Si Kutu Nyasar

“De, mbakmu sudah ada cerita?” tanya ibuku dengan suara perlahan. Aku menggelengkan kepala sambil mengernyitkan kening. Ada apa gerangan, sampai ibuku berkata pelan-pelan takut terdengar orang. Padahal di kamar ibu hanya ada aku, Ibu dan Bunga.

“Tadi dia cerita. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Tadi dia bilang jangan bilang siapa-siapa,” tegasnya. Aih, lagu lama. Ibuku sering kali bilang jangan siapa-siapa. Tapi sering bocor ke aku atau mbakku. Untung sih tidak bocor ke tetangga. Ha-ha.

Lanjutkan membaca “Si Kutu Nyasar”

Takut

Pernah merasa takut? Aku rasa semua orang pasti pernah merasakannya. Lalu bagaimana cara menghadapi ketakutan itu. Proses menghadapi rasa takut setiap orang, tentu saja berbeda-beda. 

Delapan tahun lalu, aku pernah merasa takut akan sesuatu yang belum pasti terjadi. Memiliki anak. Saat itu, aku yang sudah sering bertemu dengan para ibu, memutuskan untuk banyak membaca buku pengasuhan. Aku hanya ingin bersiap sebelum nanti menikah, hamil dan punya anak. Tahu apa yang terjadi setelah aku selesai membaca satu buku? Aku menangis sejadi-jadinya.

Lanjutkan membaca “Takut”

Kaltim Post Fun Fest 2023

“Keren juga kalau bisa kerja di kantor ini,” batinku suatu pagi, saat melewati sebuah gedung bertingkat saat menuju sekolah. Gedung Biru, kantor media cetak yang sangat terkenal di kotaku. Bangunannya tampak megah dengan dinding yang dikelilingi kaca berwarna biru. Setiap menuju atau pulang sekolah, aku selalu melewati gedung ini. Sangat keren. Apalagi kalau aku bisa menjadi seorang wartawan. Pasti tambah keren lagi. Itu adalah salah satu cita-citaku.

Lanjutkan membaca “Kaltim Post Fun Fest 2023”

Aku dan Secangkir Kopi

Seteguk kopi, beberapa tahun silam tak kan pernah berhasil melewati tenggorokanku. Sakit kepala, jantung yang berdebar kencang dan sulit tidur adalah salah satu penyebab aku menghindarinya. 

Namun sekarang sungguh bertolak belakang. Aku bukan pencinta kopi. Tapi kopi ternyata mampu mengajakku menyepi sejenak, di tengah keriuhan anak-anak.

Lanjutkan membaca “Aku dan Secangkir Kopi”

Ke Dokter Gigi

“Ma, gigi depan Cinta yang bawah sakit,” kata Cinta suatu pagi. 

“Coba mama liat. Mama pegang ya,” kataku sambil menekan gigi yang dimaksud. “Oh, agak goyang nih kak. Nanti kalau sudah goyang banget, kita ke dokter gigi ya. Kita cabut giginya,” kataku. 

“Gak ah. Cinta takut,” jawab Cinta cepat. Cinta memang punya trauma dengan dokter gigi. Waktu ia berusia dua tahun, kami pernah membawanya ke dokter gigi.

Lanjutkan membaca “Ke Dokter Gigi”

Birthstory Bunga : Bahagia yang Tak Diduga

Bunga yang selama 9 tahun ini menjadi ungkapan cinta antara dua insan. Bunga yang menjadi tanda kasih sayang. Bunga adalah pelengkap keluarga kecilku. Setelah cerita Cinta dan Rangga, kali ini Bunga mengawali kisahnya dengan bahagia.

Lanjutkan membaca “Birthstory Bunga : Bahagia yang Tak Diduga”

Udahlah Google Maps Saja

Siapa yang kalau ke suatu daerah tidak dikenal mengandalkan GPS? Yuk kita gandengan tangan. Ha-ha. Meski sudah 6 tahun menikah dengan laki-laki kelahiran kota tetangga, aku sampai sekarang tidak pernah hafal jalannya. Bahkan untuk menuju rumah mama mertua, aku harus menggunakan Google Maps. Padahal nih, sebelum menikah 4 tahun aku bekerja juga sering bolak balik ke kota tepian. Mungkin dalam sebulan aku pasti ada ke Samarinda selama seminggu. Harusnya aku sudah mulai hafal ya.

Lanjutkan membaca “Udahlah Google Maps Saja”

Cerita Cinta Mendaftar SD

“Pendaftaran murid baru sudah dibuka lho. Mau daftar gak?” tanya mbak Ika suatu hari melalui pesan whatsapp.

“Hah! Baru dua bulan sekolah TK mbak. Masa sudah buka pendaftaran SD?” aku bertanya tidak percaya.

“Gak tau nih. Di whatsapp grup sekolah sudah dibagikan infonya. Kalau memang mau, gak apa-apa daftar dulu. Toh kalau gak jadi, gak ada kerugian apa-apa karena gak ada yang dibayar,” jawab mbakku. Maka, aku pun mengiyakan sarannya. Saat aku menyampaikan informasi tersebut ke suami, jawabannya pun serupa denganku.

Lanjutkan membaca “Cerita Cinta Mendaftar SD”

Market Day di Sekolah

Beberapa pekan lalu, sekolah Cinta mengadakan sebuah kegiatan yang sudah Cinta tunggu-tunggu sejak awal masuk sekolah.

Apakah itu? Kegiatannya adalah market day. Kegiatan ini sudah 14 tahun dilaksanakan di sekolah Cinta. Tak menyangka usia sekolah Cinta sudah 14 tahun. Yang artinya aku sudah bertambah tua. Bagaimana tidak, aku sudah mengenal sekolah ini sejak keponakan pertamaku lahir, Nindy yang saat ini sudah berusia 12 tahun. Dalam satu tahun, market day dilaksanakan dua kali. Semester pertama untuk kelas TK B dan semester kedua untuk anak-anak kelas TK A. Mereka akan bergantian menjadi penjual dan pembeli.

Lanjutkan membaca “Market Day di Sekolah”

Tunai atau Non Tunai

Saat ini, kita tentu sudah dipermudah dengan penggunaan uang non tunai. Berbagai macam pembayaran menggunakan uang non tunai, bisa kita pilih. Mana yang mempermudah pasti akan kita pilih. Di pasar dekat rumah contohnya, ada satu toko buah yang cukup besar memberikan kemudahan pembayaran untuk pelanggannya. Bisa melalui mesin EDC, Qris ataupun transfer. Aku sudah pernah menggunakan ketiganya. Untuk harga buah-buahan cukup bersaing kok dengan toko yang lain. Sehingga tidak membuatku merasa keberatan. Lagi pula, biasanya membeli buah ada di urutan terakhir. Karena tokoknya dilalui saat pulang dan pergi menuju pasar sayur-mayur. Alasan lainnya tentu karena pilihan  pembayaran itu. Uang cash biasanya pas untuk belanja sayur mayur beserta lauknya. Di pasar juga belum kutemukan pembayaran non tunai. Sehingga saat uang cash sudah tidak tersedia, tapi masih mau membeli buah, maka membeli di toko buah dengan pembayaran non tunai adalah jalan ninjaku. Bahkan untuk membayar daftar ulang sekolah saja, aku memilih membayar dengan uang non tunai. Rasanya janggal sekali, kalau dompet yang tiba-tiba sesak dengan uang kertas, harus tipis seketika. Ha-ha.  

Lanjutkan membaca “Tunai atau Non Tunai”