Ada wishlist kecil yang sejak lama kusimpan rapi di kepala, tapi belum juga kutandai sebagai “terlaksana”. Bukan karena terlalu mahal, bukan pula karena terlalu muluk. Wishlist itu sederhana: berolahraga di tempat gym.
Kenapa belum terlaksana? Karena sampai hari ini, aku belum mendapat izin dari suami.
“Silakan berolahraga,” katanya suatu hari ketika aku iseng meminta izin, “tapi yang bisa dikerjakan di rumah saja ya. Lari atau bersepeda boleh. Tapi kalau ke tempat gym, tidak dulu.”

Alasannya? Tidak ada.
“Tidak ada alasan,” katanya sambil tersenyum. Untuk hal ini, katanya lagi, ada hak veto sebagai kepala keluarga. Ha-ha.
Aneh ya. Di satu sisi aku paham, di sisi lain tetap saja ada ruang kecil di dada yang merasa… ya, sedikit ingin.
Aku bahagia melihat postingan teman-temanku yang rutin berolahraga di gym. Outfit olahraga yang rapi, cermin besar, alat-alat yang tampak meyakinkan. Iri? Iya. Tapi bukan iri yang penuh dengki. Lebih ke iri yang sambil berkata, “Wah, seru juga ya.” Tapi anehnya, iri itu tidak sampai membuatku benar-benar ingin pergi. Entah kenapa.
Padahal dulu, saat masih bekerja di ranah publik, rutinitas olahragaku cukup teratur. Hampir setiap pagi aku memulai hari dengan datang ke studio olahraga. Di sana ada gym, yoga, dan pilates. Aku memilih yoga dan pilates sebagai favorit.
Senin, Rabu, dan Jumat untuk yoga. Selasa dan Kamis untuk pilates. Minggu pagi biasanya kuisi dengan bersepeda. Sabtu? Hari istirahat. Karena pagi hari adalah jadwal rapat di kantor. Kalau diingat-ingat sekarang, aku jadi tersenyum sendiri. Rajin juga ya, aku dulu.
Lucunya, meski berada di tempat yang menyediakan gym, aku tidak pernah benar-benar tertarik masuk ke sana. Ada ketakutan kecil yang dulu sering kupelihara: takut berotot. Keinginanku sejak awal bukan tubuh yang “terlihat kuat”, melainkan tubuh yang sehat, tenang, dan lentur.
Setelah menikah dan hamil, yoga menjadi pilihan utama. Tubuh berubah, ritme hidup ikut berubah. Saat anak ketiga lahir, aku mulai mengenal olahraga angkat beban—pelan-pelan, seperlunya. Bukan untuk membentuk tubuh, tapi agar tetap kuat menemani hari-hari yang semakin padat.
Keinginan pergi ke gym belakangan ini muncul bukan karena ikut-ikutan. Lebih karena ingin memastikan: apakah gerakan yang kulakukan sudah aman? Apakah posturku benar? Apakah tubuhku benar-benar dijaga, bukan sekadar digerakkan?
Namun karena izin itu belum ada, aku memilih jalan yang tersedia. Berolahraga di rumah. Dengan alat seadanya. Dengan waktu yang sering terpotong. Tapi juga dengan hati yang relatif tenang.
Mungkin olahraga, seperti banyak hal lain dalam hidup, bukan soal tempatnya. Tapi soal niatnya. Soal mendengarkan tubuh. Soal berdamai dengan kondisi, tanpa berhenti merawat diri.
Wishlist itu mungkin belum tercoret hari ini. Tapi aku percaya, selama tubuhku masih kuajak bergerak—pelan-pelan, dari rumah—aku tetap sedang memilih diriku sendiri.