Berawal dari melihat postingan seorang content creator bertuliskan,
“Create a caricature of me and my job based on everything you know about me” di ChatGPT.
Gambar yang dihasilkan terasa sangat merepresentasikan siapa mereka di media sosial selama ini. Mungkin hal seperti itu memang terasa mudah bagi ChatGPT. Ia hanya perlu mengumpulkan potongan-potongan informasi yang tersebar di dunia maya, lalu merangkainya menjadi satu gambaran utuh.
Lalu aku bertanya dalam hati, bagaimana dengan aku—yang minim postingan di media sosial?
Apa yang akan disajikan ChatGPT tentang diriku?
Oh… oh… oh. Ternyata aku pun tidak luput dari pantauannya.

Sejujurnya, aku sempat lupa bahwa akses ke sebuah website adalah hal yang sangat mudah ditemukan. ChatGPT dengan cepat menemukan siapa Riska di balik ruangcerita.blog. Dari sana, ia mulai menggambarkan karakternya. Pelan, tapi terasa akurat. Seolah ia tidak hanya membaca tulisan-tulisanku, tapi juga menangkap napas di baliknya.
Dan entah kenapa, aku malah ketagihan.
“Bisa ditambah ini nggak?”
“Kalau detail kecil ini gimana?”
“Kalau versi yang lebih simpel?”
Ha-ha.
Untungnya, ChatGPT seolah diciptakan dengan kesabaran seluas samudra. Banyak permintaan yang bisa dengan tenang ia loloskan, satu per satu, tanpa keluhan.
Melihat hasil karikatur itu, ingatanku melayang ke sekitar sepuluh tahun lalu—masa ketika aku sering berkutat dengan para seniman. Saat itu, tugasku adalah menjadi jembatan antara pemesan dan si pembuat karya. Aku belajar satu hal penting: karya seni tidak pernah benar-benar selesai, ia hanya berhenti direvisi.
Sebagai orang yang tidak suka ribet, bagiku hampir semua gambar itu sudah bagus dan keren. Tapi bagi sebagian orang, selalu ada saja yang kurang. Sedikit revisi di sini, sedikit perbaikan di sana. Dan aku, di posisi tengah, belajar memahami dua dunia sekaligus: dunia pencipta dan dunia penerima.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, aku menyadari bahwa pengalamanku hari ini tidak jauh berbeda. Bedanya, senimannya bukan manusia yang duduk di seberang meja, melainkan kecerdasan buatan yang bekerja dari balik layar. Namun rasa yang muncul tetap sama: keinginan untuk merasa dipahami.
Karikatur itu mungkin hanya gambar. Tapi di baliknya, ada refleksi tentang bagaimana jejak digital bekerja, tentang bagaimana tulisan-tulisan kecil yang kutinggalkan di Ruang Cerita ternyata cukup untuk menggambarkan diriku. Ia mengingatkanku bahwa bahkan ketika aku merasa tidak banyak bicara di media sosial, aku tetap hadir—melalui kata, melalui cerita.
Dan mungkin, revisi demi revisi itu bukan soal mencari yang sempurna. Melainkan cara paling jujur untuk berkata: aku sedang mengenali diriku sendiri, pelan-pelan saja.