Ada malam-malam yang terasa biasa saja. Tidak ada pencapaian besar. Tidak ada kejadian dramatis. Hanya rutinitas, suara anak-anak, dan kelelahan yang pelan-pelan turun bersama gelap. Tapi justru di malam seperti itulah, kadang datang kalimat yang membuat hati berhenti sejenak.
“Mah, mamah adalah yang terbaik,” kata Bunga menjelang tidur. Ia memberiku ciuman dan pelukan yang sangat erat.
Aku hampir saja menjawab dengan nada bercanda, “Ih, ada apa nih? Kok tiba-tiba muji-muji?” Untung kalimat itu tidak sempat keluar. Otakku cepat mengingatkan: terima saja. Jangan dicurigai. Jangan dipelintir. Anakmu sedang tulus.

“Wah, terima kasih. Hari ini mamah sudah berusaha menjadi mama yang lebih baik dari kemarin. Terima kasih Bunga sudah berusaha juga. Bunga adalah anak ketiga yang terbaik,” jawabku.
Cinta, si sulung, yang mendengar langsung mengernyitkan kening. Bukan karena aku dipuji, tapi karena adiknya disebut “terbaik”.
“Ih, dia terbaik apanya!” katanya penuh selidik.
“Lho, benar kan. Bunga anak ketiga yang terbaik,” kataku sambil memberi penekanan pada kata ketiga.
Ia pun paham. Aku memang selalu menyebutkan urutan mereka saat memberi pujian. Anak pertama terbaik sebagai anak pertama. Anak kedua terbaik sebagai anak kedua. Anak ketiga terbaik sebagai anak ketiga. Strategi kecil agar iri-irian tidak tumbuh diam-diam.
Setelah mereka terlelap, aku terdiam.
Apa yang membuatku disebut “yang terbaik” hari ini?
Karena aku tidak marah?
Karena tidak ada nada tinggi?
Karena omelan berhasil kutahan?
Seingatku, hari ini tidak ada yang istimewa. Aku memang tidak marah-marah, tapi tetap saja ada mata yang memicing, ada helaan napas panjang, ada ekspresi kesal yang mungkin mereka tangkap.
Kadang aku ingin menjadi ibu peri di rumah ini. Yang sabarnya tanpa batas. Yang lembutnya konsisten. Yang tak pernah kelelahan.
Tapi nyatanya, aku hanya ibu biasa. Dengan emosi yang kadang naik turun. Dengan pikiran yang kadang penuh. Dengan tenaga yang kadang habis sebelum hari selesai.
Dan mungkin… justru karena itulah kalimat itu terasa begitu berharga.
Karena di mata anak-anak, menjadi “yang terbaik” tidak selalu berarti sempurna. Mungkin cukup hadir. Cukup mencoba. Cukup tidak menyerah.
Hari ini, menurut mereka, aku ibu yang baik.
Besok? Kita lihat nanti.
Kalau besok aku terpeleset. Kalau besok nada suaraku meninggi. Kalau besok kesabaranku menipis—semoga mereka tetap melihat usahaku. Dan semoga aku pun cukup rendah hati untuk meminta maaf.
Karena menjadi ibu bukan tentang konsistensi tanpa cela.
Tapi tentang kesediaan untuk terus belajar, memperbaiki, dan bertumbuh—bersama mereka.
Hari ini aku ibu yang baik.
Besok? Kita lihat nanti.
Malam ini, aku memilih bersyukur.