Setiap kota punya caranya sendiri untuk tinggal di ingatan.
Ada yang hadir lewat bangunan megah, ada yang melekat lewat hiruk-pikuknya.
Balikpapan memilih cara yang lebih tenang—ia tinggal lewat kenangan, kebiasaan kecil, dan rasa pulang yang tidak banyak menuntut penjelasan.
Di usianya yang ke-129, Balikpapan bukan sekadar kota kelahiran. Ia adalah ruang tempat aku belajar mencintai, mengenang, dan menumbuhkan harapan.
