Tetangga Oh Tetangga

Sebuah masalah, belum tentu besar. Bisa jadi sudut pandangnya saja yang berbeda. 

Beberapa waktu lalu, aku tidak sengaja (yang akhirnya keterusan) membaca sebuah thread di X. Sebut saja A. Si A tinggal di sebuah perumahan. Namun karena juga memiliki usaha, A mengontrak sebuah rumah di blok yang berbeda. Di rumah A, tetangga-tetangganya sangat baik. Sayangnya di kontrakan usahanya, ada satu tetangga yang terkenal “menggemaskan”. A menyebutnya sebagai bude. Bude, sebenarnya tipe extrovert. Mudah sekali akrab dengan orang baru. Tapi ternyata ada sifat buruk si bude yang membuat kesal tetangga-tetangga di bloknya. Bahkan sifatnya itu sampai terdengar ke blok-blok lainnya. 

Lanjutkan membaca “Tetangga Oh Tetangga”

Bunga di Tanggal 14

“De, coba lihat setiap meja ada bunganya,” kata ibuku tadi malam. 

“Mereka merayakan valentine mah?” Cinta ikut bertanya. 

“Wah, mamah gak tau. Tapi lho mereka cuma dapat buket bunga. Riska sudah dapat bunganya ,” jawabku seraya mengangkat si anak bungsu, Bunga. 

“Ihhhhhhhh, mamah!” teriak Cinta.

Kemarin malam kami sekeluarga makan di restoran favorit. Dari sekian kali kunjungan, sangat jarang sekali kami harus reservasi. Apalagi kunjungan kami di lakukan di hari Jumat. Pernah dulu, kunjungan kami lakukan di malam Minggu. Kami baru dihubungi jam 9 malam. Ha-ha. Alhamdulillah, makanan cepat tersaji, jadi jam 10 malam kami pun sudah siap pergi. 

Lanjutkan membaca “Bunga di Tanggal 14”

Minus Mata Hilang, Kok Bisa?

“De, ibu tuh sering ngerasa pusing kalau kelamaan pakai kacamata. Ukurannya berubah atau framenya ya yang berat?” tanya ibuku suatu siang. 

“Bisa dua-duanya. Bukannya periksa kacamata sudah lama ya,” kataku.

“Kalau di RS iya. Sama kamu dulu. Tapi di optik, tiga bulan lalu,” jawab ibuku. 

“Di optik gk bisa jadi patokan sih. Karena petugasnya juga gak kasih jeda, antara kita habis periksa dengan alat dan tidak. Inget gk, masa riska pernah dicek matanya plus. Makanya waktu itu Rea sampe pastikan lagi. Masa iya, diusia yang masih kinyis-kinyis (halah) ini malah sudah plus,” jawabku. 

Lanjutkan membaca “Minus Mata Hilang, Kok Bisa?”

Teman Lama

Siapa yang suka menghindari teman lama, padahal tidak punya masalah apa-apa? Siapa yang lebih memilih menunggu sampai berhadapan baru menegur teman lama, daripada memilih untuk mendekati? Sama dong kayak aku. He-he. Tapi selain itu, aku memang belum berjodoh dengan teman-teman lama. 

Namun, pekan lalu aku bertemu salah satu sahabat saat kuliah. Kami bersahabat hampir 4 tahun. Yang membuat kami saling menjauh adalah sahabatku saat itu baru memiliki kekasih yang ternyata cemburu. Sebagai sahabat, aku tentu menjaga perasaan kekasihnya. Maka aku memutuskan untuk menjaga jarak. Ditambah lagi, aku saat itu sedang sibuk-sibuknya bekerja. Buat apa menambah beban drama persahabatan, toh. 

Lanjutkan membaca “Teman Lama”

Selain Donatur, Dilarang Mengatur

Selain donatur, dilarang mengatur !

Sebuah kalimat yang tampak sederhana, tapi ternyata sering sekali aku dengar melalui konten-konten di media sosial yang aku ikuti. Awalnya, aku tidak pernah merasa ada keanehan sama sekali dengan pernyataan tersebut. Malahan, aku sangat setuju. Karena kebanyakan dari konten-konten yang beredar itu, beberapa netizen selalu mengatur si pemilik akun. Padahal kontribusinya ya hanya sebatas menonton. Tidak ada kritik dan saran yang membangun sama sekali. 

Sumber : Canva
Lanjutkan membaca “Selain Donatur, Dilarang Mengatur”

IGD oh IGD

Aroma karbol menyeruak ke hidungku. Dinginnya udara malam senada dengan dinginnya AC di IGD RSUD Kanujoso Djatiwibowo. Sekelebat bayangan yang telah lalu kembali muncul. Lorong rumah sakit, infus, beraneka macam obat-obatan dan suntikan, serta semua hal yang berhubungan dengan rumah sakit silih berganti seperti adegan film yang diputar cepat. 

Kunjunganku malam ini ke IGD karena mengantar suami yang sejak kemarin malam mengeluhkan rasa terbakar di lambungnya. Rasa panas itu semakin membuatnya tidak nyaman. Padahal siangnya, kondisi sudah lebih baik. Kami memutuskan untuk ke IGD, agar penanganan lebih cepat dan tepat. 

Lanjutkan membaca “IGD oh IGD”

Beli Oleh-Oleh? Boleh Sih! Tapi Direm ya

“De, coba deh perhatikan. Ibu itu sering banget lho berlebihan. Gak semua orang harus disenangin. Kalau memang gak bisa, gak mampu jangan dipaksakan deh,” kata mbakku suatu hari. Awalnya aku tidak paham apa maksud perkataan mbakku. 

Yang aku tahu, ibuku memang sangat suka berbagi. Saat ada acara di rumah, maka tetangga dan keluarga besar akan dibagikan makanan yang jumlahnya banyak. Saat ada yang bertanya “gak kebanyakan?” Maka ibu akan menjawab “Ya gak enak dong kalau sedikit,” 

Lanjutkan membaca “Beli Oleh-Oleh? Boleh Sih! Tapi Direm ya”

Nostalgia

Apa yang membuat Anda bernostalgia?

Nostalgia. Sebuah kata yang kalau dipikir-pikir, terasa umurnya sudah mulai menua ya. Tapi memang tidak selalu sih. Karena saat remaja pun, aku juga suka bernostalgia. Tentang apa? Tentang kebersamaanku dengan bapak. Mungkin karena saat kecil aku punya banyak sekali waktu berduaan dengan bapak. Sebaliknya saat beranjak remaja, ada banyak keterbatasan. 

Aku juga terlatih untuk bersikap maskulin. Hal ini sering menjadikan aku anak yang tidak mau dibantu atau merasa tidak butuh bantuan. Dan sebagai anak remaja, tentu saja gejolak jiwa mudaku banyak bertanya-tanya dan ingin berontak. Namun, aku adalah anak yang penurut. Lebih baik memendam banyak pertanyaan daripada melontarkannya pada ibu atau bapak. Karena ada dua kemungkinan jawaban yang akan aku dapat. Jawaban yang tidak jelas atau kalimat “anak kecil tidak perlu tau!” Ha-ha. 

Lanjutkan membaca “Nostalgia”

Selamat Datang 2025, Apa Targetmu Tahun ini?

Selamat datang 2025.

Ternyata sebulan kemarin secara tidak sadar aku tidak memposting apapun di blog ini. Padahal, beberapa tulisan sudah disiapkan. Lah, kenapa belum di publish? Karena belum sampai selesai. Ha-ha. 

Desember 2024 rasanya seperti berada di arena balap motor. Aku yang biasa berkendaraan tidak pernah lebih dari 40 km/jam, rasanya dag dig dug ser! Meski begitu, alhamdulillah semua bisa dilewati sebaik mungkin. 

Lanjutkan membaca “Selamat Datang 2025, Apa Targetmu Tahun ini?”

Saat Kembali Membaca

Kalau sudah menjadi istri dan ibu, pasti ada yang berubah. Tidak bisa seperti dulu saat masih sendiri. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah sebuah pengorbanan. Dulu aku juga merasa seperti itu. Yang aku lakukan buat anak-anak adalah salah satu pengorbananku sebagai seorang perempuan. 

Aku yang suka membaca, memutuskan untuk berhenti membaca novel. Padahal novel adalah salah satu alasan aku tertarik membaca. Aku merasa bahwa membaca buku anak-anak jauh lebih penting. Mengisi waktu membaca buku dengan anak jauh lebih baik daripada aku menghabiskan waktu membaca untuk diri sendiri. 

Lanjutkan membaca “Saat Kembali Membaca”