Aku Baik-Baik Saja!

Sebagai ibu-ibu, tentu aku paham bagaimana mentalnya yang sering terjun payung. Mendengar kata-kata orang, mengurus anak-anak serta suami dan rumah.

Aku baik-baik saja kok.

Aku kenapa begini.

Aku cuma lagi capek!

Atau ada suara hati lain yang bersuara? Banyak! Ya gak? 😁

Tidak semua istri, punya kesempatan untuk dirinya sendiri. Ya karena memang tidak semua istri, diberi support system yang kuat.

Eh tapi dia baik-baik aja kok. Mungkin! Atau sedang menunggu waktu kapan, gunung emosinya akan meledak. Tidak menutup kemungkinan, sebagian ibu sedang denial menghadapi mentalnya. Merasa baik-baik saja, padahal lahar gunung emosinya sedang menggerogoti.

Ada yang sadar, mencoba memvalidasi, lalu melupakan. Atau mungkin pura-pura melupakan. Kenapa? Agar tugas-tugasnya tetap bisa berjalan sebaik mungkin.

Atau ada juga yang tidak mau memvalidasi, tapi tidak bisa melupakan.

Ada yang kuat. Tapi ada juga yang tidak sanggup. Ada yang bisa bertahan sejauh mungkin. Ada juga yang butuh istirahat, tarikN nafas dan pelukan yang menenangkan.

Setiap ibu, aku yakin pasti ingin menjadi ibu peri. Tidak marah-marah, pekerjaan domestik (dan publik) berjalan baik dan masih banyak lagi harapan-harapan lain. Sayangnya, kesempatan seperti itu tidak bisa didapatkan semua ibu.

Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, ditambah lagi sepatu tetangga, tidak bisa dipaksa pakai oleh kita.

Hai bu, jangan kira dirimu sendirian. Semua istri, pasti merasakannya. Duduk sejenak yuk. Di sini ada aku, dan ibu lainnya yang siap memberikan bahu. 🤗🤗

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar