Timun dan Jelita (Part 2): Tertawa, Bertahan, dan Mimpi yang Hampir Menyerah

Ulasan novel Timun dan Jelita Part 2, kisah band yang hampir menyerah, tawa yang menyembuhkan, dan mimpi yang diuji lewat perjalanan hidup para tokohnya.

Ada buku yang sejak awal sudah kita tunggu, lalu entah kenapa… justru terlupakan.

Timun dan Jelita Part 2 adalah salah satunya.

Beberapa kali masuk Gramedia, mataku selalu tertuju pada sampulnya. Gitar berwarna pink itu mencolok. Seolah memanggil, tapi selalu berhasil kuabaikan. Entah karena belum waktunya, atau karena aku sedang sibuk dengan bacaan lain.

Sampai suatu hari, saat aku masih larut membaca buku lain, novel ini tiba-tiba sudah terpajang rapi di Gramedia Plaza Balikpapan dan Gramedia MT Haryono.

Dan seperti biasa, muncul dialog batin yang klasik: Beli nggak ya?

Niatnya menunda. Tapi tangan ini terlalu cepat mengambil. Aku menyerah.

Masih melanjutkan kisah sebelumnya, di buku kedua ini band Timun Jelita mulai merasakan apa itu dikenal—meski belum benar-benar terkenal. Lagu-lagu mereka mulai diperdengarkan di berbagai platform musik. Nama mereka mulai disebut. Tapi jalan menuju popularitas ternyata tidak semulus itu.

Mereka mencoba banyak cara agar bisa dikenal lebih luas. Salah satunya adalah mempersiapkan diri mengikuti audisi band pembuka dari band terkenal.

Bagi Timun, ini bukan sekadar kesempatan. Ini mimpi. Ia adalah penggemar band tersebut. Antusiasmenya terasa tulus. Sayangnya, di tengah semangat itu, Timun justru buntu. Ia tidak memiliki ide lagu baru—padahal itu adalah salah satu syarat utama.

Novel ini tidak hanya bercerita tentang perjalanan sebuah band. Ia juga mengajak kita masuk lebih dalam ke kehidupan para tokohnya: Timun, Jelita, Robert, dan Putri—istri Timun.

Karena bergenre komedi, aku sering tertawa saat membacanya. Bahkan sampai menangis.

Kalau dipikir-pikir, banyak adegannya sebenarnya tidak lucu-lucu amat. Tapi entah kenapa tetap membuatku tertawa keras. Jangan-jangan memang aku sedang stres. Atau mungkin, justru karena hidup terlalu serius, cerita sederhana seperti ini terasa melegakan.

Di balik gelak tawa, ada banyak pesan yang diam-diam menyelip.

Tentang Robert, misalnya. Ia bertemu dengan seorang perempuan yang ia anggap pintar. Ia berharap ada koneksi emosional. Sayangnya, ia justru dijadikan objek penelitian. Belum cukup sampai di situ, Robert juga sempat tertipu oleh perempuan yang ia kenal lewat media sosial. Ceritanya menggelikan, tapi juga menyedihkan. Terasa dekat dengan realitas hari ini.

Jelita pun punya ceritanya sendiri. Di balik sikapnya yang cuek dan dingin, ia justru jatuh hati pada seorang pria yang berusaha terlihat nakal. Lucunya, Jelita tidak jatuh cinta pada topeng itu. Ia jatuh cinta pada sifat asli si pria—yang jauh lebih jujur dan apa adanya. 

Dan tentu saja, bagian yang paling mengesalkan sekaligus paling manusiawi: saat band Timun Jelita akhirnya lolos menjadi band pembuka. Alih-alih diberi ruang untuk tumbuh dan dikenal, mereka justru dijegal. Timun putus asa. Ia lelah. Ia memilih berlindung di balik kehadiran bayinya—mencari alasan untuk berhenti bermimpi.

Untungnya, ada Jelita yang kembali menyadarkannya. Ada Putri, yang dengan caranya sendiri, terus mendukung langkah suaminya. Di titik ini aku berhenti sejenak, tersenyum sendiri, lalu bergumam, Uhhhh, so sweet banget sih.

Novel ini memang ringan. Tapi ia tahu caranya mengingatkan: bahwa mimpi tidak selalu gagal karena kita kurang berbakat, kadang ia terhambat oleh sistem, oleh orang lain, oleh keadaan — dan yang paling menentukan, oleh seberapa kuat kita mau bertahan.

Jika Part 1 adalah tentang mimpi yang baru tumbuh— tentang tawa, kekonyolan, dan keberanian memulai, maka Part 2 adalah tentang mimpi yang diuji— saat jalan terasa berat, saat usaha tak selalu berbuah adil, dan saat menyerah terasa jauh lebih masuk akal. 

Di titik ini, Timun Jelita tidak lagi hanya soal band.

Mereka menjadi cermin bagi banyak orang dewasa yang sedang berjalan pelan bersama mimpinya sendiri. Tentang kelelahan yang disembunyikan di balik tawa. Tentang harapan yang nyaris dilepaskan. Tentang kebutuhan untuk didukung—bukan hanya dikagumi.

Dan mungkin, di situlah cerita ini diam-diam bekerja pada kita sebagai pembaca. Karena di antara halaman-halamannya, kita menemukan diri kita sendiri. Pernah memulai dengan penuh semangat. Pernah merasa hampir sampai.

Lalu tersandung oleh keadaan yang tak bisa kita kendalikan. Novel ini mengingatkan bahwa mimpi tidak selalu gugur karena kita berhenti percaya, tapi karena kita lelah sendirian. Dan bahwa bertahan sering kali bukan tentang seberapa kuat kita, melainkan tentang siapa yang tetap tinggal saat kita hampir menyerah.

Timun bertahan karena bandnya bersama Jelita.

Timun melangkah karena Putri.

Dan kita, sebagai pembaca, mungkin pulang dengan satu kesadaran kecil: bahwa tidak apa-apa lelah, selama kita tidak sepenuhnya berhenti bermimpi.

Judul : Timun Jelita Volume 2

Pengarang : Raditya Dika

Penerbit : GagasaMedia

Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2025, Cetakan Kedua 2025

Jumlah Halaman : 229

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar