Siapa Takut Masuk SMA ? – Quinsha R Shita

Siapa takut masuk SMA? Memangnya kenapa dengan SMA? Buat anak-anak yang bersekolah di SMA sepertiku pasti akan bingung dengan pertanyaannya. Tapi buat anak-anak yang bersekolah di pondok pesantren, pasti akan dag dig dug duer dengan pertanyaan seperti itu. Bagaimana kalau kita balik saja, siapa takut masuk pondok? Errr, kalau pertanyaan itu dilemparkan dulu saat remaja, pasti aku takut banget. 

Apalagi dulu yang selalu aku dengar, pondok pesantren adalah tempat anak-anak agamis atau malah sangat bandel. Jadi kalau orang tuanya gak optimis dengan bekal akhirat, ya pesimis sama anaknya.  🙏🏻 

Cover Siapa Takut Masuk SMA di Playbook
Lanjutkan membaca “Siapa Takut Masuk SMA ? – Quinsha R Shita”

Saro Coffee and Eatery, Tempat Nongkrong Paket Lengkap

Mau nongkrong tapi harus bawa anak-anak? Pengin ada lokasi indoornya? pengin yang bikin anak-anak betah? Atau pengin sekalian cuci mobil? Nah ada Saro Coffee and Eatery, tempat nongkrong yang disukai banyak orang. Ada banyak sih alasan kenapa Saro jadi pilihan, di antaranya lokasi kafe yang strategis. Kafe ini terletak di kawasan Perumahan Sepinggan Pratama, Jalan Syarifuddin Yoes, Balikpapan Selatan. Belum lagi vibes di perumahannya selalu membuatku terkagum-kagum. Eh tapi ini akses jalan utama perumahan sih. Ketika masuk ke area cluster, sama saja seperti perumahan biasanya. He-he.

Lanjutkan membaca “Saro Coffee and Eatery, Tempat Nongkrong Paket Lengkap”

Pilih Laundry Self Service atau Drop Off ?

“Aku bisa masak, tapi itu bukan passionku” 

“Aku gak bisa masak. Aku bersyukur banget suamiku gak memaksaku untuk masak sarapan, makan malam dan lain-lain,” 

Tadi pagi muncul cuplikan percakapan dua orang artis, di berandaku. Cuplikan tersebut kembali dibagikan oleh konten kreator yang memang selalu membahas dunia ibu rumah tangga, biasa. Bukan yang dari kalangan artis atau ibu rumah tangga yang punya full support system. 

Misalnya seperti aku yang menyerahkan urusan masak sepenuhnya ke ibu. Alasannya karena ada anak paling kecil yang masih nempelin kemana-mana. Ibu dan suami sama-sama sepakat, bahwa aku harus fokus pada anak. Yang lain nomer sekian. 

Kegiatan lain seperti mencuci dan setrika misalnya, saat hamil sampai anak usia 1 tahun mencuci banyak dilakukan ibu. Dan menyetrika aku serahkan pada pihak ketiga, alias laundry. 

Lanjutkan membaca “Pilih Laundry Self Service atau Drop Off ?”

Zona 7 Hari 7 : Kompos Sisa Buah

Setelah kemarin hari Senin yang terasa kebat-kebit, hari ini terasa santai. Aku memutuskan untuk membuat jus buah. Kebetulan di kulkas ada banyak sekali buah yang tersedia. Ada nanas, jeruk, lemon, kiwi, dan apel.

Jika biasanya aku membuat jus dengam blender. Kali ini aku memutuskan untuk menggunakan slow juicer. Aku menggunakan nanas, jeruk, lemon dan wortel. Karena bukan hanya untukku, aku membuat agak banyak. Supaya ibu dan anak-anak juga bisa dinikmati.

Lanjutkan membaca “Zona 7 Hari 7 : Kompos Sisa Buah”

Zona 7 Hari 6 : Tas Belanja di Pasar Tradisional

Penggunaan plastik sekali pakai di kota Balikpapan harusnya sudah banyak berkurang. Kenapa? Karena sudah beberapa tahun belakangan ini, banyak supermarket yang tidak menyediakan kantong sekali pakai. Lupa bawa tas belanja, artinya kita harus membeli tas belanja yang bisa digunakan berkali-kali. Saat awal sosialisasi dulu, perlu kerja keras. Banyak yang merasa keberatan dengan peraturan ini.

Tapi sekarang sudah banyak yang terbiasa. Sayangnya, penggunaan kantong sekali pakai ini masih jadi hal yang wajar di pasar tradisional. Aku yang sampai saat ini masih memaksakan diri untuk mengurangi sampah plastik sering kebabalasan.

Lanjutkan membaca “Zona 7 Hari 6 : Tas Belanja di Pasar Tradisional”

Zona 7 Hari 5 : Dimana Tumbler Untuk Cinta?

“Ayo kak, sudah jam 9.40. Waktunya kita berangkat,” kataku ke Cinta. Hari ini jadwal Cinta ekstrakurikuler panahan. Karena durasi ekstrakurikuler tidak terlalu lama, aku selalu menunggu di sekolah. Jarak rumah dan sekolah memang tidak terlalu jauh, jadi kalau aku memutuskan untuk pulang, masih sempat untuk leha-leha.

Hanya saja aku malas untuk bolak baliknya. Apalagi jalanan yang kami lewati sedang diperbaiki. Tidak menimbulkan kemacetan, tapi jadi terasa lebih lambat.

Lanjutkan membaca “Zona 7 Hari 5 : Dimana Tumbler Untuk Cinta?”

Zona 7 Hari 4 : Lah, Malah Emak yang Lupa!

“Sayang-sayangku, tolong ya mandinya yang serius. Selain biar cepat, kalau serius jadi hemat air juga,” kataku mengingatkan Cinta dan Rangga saat akan mandi sore.

Biasanya yang suka mandi berlama-lama adalah Cinta. Entah sambil membuat sabun atau menyikat kamar mandi, yang sebenarnya juga sambil bermain.

“Kerannya dinyalain gak mah?” tanya Cinta. Karena air di bak tinggal setengah, akupun mengiyakan pertanyaan Cinta. Karena setalah Cinta, akan menyusul giliran Rangga, Bunga dan terakhir aku. Usai anak-anak mandi, artinya giliran emaknya.

Lanjutkan membaca “Zona 7 Hari 4 : Lah, Malah Emak yang Lupa!”

Romansa Stovia – Sania Rasyid, Sahabat Rasa Saudara

Ebook ini tersedia di Gramedia Digital.

Empat orang sahabat, dipertemukan pertama kali di sebuah sekolah kedokteran. Yasen, Hilman, Asran dan Sudiro. Keempatnya berasal dari suku, daerah dan latar belakang keluarga yang jauh berbeda. Yasen adalah seorang non muslim, berbeda dengan ketiganya. Alasan masuk sekolah kedokteran Stovia pun sebenarnya juga berbeda. Ada yang terpaksa, tapi ada juga yang karena alasan mulai membantu sesama. 

Yasen tidak pernah berniat sekolah kedokteran di Batavia. Apalagi dia sudah memiliki seorang kekasih hati. Orang tua kekasih hatinya, begitu menyukai Yasen. Tapi sayang, tidak dengan kedua orang tua Yasen. Mereka menginginkan Yasen menjadi seorang dokter yang sukses. Ketika Yasen melakukan sebuah kesalahan, tak ada lagi alasan untuknya menolak perintah bersekolah di Batavia. 

Lanjutkan membaca “Romansa Stovia – Sania Rasyid, Sahabat Rasa Saudara”

Zona 7, Hari 3 : Ada Tas Belanjanya Bu?

“Mah, hari ini jadi kan ke Mr.Diy?” tanya Cinta sepulang dari sekolah.

“Hmm, ditunda besok aja ya. Kasihan baby di rumah sama nenek. Kalau kita mampir dulu, nanti makin lama pulangnya,” kataku mencoba bernegoisasi dengan Cinta.

“Yah mah, kan mamah sudah janji. Kita juga sudah menunda-nunda buat ke sana,” pinta Cinta. Keperluan kami ke toko tersebut bukan sekadar jalan-jalan. Memang ada barang yang harus dibeli. Penting sih, tapi tidak mendesak.

Aku berpikir sejenalk. “Ok. Tapi kita hanya punya waktu 15 menit di sana. Setelah sampai langsung cari yang dibutuhkan, bayar dan langsung pulang,” jawabku.

“Iya,” jawab Cinta yakin.

Lanjutkan membaca “Zona 7, Hari 3 : Ada Tas Belanjanya Bu?”

Zona 7 Hari 2 : Bawa Tumbler Dong!

Di hari kedua aktivitas cinta bumi, aku memilih untuk membawa tumbler air putih dan tumber kosong.

Bukannya memang biasa bawa tumbler air putih? Yups! Tapi jika aku berkendaraan dengan mobil. Saat menggunakan motor, aku sangat jarang membawa tumbler. Alasannya, karena tas yang aku pakai selalu berukuran kecil. Sehingga tidak ada tempat untuk menaruh tumblernya.

Lanjutkan membaca “Zona 7 Hari 2 : Bawa Tumbler Dong!”