It’s My Dream, Mas !

It’s my dream mas, not her!

Belakangan, publik diramaikan dengan serial layangan putus. Serial yang diadaptasi dari sebuah novel. Aku sendiri membaca cerita layangan putus lewat FBG, cukup lama. Awalnya juga tidak tahu. Gara-gara, Mbak Ika yang sudah duluan membaca, menceritakannya ke aku.

“Seru de. Dari kisah nyata. Keren banget. Aku rasanya pengin ngamuk ke lakinya,” cerita mbak Ika dulu. Karena penasaran, akupun ikut mencarinya. Kubaca cerita demi cerita. Aku sedikit terhanyut dalam ceritanya. Ikut kesal. Tapi tidak sampai mendarah daging.

Lanjutkan membaca “It’s My Dream, Mas !”

Jangan Memaksa

“Jangan pernah memaksakan sepatu orang lain pada kaki kita. Begitu juga sebaliknya. Karena meski ukurannya sama, belum tentu nyaman kita pakai”

Pernah dengar kalimat seperti itu? Mungkin sering. Kalimat itu, salah satu kalimat yang bisa jadi pengingatku. Untuk tidak memasakan sesuatu pada keluargaku. Sering kali, rumput tetangga lebih hijau dari rumah kita. Tapi belum tentu rumah kita butuh rumput hijau 😆.

Lanjutkan membaca “Jangan Memaksa”

Bunda Produktif 2 : Zona Grow

Zona baru kembali dihadirkan. Kali ini, zona grwo disuguhkan pada kami hexagonia.Di CH Artacrat, kami sedang berbahagia dengan salah satu prototipe produk yang dibuat. Ada outer, gamis, bucket hat, pouch dan sling bag. Kami tidak sabar untuk menggunakannya di banyak kesempatan yang kami miliki.

Di cluster Eureka juga sudah ramai berdiskusi. Ada beberapa hal yang kami bahas. Diantarnya peran masing-masing kami untuk cluster. Insya Allah, aku mengambil peran di tim kreatif.

Lanjutkan membaca “Bunda Produktif 2 : Zona Grow”

Camping Perdana di Villa Lembayung

“Suka camping gk?” tanya suami suatu hari. Seketika aku menoleh kaget. It’s my dream mas. Eh, eh, kok latah sih. Tapi sesungguhnya, itu impianku saat kecil. Lantaran sering diajak bapak lewat jalan minyak yang melewati hutan lebat. Saat itu, dibayanganku ketika dewasa nanti aku bisa mendirikan tenda di tengah-tengah hutan. Sambil melakukan penelitian dan menikmati alam di depan tenda. Tapi impian itu bertolak belakang dengan keluargaku. Dengan bapak ibu yang juga minim dengan petualangan di alam.

Lanjutkan membaca “Camping Perdana di Villa Lembayung”

Bapak : Membangun Ikatan

“Ayo Ris, tidur. Udah malam. Besok kita habis subuh mau jalan lho,” kata bapak.

“Kemana?” tanyaku. Akupun mengalihkan pandanganku ke bapak.

“Jalan-jalan,” jawab bapak singkat.

“Aha. Pasti besok bapak libur,” batinku.

Lanjutkan membaca “Bapak : Membangun Ikatan”

Menulis Itu Menyenangkan

Delapan tahun lalu , saat keinginan resign memuncak aku tak punya rencana apa-apa di masa berikutnya. Yang aku pikirkan, saat itu hanya menjernihkan pikiran. 4 tahun bekerja tanpa cuti. Beneran gak cuti? Cuti sih. Tapi masa cuti aku pakai untuk mengerjakan pekerjaan lain. Workaholic sekali ya. Sayangnya, semangat bekerja itu tidak sepadan dengan hasilnya. Ha-ha. Terlalu baik pada seseorang yang tidak baik itu juga tidak baik. *Eh apa sih*

Lanjutkan membaca “Menulis Itu Menyenangkan”

Dua Puluh Ribu Kata Perempuan

Kita sudah pernah mendengar kan, kalau perempuan perlu mengeluarkan duapuluh ribu kata dalam sehari. Jauh berbeda dengan laki-laki yang hanya tujuh ribu kata. Alhamdulillah, saya punya wadah untuk menyalurkannya. Jadi, tidak perlu ada emosi yang tertahan karena duapuluh ribu katanya tidak tersalurkan.

Lanjutkan membaca “Dua Puluh Ribu Kata Perempuan”

Aku dan Secangkir Kopi di Pagi Hari

Ada banyak hal yang ingin kulakukan sejak mataku terbuka di pagi hari. Rasanya 24 jam ingin kulakukan semua yang kumau. Atau begitu juga hari-hari setelahnya. Namun kusadari, menjadi ibu bukan hanya untuk diriku sendiri. Tidak. Aku tidak merasa menjadi ibu adalah sebuah beban yang amat sangat berat. Memang menjadi ibu tidak mudah. Tapi bukan berarti aku tidak bahagia. Menjadi ibu artinya aku belajar menjadi manager keluarga. Yang mengatur semua kebutuhan anggota keluargaku.

Lanjutkan membaca “Aku dan Secangkir Kopi di Pagi Hari”

Jodoh Tak Bisa Dipaksakan Bagian 3

Sudah satu jam aku hanya menetap layar komputerku. Padahal dokumen-dokumen sudah menumpuk, menunggu untuk dikerjakan. Beberapa hari ini aku merasa tidak bersemangat. Apa karena jawaban dari ayah yang ragu-ragu? Atau karena aku sendiri merasa tak yakin. Kulihat ada notifikasi pesan dilayar komputerku.

Gala typing

“Kamu kenapa sih marah-marah terus sama Adi?”

Lanjutkan membaca “Jodoh Tak Bisa Dipaksakan Bagian 3”

Jodoh Tak Bisa Dipaksakan Bagian 2

Uap secangkir capuccino dihadapnku mulai menghilang. Cepat-cept kuhirup, agar tetap nikmat selagi masih hangat. Kucek lagi to do list di mejaku. Mungkin ada yang terlewat.

Mataku tertuju pada jadwal di kalender. 2 minggu lagi waktunya aku sidang skripsi. Semua sudah selesai. Semoga semua berjalan lancar.

Apa kabar Adi ya? Belakangan kami jarang berkomunikasi. Meski beda kampus, jadwal skripsi kami berbarengan. “Ya tapi harusnya tetap lancar dong ya komunikasinya!” hati kecilku berbisik. Akupun mengirimkan pesan untuknya. Berharap segera dibalas.

Lanjutkan membaca “Jodoh Tak Bisa Dipaksakan Bagian 2”