan tas kulit dari kaynn jadi top list dan masih saya inginkan model-model lainnya. 🙈

Koleksi tas merk kaynn. Merk terfavorit saya
avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar