Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu

Refleksi seorang ibu tentang pagi yang tergesa, ritme anak yang berbeda, dan belajar menurunkan ekspektasi agar hari dimulai dengan lebih sadar dan hangat.

“Ayooo, 10 menit lagi!”

ucapku dengan nada agak tinggi.

Setiap pagi, rasanya seperti sedang berada di camp militer. Semua harus bergerak cepat. Tidak boleh melambat. Tidak boleh lengah. Takut terlambat ke sekolah.

Padahal, aku sendiri tidak pernah ikut camp militer. Bahkan tidak benar-benar paham bagaimana rasanya. Semua bayanganku cuma berasal dari film-film saja.

“Ayo dong. Mama nggak mau balapan di jalan,” tambahku lagi.

Lucunya, aku tidak pernah berkendara lebih dari 40 km per jam. Jalan dari rumah ke sekolah pun padat. Dengan nyali sebesar kacang kenari, rasanya mustahil bagiku untuk ngebut-ngebutan. Tapi tetap saja, kata balapan itu selalu keluar hampir setiap pagi.

Jam berdetak, dan aku belajar tidak ikut berlari.
Lanjutkan membaca “Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu”

Di Antara Kopi yang Dingin dan Percakapan yang Tak Ingin Dimulai

Refleksi ringan tentang menjadi introvert di dunia yang ramai: kopi yang terlupa, telepon yang tak diangkat, dan keinginan kecil untuk tetap punya ruang sunyi sendiri.

Sebagai perempuan yang sering mengaku dirinya introvert, aku cukup sering berhadapan dengan aktivitas yang membuat napas harus ditarik lebih dalam dari biasanya.

Beberapa waktu lalu, aku mengiklankan sebuah kegiatan komunitas melalui WhatsApp Business milikku. Awalnya kukira semua akan berjalan biasa saja. Sampai aku baru sadar—terlambat—bahwa iklan itu ternyata terhubung dengan akun Facebook pribadiku.

Dan begitulah.

Nomor pribadiku mulai ramai.

Kadang bukan kopinya yang melelahkan,
melainkan percakapan yang tak ingin dimulai.
Lanjutkan membaca “Di Antara Kopi yang Dingin dan Percakapan yang Tak Ingin Dimulai”