Kadang hidup mempertemukan kita kembali pada bagian diri yang pernah begitu menyala. Lewat undangan kecil. Lewat notifikasi yang tampak biasa saja.
“Eh, ada undangan zoom nih,” kata Mbak Yona. Salah satu temanku di komunitas. Meski komunitas ini sudah lama sekali vakumnya, grup pengurusnya tidak pernah bubar. Mungkin karena secara emosional, kami masih saling terikat. Namun untuk menjalankan visi dan misinya, tidak lagi sekuat dulu.
“Aku juga dapat undangan nih,” sahutku. Tampaknya undangan diberikan kepada kami yang berstatus admin WAG. Ha-ha.
Pikiranku kembali melayang ke beberapa tahun lalu.

Aku yang saat itu masih berstatus single. Usiaku mulai matang. Jobdesk di halaman remaja sudah terasa tidak lagi pas. Tapi saat itu, wartawan perempuan di kantorku masih sangat sedikit. Di awal aku bekerja, hanya ada tiga orang. Satu per satu berhenti. Padahal ketiga perempuan ini diharapkan bisa menjadi wartawan yang akrab dengan narasumber perempuan. “Biar kalau ngobrol lebih nyambung,” kata redakturku waktu itu.
Perlahan-lahan, wartawan perempuan mulai bertambah. Hanya saja mereka memilih tetap berada di halaman remaja. Hingga suatu hari salah satu redaktur terlihat putus asa. Seorang klien yang dekat dengan direksi komplain. Bukan soal berita, tapi soal wartawan yang dianggap tidak bisa mengikuti ritme si klien.
Aku yang saat itu sedang berada di fase ingin terlihat lebih feminine, berjalan melewati sekumpulan bapak-bapak redaktur.
“Eh, gimana kalau Riska aja yang kita sodorin. Kayaknya dia bisa meng-handle si ibu deh,” kata salah satu seniorku.
Aku menatap tajam.
“Maksudnya apa nih?”
“Eh setuju. Kami yakin ini saatnya kamu bergeser dari halaman anak muda, Ris. Kamu harus berada di tempat yang seharusnya. Halaman yang khusus mengulas soal perempuan,” tambah pemimpin redaksi.
Sejak saat itulah aku akrab dengan dunia perempuan. Dunia para ibu. Dunia yang sebelumnya terasa asing.
Aku meliput soal keluarga, kesehatan perempuan, parenting, dapur, hingga isu-isu yang sering dianggap remeh tapi sebenarnya sangat dalam. Dan mungkin karena aku masih awam, rasa ingin tahuku justru sangat besar. Aku belajar sambil bekerja. Menggali topik bukan hanya sebagai wartawan, tapi sebagai perempuan yang sedang mencari makna.
Salah satu topik yang membuatku sangat bersemangat adalah tentang menyusui. Alasannya sederhana, karena ibuku menyusuiku sampai dua tahun dengan mudah. Tapi tante dan kakak pertamaku sangat kesulitan dalam proses menyusui. Pertanyannku saat itu, “kok bisa?”. Bukannya menyusui tinggal “buka” dan lep!
Aku membaca banyak referensi. Bertemu konselor laktasi. Mengikuti diskusi. Menulis artikel. Menghadiri acara. Sampai-sampai aku pernah berada di fase yang sekarang kalau kuingat bikin aku senyum malu: fase “ASI Nazi”.
Fase ketika aku merasa semua ibu harus menyusui. Fase ketika aku melihat kegagalan menyusui sebagai kurangnya usaha. Maaf ya buuuuuu… sungkem panjang.
Alhamdulillahnya, aku dipertemukan dengan perempuan-perempuan hebat yang dengan lembut mengembalikanku ke jalan yang lebih bijak. Mereka mengajarkanku bahwa kampanye tidak bisa dilakukan dengan menghakimi. Bahwa setiap ibu punya cerita. Punya luka. Punya perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Mengkampanyekan ASI harus dengan perlahan. Dengan empati. Dengan pelukan, bukan tudingan.
Dan di situlah aku belajar: menjadi benar saja tidak cukup. Kita juga harus menjadi hangat.
Sampai hari ini perjuangan mengkampanyekan ASI masih terus ada. Hanya saja energiku dan teman-teman seperjuangan dulu mungkin sudah tidak sekuat sebelumnya. Hidup bergerak. Peran berubah. Prioritas bergeser.
Estafet itu memang harus diteruskan. Oleh mereka yang punya tenaga lebih. Waktu lebih. Dedikasi lebih.
Dan kini, setelah aku sendiri menjadi ibu, aku melihat semuanya dari sudut yang berbeda. Aku tidak lagi berbicara sebagai wartawan yang penuh data dan semangat kampanye. Aku berbicara sebagai perempuan yang pernah lelah, pernah ragu, pernah menangis diam-diam karena merasa tidak cukup. Menjadi ibu membuatku paham bahwa setiap keputusan lahir dari situasi yang tidak selalu sederhana. Ada faktor fisik, mental, dukungan, bahkan kondisi ekonomi yang tidak bisa disamaratakan. Dari sanalah aku belajar, bahwa empati jauh lebih penting daripada sekadar benar.
Setiap kali ada undangan zoom seperti kemarin, aku sadar satu hal.
Api itu mungkin tidak lagi menyala besar.
Tapi bara kecilnya masih ada.
Dan mungkin memang begitu seharusnya.
Tidak semua perjuangan harus kita genggam selamanya.
Ada yang cukup kita mulai.
Lalu kita percayakan pada generasi berikutnya.
Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan siapa yang paling keras bersuara.
Melainkan siapa yang tetap mau merangkul.