Insecure Bikin Susah Move On

Matahari yang lagi terik-teriknya, tampaknya membuat percakapanku dengan Kak Dani ikut memanas. Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku, sedikit meringankan kegerahan hari ini.

“Harusnya tuh gk gini. Masa bikin berita kayak gitu sih. Kenapa gak coba liput soal ini aja?” kataku sambil menyeruput es jeruk.

“Oke. Nanti minta kontaknya ya,” jawab Kak Dani.

Huh. Mungkin ini salah satu alasan Allah tidak mendekatkan kami saat aku masih menjadi wartawan. Bisa-bisa setiap hari kami adu pendapat soal pemberitaan, salah kata, dan lainnya. Atau bisa jadi urusan pekerjaan bisa membuat hubungan kami tidak berjalan lancar.

Melepas kebiasaan menjadi seorang wartawan, tak mudah buatku. Apalagi resign masih dalam hitungan minggu. Jetlag. Untungnya Kak Dani cukup dewasa menghadapi aku yang sering lupa daratan. Udah bukan wartawan masih aja rese soal berita. Namun, keriwehanku mungkin membuat Kak Dani punya sudut pandang lain untuk pemberitaanya.

Hampir setiap bertemu, percakapan kami masih seputar pemberitaan. Sampai suatu hari aku menyadari, kalau aku lelah dengan percakapan itu. “Bisa gak, kita ngobrolin yang lain aja. Apa kek, film buku atau apa gitu,” ungkapku.

“Capek ya?” tanyanya.

“Iya. Aku masih belum rela berhenti kerja kayaknya. Tapi kalau gini terus, aku gak maju-maju dong. Gk move on,” ujarku.

“Oke. Mulai sekarang kita gk usah diskusi soal pemberitaan,” katanya sambil mengetok meja seperti seorang hakim di persidangan.

Dan benar, setelah percakapan itu perasaanku sedikit ringan. Dengan cepat aku bisa beradaptasi dengan hari-hariku sebagai anak rumah tangga. Bahkan sampai saat ini, setelah Kak Dani menjadi suami kami tidak pernah berdiskusi soal beritanya. Jika Kak Dani bercerita mengenai berita yang akan terbit, aku lebih banyak mendengarkan. Tidak ada lagi sanggahan atau kritikan. Paling jauh, Kak Dani meminta kontak orang-orang yang dia butuhkan. Berharap istrinya masih menyimpan nomer narasumbernya dulu.

Sesekali, jika ada sesuatu yang sedang ramai dibicarakan aku pun mengutarakannya. Mungkin bisa dijadikan pertimbangan untuk diberitakan. Namun tentu saja, yang diutarakan tidak jauh-jauh dari urusan perempuan.

Suatu hari, aku menyadari penyebab susah melangkah alias susah move on setelah resign ini. Aku tidak lagi percaya diri ketika berada di lingkungan ex-teman sekantor. Seperti merasa mereka bukan lagi menjadi circle ku. Padahal ya mereka biasa aja. Tapi dari situlah, akhirnya aku bisa belajar di circle-circle lain. Circle yang aku butuhkan untuk belajar dan berbagi. Dan yang ternyata circle baru ini ikut membentukku menjadi pribadi lebih baik lagi.

Meski kadang ada perasaan, kok mereka ngumpul gk ngajak aku ya? 😂. Tapi lagi-lagi hatiku berkata, it’s ok. Terima dan jalani yang ada sekarang. Yang penting tetap menjaga hubungan pertemanan dengan baik.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

4 tanggapan untuk “Insecure Bikin Susah Move On”

      1. Menuju 40 dah ngrasain beberapakali gonta ganti circle mbak..ya namanya kehidupan..tapi alhamdulillah sahabat terbaik sampe saat ini masih tetap bertahan..bapak ketua geng namanya..😅

        Suka

Tinggalkan Balasan ke fernati Batalkan balasan