Beberapa hari lalu saya menuliskan sedikit cerita perjalanan tatur Cinta di sini. Alhamdulillah, semakin hari perjalanan kami semakin lancar. Bahkan, Cinta sudah bisa jalan-jalan tanpa clodi. Seperti saat belanja bulanan 2 hari lalu. Dari rumah, saya sengaja menggunakan celana dalam tatur. Tentu saja, saya membawa persiapan “perang” lebih banyak dari biasanya. Saya pun harap-harap cemas!
Penulis: Riska Fikriana Moerad
Review Buku : Anti Stres Menyusui – dr Asti Praborini Sp.A., IBCLC & dr Ratih Ayu Wulandari, IBCLC
Mempersiapkan diri untuk banyak hal tampaknya sudah jadi kebiasaan untuk saya. Jangan-jangan ini zona nyaman saya. Ngomong-ngomogn soal persiapan, ada satu hal yang tentunya menurut saya wajib untuk calon ibu. Belajar mempersiapkan diri menjalani kehamilan, persalinan, menyusui dan pengasuhan.
Postingan kali ini saya akan membahas tentang menyusui. Saya memang belum menjadi konselor menyusui, tapi saya selalu bersemangat jika ada hubungannya dengan menyusui. Alhamdulillah saya mendapatkan pengalaman indah dan menyenangkan selama menyusui. Ini tak lain dan tak bukan karena saya sudah mengenal dan belajar sejak belum menikah.
Puasa Ibu Menyusui
Di hari ke 16 Ramadan, siapa yang masih kuat puasanya? Duh, berasa zaman SD ya, ditanya kuat atau gak 😂. Tapi sebagai ibu menyusui, embun di botol air memang menggoda. Apalagi pas jam nyuapin anak kecil, mesti sadar diri gk nyuapin makanan ke mulut sendiri. Ini karena faktor kebiasaan. Yups, saya emang punya kebiasaan icip-icip makanan bayi sampe habis.
Apa perbedaan puasa tahun ini dengan tahun lalu?
Bahagiakan Diri dengan Buku Perjuangan Para Ibu
Bahagia itu sederhana! Bener toh! Iya bener ! *maksa*. Apalagi mamak-mamak macam saya, dapat notifikasi mbanking pun bahagia *eaaaaaaa*

Saya meyakini, bahagia itu bisa kita ciptakan sendiri. Apapun bentuknya, kita sendirilah yang bisa menciptakan kebahagian. Salahsatu cara saya membahagiakan diri adalah memberi apresiasi (pada diri sendiri, ha-ha). Dengan apa? Membeli buku-buku. Tapi kapan terakhir kali saya membeli buku untuk diri sendiri? Tampaknya setelah punya anak, jatah belanja buku untuk pribadi berkurang. Lanjutkan membaca “Bahagiakan Diri dengan Buku Perjuangan Para Ibu”
Saatnya Menjadi Pejuang Tatur
Menjadi seorang ibu tentu akan melewati fase menyusui, memberikan MPASI, menggendong dan masih banyak lagi. Saat anak mulai beranjak besar, tentu saja ada fase yang tidak mungkin bisa diabaikan. Yaitu mengajari anak pipis dan bab di toilet. Yups, Tatur atau lebih dikenal dengan sebutan Toilet Training. Ngomong-ngomong saya mengenal kata #pejuangtatur dari postingan training pants cuddle me, he-he.
Kapan sih waktu yang tepat menatur anak? Berdasarkan cerita teman-teman, rata-rata memulai di usia 2 tahun. Ada yang cepat, tapi ada juga yang butuh perjuangan. Dan seperti belajar hal-hal lain, butuh waktu untuk belajar. Untuk bab di kamar mandi, saya sudah mengajarkan Cinta sejak usia 6 bulan. Setiap melihat tanda-tanda mau bab, saya segera mengangkatnya ke toilet. Belajar bab di toilet, malah lebih mudah dan cepat saat kami sekeluarga liburan ke Jogja.
Lanjutkan membaca “Saatnya Menjadi Pejuang Tatur”
Lomba Balita Sehat
Pagi tadi, Puskesmas Kampung Baru Tengah, Balikpapan Barat diramaikan suara bayi dan balita. Ya namanya juga puskesmas, wajar ada suara riuh anak-anak kan! He-he. Namun, kami ini, keriuhan bukan karena ada anak yang sakit, tapi karena ada Lomba Balita Sehat tingkat Kelurahan. Sekitar 10 anak (bayi, batita, dan balita) mengikuti lomba ini. Cinta menjadi salahsatu pesertanya.
Nak, Bobo Yuk !
Gak kerasa sudah di bulan Mei. Sebentar lagi, akan bertemu dengan bulan Ramadhan. Insya Allah. Senang sekali rasanya.
Meski sudah di bulan Mei, ternyata saya masih harus berkutat dengan jam tidur Cinta yang mulai “amburadul”. Tidak seperti dulu, tidur siang bisa dua kali dan jam 8 malam sudah tidur. Ya kalaupun terlambat, paling malam hanya jam 10 saja. Sekarang? Duh, kalau sudah ada kakak2 dia rela gk tidur siang sama sekali. Malamny, tidurpun jam 1 malam. Mamak berasa jadi zombie 😩. Apalagi, beberapa PR biasa saya kerjakan di malam hari. Ujung-ujungnya, PR molor. Lanjutkan membaca “Nak, Bobo Yuk !”
#ModyarHood : Mamak Kangen Menggendong
Holaaaaaa,
Akhirnya saya punya kesempatan untuk berpartisipasi di #ModyarHood , meski ujung-ujungnya curhat dan ngalor ngidul 😅😅😅.
Apa itu #ModyarHood ? Saya salin tempel dari blognya mbak Puty ya,
#ModyarHood adalah program kecil-kecilan saya bersama Mamamolilo (a.k.a Okke Sepatumerah sebelum jadi ibu hahaha) dengan semangat ‘Walau kadang bikin mau modyar tapi tetap yahud’. Jadi #ModyarHood ini menginisiasi sebuah topik setiap bulannya seputar motherhood yang kemudian akan dijadikan blogpost oleh kami berdua. Diharapkan para buibuk lainnya bisa ikutan menulis blogpost dengan topik tersebut. Tujuannya untuk menampilkan lebih banyak sudut pandang tentang motherhood itu sendiri sehingga kita bisa lebih arif dalam menyikapi perbedaan.
Nah, topik #modyarhood kali ini adalah soal momen ibu dan anak apa yang dikangenin…….
Setelah ngelamun sambil nonton tv **bisa gitu🤔* ternyata yang paling saya kangenin adalah menggendong Cinta. Sampai sekarang sih, Cinta masih doyan digendong. Hanya saja tidak seperti dulu sebelum dia mulai belajar berjalan.
Saya percaya bahwa menggendong ikut andil besar dalam membentuk bonding ibu dan anak. Bukan tanpa alasan, karena sependek kehidupan saya saat ini ikut dipengaruhi oleh bonding yang dibentuk oleh embah. Bapak dari ibu saya. Seperti halnya menyusui, menggendongpun tidak selamanya bisa dilakukan. Ketika anak sudah bisa berjalan, anak pasti akan memilih untuk berjalan daripada digendong.
Agar Jiwa dan Raga Tetap Waras
Sebagai mamak yang baru punya satu anak, boleh jadi saya minim pengalaman dan pengetahuan. Saya masih dan terus belajar bersama tentang pengasuhan.
Saya acungi jempol untuk para ibu yang punya lebih dari satu anak terutama yang tanpa mengasuh anaknya tanpa bantuan keluarga atau asisten.
Di usia Cinta yang mulai aktif-aktifnya, ternyata saya harus lebih menjaga kesehatan dan kebugaran. Serius! Dulu saya tidak pernah membayangkan menemani anak bermain akan menguras energi, saya jadi gampang kelaparan, padahal emang tukang makan. Makanya saya selalu menyukai anak-anak yang aktif bergerak.
Tapi ternyata, jika kurang dalam banyak hal seperti istirahat, makan, dan lain-lain bisa membuat saya “kurang waras”. Beruntung, saya tinggal bersama ibu dan paman yang rumahnya bersebelahan. Jadi ketika saya mulai menunjukkan tanda-tanda keluar tanduk. Saya memilih “mengungsikan” anak sejenak. Me time tipis-tipislah 😂. Meskipun 5 menit kemudian si anak akan kembali mencari mamaknya. Selalu saya tanamkan bahwa ini semua tidak akan lama. Jadi standard kebahagian dan kerapian pun sudah saya turunkan serendah-rendahnya. Termasuk pura-pura tidak mendengar ketika ibu saya “ngomel” rumah yang berantakan. Sebisa mugkin saya bersihkan, tapi yaa namanya juga orangtua penginnya rumah selalu besih kan? Jadi, omelan ibu saya tidak pernah masuk ke dalam hati. Mungkin ibu saya yang makan hati anaknya disuruh beres-beres tapi beresnya begitu-begitu saja.
Karena energi saya tidak seperti dulu *berasa tua 😩*, maka saya menerapkan beberapa hal baru. Seperti :
– Berusaha cukup istirahat
– makan tepat waktu, dietnya besok aja *begitu terus sampai planet pluto kembali ke galaksi bima sakti*
– minum vitamin, karena sering lup, saya ganti vitamin dengan madu. Meski kadang suka lupa juga
– tetap aktif bergerak misalnya jalan kaki. Selain menyalurkan energi cinta, jalan kaki juga agar tubuh saya tetap bergerak aktif. Karena olahraga rutin belum bisa saya lakukN.
– dan yang paling utama, beri jiwa kebahagian. Kalau saya, salah satunya dengan menulis.
Review Skincare : Dear Klairs, Supple Preparation Facial Toner
Sejak dulu, penggunaan toner sering kali saya abaikan. Apalagi, yang saya ketahui penggunaan toner hanya untuk membersihkan wajah. Ternyata, penggunaan toner wajah menjadi rangkaian yang penting dalam perawatan kulit wajah.
Yups, penggunaan toner yang dulu saya ketahui malah seperti halnya pembersih make up. Iyuh. Salah besar. Selain itu, yang tidak saya sukai dari toner (yang dulu pernah saya pakai) adalah aroma alkohol yang cukup menyengat. Eh, kecuali toner dari klinik kecantikan yang pernah saya pakai dulu sih. Tapi, selain itu, sama. Eits, itu dulu. Sekarang tidak lagi.
Lanjutkan membaca “Review Skincare : Dear Klairs, Supple Preparation Facial Toner”