Setiap kota punya caranya sendiri untuk tinggal di ingatan.
Ada yang hadir lewat bangunan megah, ada yang melekat lewat hiruk-pikuknya.
Balikpapan memilih cara yang lebih tenang—ia tinggal lewat kenangan, kebiasaan kecil, dan rasa pulang yang tidak banyak menuntut penjelasan.
Di usianya yang ke-129, Balikpapan bukan sekadar kota kelahiran. Ia adalah ruang tempat aku belajar mencintai, mengenang, dan menumbuhkan harapan.

Balikpapan adalah kota kelahiranku. Kota yang, tentu saja, akan selalu kucintai—dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Di sini, banyak kenangan yang tumbuh bersamaku, termasuk kenangan tentang bapak.
Aku ingat betul bagaimana kami sering mengelilingi kota dengan vespa. Bukan tanpa arah dan tujuan, sebenarnya. Tujuan kami sederhana: membeli nasi kuning di Kebun Sayur. Namun rasanya tidak lengkap jika perjalanan itu tidak dilanjutkan dengan memutari Balikpapan—hingga ke Bandara, lalu melewati Melawai.
Kalau dipikir-pikir sekarang, iya juga, kami seperti buang-buang bensin. Tapi justru dari perjalanan tanpa terburu-buru itulah, aku belajar mencintai kota ini.
Aku belajar menikmati setiap sudutnya: bangunan yang akrab di mata, laut yang selalu memberi jeda, dan langit Balikpapan yang rasanya selalu punya warna sendiri. Pelan-pelan, kota ini menanamkan rasa memiliki.
Satu hal yang tak pernah berubah dari Balikpapan adalah upayanya menjaga kebersihan. Bukan tanpa alasan jika tugu Adipura berkali-kali berhasil diboyong pulang. Meski banjir kerap datang dan memancing keluh kesah, Balikpapan tetap berusaha berdiri dengan wajah yang terawat.
Warganya patut diacungi jempol. Begitu juga para petugas kebersihan. Setiap kali berkendara, hampir selalu ada pemandangan mereka bekerja—di pagi, siang, bahkan saat matahari belum sepenuhnya ramah. Ada rasa hormat yang tumbuh diam-diam dari sana.
Hari ini, Balikpapan juga berubah. Pendatang jauh lebih banyak dibandingkan dulu. Apalagi sejak Ibu Kota Negara berada tak jauh dari kota ini. Lalu lintas udara, darat, dan laut menjadi semakin sibuk. Balikpapan tidak lagi hanya menjadi kota transit, tapi juga kota tujuan.
Di tengah perubahan itu, harapanku untuk Balikpapan masih sama: menjadi kota yang ramah pada anak dan terdepan dalam pendidikan. Karena aku percaya, anak-anak yang bahagia dan pendidikan yang maju akan membawa kota ini tumbuh ke arah yang lebih baik—lebih manusiawi.
Terima kasih, Balikpapan.
Terima kasih telah menjadi rumah, tempat kenangan lama menetap dan harapan baru ditumbuhkan.
Untukku, dan untuk keluargaku—kau selalu punya ruang untuk pulang.