Doraemon dan Nostalgia yang Tidak Pernah Usang

Dari bangun pagi demi Doraemon hingga menjadi ibu yang diam-diam membeli komik lagi. Sebuah nostalgia generasi 90-an yang tumbuh bersama anak.

Sebagai anak generasi 90-an, aku dan banyak anak lainnya tumbuh bersama Doraemon dan Nobita. Hari Minggu selalu terasa istimewa. Di hari sekolah, rasanya ingin sekali bangun siang. Tapi anehnya, ketika hari Minggu tiba, tubuh justru otomatis terbangun lebih pagi—hanya demi satu hal: menonton Doraemon dan kartun lainnya.

Aku termasuk beruntung. Tinggal di perumahan yang memiliki fasilitas perpustakaan kecil. Koleksinya memang tidak banyak, tetapi cukup beragam untuk membuatku betah berlama-lama di sana. Salah satu koleksi yang paling lengkap adalah komik Doraemon. Jika ada seri yang tidak tersedia, itu artinya sedang dipinjam anggota lain. Dan itu sering terjadi.

Sudah membaca komiknya, masih juga menonton animasinya? Tentu saja! Meski alurnya sama, sensasi membaca dan menonton tetap berbeda. Doraemon selalu terasa menyenangkan—hangat, lucu, sekaligus penuh pesan sederhana tentang persahabatan.

Anak 90-an mana suaranya? 🙋🏻‍♀️💙 Bangun pagi di hari Minggu demi Doraemon.

Beberapa bulan terakhir, Cinta mulai menyukai komik. Bedanya, selera komiknya tidak selalu sama dengan Mamanya. Setiap kali ke toko buku, aku berniat fokus membeli novel atau buku pengembangan diri. Tapi entah kenapa, langkahku sering berhenti di rak komik. Dan ya… selalu ada satu yang ikut masuk ke keranjang belanja.

Kali ini aku memilih Doraemon: Nobita’s New Dinosaur—versi yang tidak berseri, supaya tidak perlu kepikiran membeli lanjutannya. (Meski dalam hati tahu, kemungkinan besar aku akan tetap membelinya lagi. Ha-ha.)

Jika dulu komik Doraemon identik dengan hitam putih, edisi sekarang hadir dengan warna yang lebih hidup. Daya tariknya terasa berbeda. Lebih modern, tapi tetap membawa nuansa nostalgia.

Dalam cerita ini, Nobita dan teman-temannya mengunjungi museum dinosaurus. Seperti biasa, Nobita menemukan sesuatu yang tidak dianggap serius oleh teman-temannya—sebuah batu yang ia yakini sebagai fosil telur dinosaurus. Dengan penuh keyakinan (dan tentu saja bantuan alat Doraemon), telur itu berhasil ditetaskan.

Masalah pun muncul. Bagaimana merawat dinosaurus kecil itu? Di sinilah persahabatan mereka diuji. Meski Giant dan Suneo sering menggoda Nobita, mereka tetap membantu. Bersama-sama mereka menjaga, melindungi, dan berusaha mengembalikan makhluk purba itu ke tempat yang semestinya.

Dari cerita sederhana ini, aku kembali diingatkan: Doraemon tidak hanya soal alat ajaib. Ia tentang keberanian mencoba, tentang setia menemani, dan tentang persahabatan yang tetap tinggal meski sering bertengkar.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa Doraemon tidak pernah benar-benar usang. Ia tumbuh bersama kita. Dari anak 90-an yang bangun pagi demi kartun, hingga menjadi ibu yang masih membeli komik untuk dirinya sendiri.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar