Jelajah Kota : Lampion Garden Samarinda

Kota Samarinda. Kota yang terkenal dengan sebutan kota tepian. Samarinda memang berada di tepian sungai Mahakam. Sungai terpanjang di Kalimantan Timur. Samarinda sendiri memiliki memiliki banyak sungai. Menurut wikipedia, ada 27 sungai alam di Samarinda.

Samarinda punya ciri khas sendiri. Di kota ini, kebudayaannya cukup kental. Meski berbahasa Indonesia, masyarakatnya biasa dengan logat banjar. Jadi kalau berkunjung ke Samarinda dan Kalimantan Selatan, hampir tidak ada bedanya.

Yang menarik, di Samarinda sekarang memiliki banyak taman terbuka hijau. Bahkan, di sepenjang tepian mahakam, yang jadi pemandangan depan kantor pemerintahan, di ada taman-taman hijau berjejeran.

Dulu, ada banyak pedagang kaki lima yang bisa menjajakan dagangannya. Namun di tahun ini taman-taman tersebut sangat tertib. Tidak ada lagi pedagang kaki lima di sana. Pengunjung bisa menikmati taman tanpa harus jajan.

Tak perlu khawatir, ada satu taman yang tidak membuat kita kelaparan. Lampion Garden namanya.

Aku pertama kali menjajakan kaki di lampion garden tahun 2018. Tujuannya tentu saja mengajak Cinta jalan-jalan. Ada banyak ornamen-ornamen khas negara yang dibuat dari lampion. Seperti Singapura, Menara Eifel dan masih banyak lagi.

Kunjungan berikutnya aku lakukan di tahun 2022. Tentu saja ada banyak perubahan. Ornamen yang dulu ada, berubah. Namun, stand warung dan becak masih ada. Jika dulu di dekat pintu keluar ada banyak permainan anak seperti pasar malam, kali ini area tersebut diganti oleh stand kuliner. Jadi; pengunjung tak akan kelaparan.

Selain itu, perubahan yang terjadi adalah kebun kelinci. Di sini, anak-anak bisa memberikan kelinci makanan. Tentu saja makanan tersebut dijual. Cinta dan Rangga cukup lama berada di tempat ini.

Untuk harga tiket masuknya sebesar Rp 15.000/orang. Jadi baik anak-anak dan dewasa memiliki tarif yang sama. Hanya anak berusia di bawah 2,5 tahun yang tidak perlu membayar tiket. Untuk biaya parkir, tak ada tarif khusus.

Para petugasnyapun sigap dan ramah. Saat keluargaku memilih untuk tidak melanjutkan ke stand kuliner, mereka memberikan jalan pintas menuju parkiran.

Penampilan lampion di Lampion Gerden
avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar