Siap-Siap

Jalan jalan

“Jadi jalan gak nih?” tanyaku pada suami.

“Lihat saja nanti,” jawab suami singkat.

“Errrr, sayang jangan lihat saja nanti. Ini memengaruhi persiapan mental dan bawaan nih. Kalau gk jadi, gk siap-siap. Terus kalau tiba-tiba jadi nanti malah gak mood. Tapi kalau jadi, sudah siap-siap, terus gak jadi, malah gak apa-apa,” jawabku panjang kali lebar kali tinggi.

“Ya udah, disiapin aja barangnya,” jawab suami.

Memiliki istri yang intvovert dan selalu berusaha menyiapkan diri, memang tidak mudah. Bertolak belakang dengan suami yang santai.

Untuk jalan-jalan dalam kota saja, aku perlu mempersiapkan diri dan tahu mau kemana saja tujuan kami. Lagi-lagi memengaruhi bawaan yang akan kubawa. Misalnya, jika hanya satu tempat tujuan, aku pasti memilih menggunakan tas kecil yang hanya muat dompet kecil, handsanitizer, tisu basah dan masker cadangan. Jika banyak yang dicari dan harus berkeliling, aku memilih menggunakan tas ransel. Karena biasanya, suami akan menitipkan pouchnya kepadaku.

Belum lagi barang anak-abak, seperti baju ganti. Jika jalan hanya sebentar aku hanya akan membawakan 1 baju ganti. Jika lebih lama, bisa dua atau tiga. Digunakan? Belum tentu. Karena tidak selalu tempat tujuan kami membuat baju anak-anak kotor.

“Kita mau ke pantai?” tanya cinta jika melihat baju ganti untuknya dimobil. Pertanyaan itu sering muncul karena jika membawa baju ganti artinya dia akan bermain kotor atau air di pantai. Kadang saat berkunjung ke rumah keluarga, sebelum pulang anak-anak menumpang mandi dulu.

“Gak sih. Cuma jaga-jaga aja,” jawabku. Yang paling sering menggunakan baju ganti saat ini adalah Rangga. Karena saat makan es cream terutama, ia masih suka belepotan. Dan baju yang digunakan pasti jadi kotor.

Itu baru jalan-jalan dalam kota. Jika keluar kota, ke rumah mama mertua misalnya. Meski hanya menginap satu malam, aku butuh waktu dua hari sebelumnya untuk mempersiapkan barang. Selalu berjaga-jaga khawatir ada yang tertinggal.

“Nginep sehari banyak ya bawaannya,” olok suami.

“Iya, soalnya sering ada yang bikin rencana dadakan,” jawabku tidak mau kalah.

Ya, saking santainya suami, sering kali kami extend mendadak. Bukan soal pekerjaan. Misalnya tiba-tiba inginmengajak anaknya jalan-jalan ke suatu tempat atau karena permintaan mama mertua supaya kami tidak pulang malam hari.

Dulu saat hanya 1 anak, aku suka sekali membawa koper atau bahkan box untuk membawa baju ganti. Tapi setelah punya dua anak, aku menyiasatinya.

Aku menyiapkan baju yang akan kami kenakan dalam satu hari dalam satu tas kain. Misalnya kami dua hari di sana, berarti ada 4 tas yang tersedia. Tas untuk dua hari, 1 hari jika ternyata memperpanjang menginap, dan satunya lagi tas cadangan yang berisikan baju anak-anak.

Setiap pagi aku akan menurunkan satu tas dari mobil dan memasukkan baju kotor. Kok tidak menyuci di sana? Karena waktunya tidak pernah lama. Dengan cara ini, aku meminimalis rumah mama mertua yang berantakan. Tau kan, kalau 4 bocah sudah berkumpul rumah akan seperti apa 🤪.

Dan setiap jalan-jalan, keluar rumah aku tidak pernah menganggap itu me time sama sekali. Kenapa? Karena susah rasanya melepas pengawasan dari anak-anak yang sedang aktif-aktifnya. Lalu bagaimana me timenya?

Tentu saja aku menyisatinya dengan me time tanp jauh dari anak-anak terlalu lama. Contohnya naik motor ke pasar sendirian. Meski ini susah dilakukan. Tapi dalam seminggu aku punya kesempatan pergi sendirian. Walau hanya setengah jam. Hohoho.

Apalagi ? Pijat di rumah. Kalau ini alasan utamanya karena aku malas ke tempt spa. Meski perawatannya jauh berbeda dengan di rumah ya. Tapi kalau sudah kena tangan terapis. Rasanya auto rileks kok.

Dan yang terakhir menulis. Lagi-lagi ini paling asyik dilakukan saat tidak ada distraksi. Yaitu ketika anak-anak sudah tidur lelap di malam hari.

Kadang, kita suka merasa lelah ya, karena sepertinya tidak ada waktu untuk diri sendiri. Ada kok. Coba dilihat dari sisi yang berbeda. Me time bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Karena tujuannya untuk memberikan kita waktu istirahat sejenak. Mensyukuri semua yang kita miliki, agar kembali bersemangat menjalani hari.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar