Review Hana Tara Hata: Kisah Masa Lalu yang Membuka Potongan Semesta

Ulasan novel Hana Tara Hata karya Tere Liye, kisah masa lalu salah satu tokoh dalam serial Bumi yang memperlihatkan kemampuan membaca alam, pilihan hidup, dan kasih sayang keluarga.

Kalau kamu penggemar karya Tere Liye, terutama serial Bumi, pasti tidak asing dengan judul-judul seperti Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceroz dan Batozar, Komet, Komet Minor, Selena, Nebula, Si Putih, Lumpu, Bibi Gill, Sagaras, Matahari Minor, ILY, hingga Aldebaran. Serial panjang ini seperti semesta sendiri yang saling terhubung satu sama lain.

Membacanya berurutan memang memberikan pengalaman yang lebih utuh. Setiap buku seperti membuka pintu baru menuju dunia lain, dengan karakter-karakter yang terus berkembang.

Nah, tahun lalu aku membeli satu buku Tere Liye yang judulnya cukup unik: Hana Tara Hata. Nama ini mungkin tidak terlalu asing bagi pembaca serial Bumi, karena ia memang salah satu karakter yang muncul dalam semesta tersebut.

Meski dibaca terpisah dari buku-buku lain, rasanya tetap bisa dinikmati tanpa harus membaca seluruh serial sebelumnya.

Bedanya, buku ini tidak bercerita tentang petualangan besar seperti kebanyakan seri lainnya. Hana Tara Hata justru mengajak pembaca melihat masa lalu Hana. Kisah tentang siapa dirinya sebelum semua peristiwa besar dalam semesta itu terjadi. Meski dibaca terpisah dari buku-buku lain, rasanya tetap bisa dinikmati tanpa harus membaca seluruh serial sebelumnya.

Sejujurnya, aku tidak pernah merasa aneh dengan cerita-cerita karya Tere Liye. Alurnya selalu terasa seru dan penuh imajinasi. Hanya saja, pemilihan nama karakter yang seringkali unik dan ajaib kadang membuatku sedikit malas mengingatnya satu per satu. Ha-ha.

Buku ini sebenarnya sudah aku beli sejak tahun 2025, tapi baru selesai kubaca di tahun 2026. Di antara tumpukan buku yang menunggu giliran, aku sempat lupa kalau buku ini ada di rak.

Begitu akhirnya selesai dibaca, rasanya campur aduk. Antara kesal karena butuh waktu lama untuk menamatkannya, dan juga kesal karena… ceritanya sudah selesai. Rasanya asupan fantasi masih belum cukup.

Cerita dalam buku ini memperkenalkan Hana sebagai anak tunggal yang tinggal di kota Exeos, Klan Matahari. Kedua orang tuanya adalah penjual bumbu masakan di pasar tradisional. Meski hidup sederhana, mereka memiliki kemampuan langka: membaca pertanda alam.

Sayangnya kemampuan itu tidak terlalu kuat. Orang tua Hana bahkan sering salah menafsirkan tanda-tanda alam yang mereka rasakan.

Suatu hari, ketika Hana masih kecil dan sedang bermain, ia tiba-tiba terdiam di sebuah gedung. Ia mengatakan bahwa bangunan itu akan runtuh.

Hana kemudian menceritakan firasatnya kepada orang tuanya. Walaupun mereka tidak sepenuhnya percaya, mereka tetap melaporkannya kepada pemerintah kota.

Menariknya, pemerintah kota tetap melakukan pemeriksaan. Sekadar berjaga-jaga. Kalau memang ada kerusakan, sekalian diperbaiki.

Wah, idaman sekali kotanya ya. Tidak perlu menunggu ada korban dulu baru diperbaiki. Eh.

Saat tim pemeriksa datang, ternyata memang ditemukan kerusakan pada struktur bangunan tersebut. Para penghuni segera dievakuasi. Dan tidak lama setelah penghuni terakhir keluar, bangunan itu benar-benar roboh.

Sejak saat itu, kemampuan membaca alam milik Hana tidak pernah diragukan lagi.

Di kesempatan lain, Hana kembali membaca tanda dari alam dan berhasil menyelamatkan kota Exeos. Namun menariknya, Hana justru tidak menyukai kemampuannya itu.

Ia bahkan meminta para lebah—yang sering membisikkan tanda-tanda alam kepadanya—untuk berhenti.

Hana memilih hidup sebagai warga kota biasa, tanpa kemampuan istimewa apa pun.

Seiring waktu, Hana tumbuh menjadi pribadi yang hangat dan penuh kasih sayang. Ia menikah dengan seseorang yang namanya cukup unik: Gara-gara-dia III. Dari pernikahan itu, mereka memiliki seorang anak bernama Mata-Hana-Tara.

Mata tumbuh menjadi anak laki-laki yang bukan hanya tampan, tetapi juga memiliki hati yang sangat baik. Ia bahkan menjadi salah satu peserta dalam Festival Bunga Matahari.

Sebelumnya, Hana sebenarnya sudah meminta secara khusus agar nama Mata tidak dimasukkan dalam daftar peserta. Namun mesin pengacak nama seperti punya rencananya sendiri.

Nama yang keluar justru adalah sahabat Mata yang memiliki keterbatasan fisik.

Dan seperti yang bisa ditebak, Mata yang terkenal rela berkorban itu tentu tidak akan membiarkan sahabatnya menghadapi semuanya sendirian.

Cerita dalam novel ini mungkin tidak dipenuhi aksi besar seperti beberapa buku lain dalam serial Bumi. Namun justru di situlah letak kehangatannya. Kita diajak melihat sisi yang lebih personal dari seorang Hana—tentang kemampuan, pilihan hidup, dan bagaimana ia menjalani kesepian yang panjang.

Untungnya, di akhir cerita ada sedikit cuplikan kebahagiaan. Hana yang sudah ratusan tahun memilih hidup menyendiri akhirnya tidak lagi merasa sendirian.

Kadang sebuah cerita tidak harus selalu penuh ledakan petualangan. Ada kalanya yang kita butuhkan hanya sebuah kisah kecil tentang seseorang yang mencoba memahami hidupnya sendiri.

Dan Hana Tara Hata memberi potongan cerita itu—, hangat, dan tetap menyisakan sedikit ruang imajinasi untuk semesta Tere Liye yang luas.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar