Mengelola Menu Sehat Sekeluarga – Sesi 1

Pernah kebingungan mau masak apa hari ini? Atau menunya itu-itu saja? Lalu apakah sudah yakin menu yang disajikan sehat untuk keluarga di rumah? Untuk menghilangkan rasa penasaran dan kegelisahan tersebut, sekaligus menyemarakkan beaThreeful – 3 Tahun IP Balikpapan Raya, HIMA IPBaRa mempersembahkan kelas zoom “Mengelola Menu Sehat untuk Sekeluarga”. Pematerinya adalah Pramita Sari, member IP Tangerang Selatan.

Untuk diketahui, Pramitha Sari adalah seorang dietisien. Selain itu, perempuan yang akrab disapa Mitha ini juga founder dari Ngasi Yuk, Keluarga Peduli ASI, Sisterhood, Bersama Atasi Stunting, dan Konselor Laktasi.

Lanjutkan membaca “Mengelola Menu Sehat Sekeluarga – Sesi 1”

Apa Cita-Citamu?

Bertanya mengenai cita-cita pada anak-anak, terutama di bawah lima tahun sungguh hiburan yang menyenangkan. Bagaimana tidak, kebanyakan dari mereka menjawab cita-cita karena kagum pada profesi tertentu. Aku sendiri punya banyak cita-cita saat kecil dulu.

Pernah suatu hari (eh sering sih) aku bertanya pada Rangga “Rangga, kalau sudah besar mau jadi apa?”. Tak ada harapan yang muluk pada jawaban yang akan dilontarkan Rangga. Aku hanya sekadar bertanya.

Lanjutkan membaca “Apa Cita-Citamu?”

Pengalaman Vaksin Covid-19 (1, 2 dan Boster)

Sudah vaksin kah Anda? Mudah mendapatkannya? Atau cukup kesulitan? Saat vaksin dosis pertama, aku dan ibu cukup kesulitan mendapatkannya. Perlu “perang” saat mendaftarkan diri. Padahal sudah sering berlatih “perang” saat belanja. Qadarullah, masih masuk dalam daftar antrian yang cukup jauh.

Alhamdulillah, tak terlalu lama aku dan ibu mendapatkan vaksin dosis pertama. Bagaimana efeknya? Setelah vaksin, aku sangat mengantuk. Dalam perjalanan pulang, aku tertidur di kursi penumpang. Memang sih, waktu vaksin bertepatan dengan jadwal aku tidur siang ✌🏻. Sedangkan ibu, langsung merasa lapar. Setelah sholat isya baru ibu merasa ngantuk dan tidur pulas sampai waktu subuh.

Lanjutkan membaca “Pengalaman Vaksin Covid-19 (1, 2 dan Boster)”

Ultra Moist MS Glow

Lama sudah aku tidak menggunakan cushion dalam pilihan rangkaian kosmetik yang kugunakan. Sejujurnya sejak 2017, kosmetik yang aku gunakan hanya liptint, lipstick dan eyeliner. Kenapa? Karena aku suka melihat teksture kulit asliku. Selain itu, wajahku yang normal cenderung kering tapi mudah keringatan ini sering membuat kosmetik mudah luntur. Sunscreen adalah jalan ninjaku. Ha-ha.

Lanjutkan membaca “Ultra Moist MS Glow”

Ibuku, Sahabat Terbaikku

Pernah berpikir akan bersahabat dengan ibu sendiri? Aku tidak. Aku memang mengidolakan ibu sejak kecil. Tapi tak pernah berpikir akan menjadikan ibu sebagai sahabat. Yang kupahami dulu, orangtua tidak bisa menjadi sahabat anaknya.

Saat SMA, aku pernah memiliki teman yang sangat akrab dengan ibunya. Awalnya aku hanya mendapatkan ceritanya dari teman-teman yang lain. Sampai suatu hari, aku berkesempatan untuk berkunjung dan melihat sendiri bagaimana temanku dan ibunya sangat akrab. Temanku tak pernah ragu menceritakan apapun  pada ibunya. Soal temannya, sekolah, bolos bahkan pacar-pacarnya. Ibunya? Mendengarkan dengan seksama dan sesekali mengolok anaknya. Seakan mereka sebaya. Meski begitu, temanku tak pernah kehilangan kesopanannya. Tetap terlihat jelas kasih sayang dan sopan santunnya ke ibu. Melihat itu, aku tentu saja iri.

Lanjutkan membaca “Ibuku, Sahabat Terbaikku”

Review Buku : Janji – Tere Liye

Kita semua adalah pengembara di dunia ini. Ada yang kaya, pun ada yang miskin. Ada yang terkenal, ternama, berkuasa, juga ada yang bukan siapa-siapa. Ada yang seolah bisa membeli apapun, melakukan apapun yang dia mau, hebat sekali. Ada yang bahkan bingung besok harus makan apa.

Itulah sepenggal cuplikan dibagian belakang cover buku. Saat melihat buku ini di rak toko buku, ada sedikit kesan horor. Kenapa? Karena ada gambar nisan. Aku menduga, ada sosok yang meninggal dalam ceritanya. Tapi kesan horornya tidak menakutkan, karena di dominasi oleh warna putih.

Review kali ini mungkin mengandung banyak spoiler. *sungkem*

Lanjutkan membaca “Review Buku : Janji – Tere Liye”

Zona O Pekan 2 : Dari Hexagon City Virtual Conference Lanjut ke Hexagon City Fair

Zona O pekan ke baru saja dilalui. Jika pekan lalu, hexagonia dibuat deg-degan, pekan ini dibuat agak santai. Setelah melalui Hexagon City Virtual Conference, aku sangat lega. Sehari setelahnya aku langsung curhat di blog. Tulisannya bisa di lihat di sini.

Lega, tentu saja. Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau materi yang dibawakan tidak menarik? Bagaimana kalau nanti saat live terjadi trouble? Bagaimana kalau anak-anak tidak kooperatif? Bagaimana kalau suami tidak bisa menjaga anak? Bagaimana ini? Bagaimana itu? Dan masih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan yang merajai, sirna sudah. Rasanya benang kusut, sudah terurai. Bahkan benangnya sudah rapi kembali.

Lanjutkan membaca “Zona O Pekan 2 : Dari Hexagon City Virtual Conference Lanjut ke Hexagon City Fair”

Pelajaran Manis

“Hei nyak, masih inget ini gak?” seorang teman mengirimkan pesan dan gambar melalui DM instagramku.

“Ya ampun, kangennya,” balasku.

“Pengin balik ya, ha-ha.” balasnya lagi

“Wkwkwkw.”

Gambar yang dikirimkan adalah kliping dari sebuah koran. Aku yang menulis artikelnya. Seketika aku kembali teringat pengalaman liputan beberapa tahun lalu.

Lanjutkan membaca “Pelajaran Manis”

Tips Agar Keluarga Makin Akrab

Memiliki keluarga besar yang tinggalnya satu kota sangat menyenangkan. Apalagi jika tempat tinggalnya mudah dijangkau. Frekuensi bertemu akan lebih sering terjadi. Meski begitu, untuk menjaga ke akraban antar keluarga perlu dilakukan beberapa hal. Agar hubungan kekerabatan tetap mulus seperti kain sutra yang halus.

Apa saja yang bisa dilakukan?

Lanjutkan membaca “Tips Agar Keluarga Makin Akrab”

Pengganti

“Bi, tolong dong buka kepala selang ini. Tabung gasnya mau di masukkan ke lemari,” kata ibuku pada adik ketiganya. Lelaki yang bedanya hanya enam tahun dengan ibuku ini aslinya bernama Agus. Tapi di kampung kami Abi akrab disapa Agus Bagong. Dan setelah memiliki anak 18 tahun lalu, panggilan pamanpun berubah menjadi Abi. Karena anaknya memanggil Abi. Kamipun mengikuti, untuk membiasakan anaknya. Bahkan anak-anakku dan anak kakak-kakakku juga memanggil yang sama. Jarang menyematkan kata embah di depannya.

Sejak aku kecil, abi adalah pengganti sosok bapak. Bapak sakit sejak aku umur 7 tahun. Beberapa perkerjaan rumah yang berat mau tidak mau dilimpahkan ke abi. Mengantar jemput sekolah, memperbaiki atap yang bocor, memperbaiki intalasi listrik di rumah. Pokoknya apapun.

Bahkan, sampai saat aku mengadakan resepi pernikahan abi dan umi istrinya yang menggantikan tempat ibu dan bapak. Sesuai permintaan ibu dan bapakku. Abi adalah sosok yang mirip embah. Terutama rasa sayangnya pada anak dan cucu-cucu. Jika anak-anakku sakit atua menangis, abi dengan sigap menghibur mereka. Mengajak jalan keliling kampung. Persis yang embah lakukan untukku dulu.