Ketika ChatGPT Menggambar Siapa Diriku

Refleksi tentang pengalaman mencoba fitur karikatur ChatGPT, jejak digital, dan bagaimana tulisan di Ruang Cerita membentuk gambaran diri—pelan, jujur, dan manusiawi.

Berawal dari melihat postingan seorang content creator bertuliskan,

“Create a caricature of me and my job based on everything you know about me” di ChatGPT.

Gambar yang dihasilkan terasa sangat merepresentasikan siapa mereka di media sosial selama ini. Mungkin hal seperti itu memang terasa mudah bagi ChatGPT. Ia hanya perlu mengumpulkan potongan-potongan informasi yang tersebar di dunia maya, lalu merangkainya menjadi satu gambaran utuh.

Lalu aku bertanya dalam hati, bagaimana dengan aku—yang minim postingan di media sosial?

Apa yang akan disajikan ChatGPT tentang diriku?

Oh… oh… oh. Ternyata aku pun tidak luput dari pantauannya.

Lanjutkan membaca “Ketika ChatGPT Menggambar Siapa Diriku”

Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu

Refleksi seorang ibu tentang pagi yang tergesa, ritme anak yang berbeda, dan belajar menurunkan ekspektasi agar hari dimulai dengan lebih sadar dan hangat.

“Ayooo, 10 menit lagi!”

ucapku dengan nada agak tinggi.

Setiap pagi, rasanya seperti sedang berada di camp militer. Semua harus bergerak cepat. Tidak boleh melambat. Tidak boleh lengah. Takut terlambat ke sekolah.

Padahal, aku sendiri tidak pernah ikut camp militer. Bahkan tidak benar-benar paham bagaimana rasanya. Semua bayanganku cuma berasal dari film-film saja.

“Ayo dong. Mama nggak mau balapan di jalan,” tambahku lagi.

Lucunya, aku tidak pernah berkendara lebih dari 40 km per jam. Jalan dari rumah ke sekolah pun padat. Dengan nyali sebesar kacang kenari, rasanya mustahil bagiku untuk ngebut-ngebutan. Tapi tetap saja, kata balapan itu selalu keluar hampir setiap pagi.

Jam berdetak, dan aku belajar tidak ikut berlari.
Lanjutkan membaca “Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu”

Belajar Menerima Sedih dari Dalam Diri

Refleksi tentang sedih, emosi yang belum selesai, dan inner child—sebuah proses pelan untuk memberi izin pada diri sendiri agar merasa, menangis, dan berdamai.

Ada emosi yang tidak pernah benar-benar pergi.

Ia tinggal diam, menunggu diberi ruang.

Bukan untuk disingkirkan, bukan untuk dilawan — hanya untuk disadari, pelan-pelan.

Tulisan ini adalah bagian dari upaya kecil itu:

belajar mendengar emosi,

belajar berdamai dengan inner child yang belum selesai,

tanpa terburu-buru ingin sembuh.

Lanjutkan membaca “Belajar Menerima Sedih dari Dalam Diri”

Kopi Susu Itu Tidak Salah, Hanya Bukan Punyaku

Cerita ringan tentang kopi susu gula aren, selera yang berbeda, dan pelajaran kecil untuk jujur pada diri sendiri—bahwa tidak semua yang disukai banyak orang harus kita pilih.

“Sayang, kakak bawa kopi t**u,” kata suami sambil membuka pintu kamar.

Ia baru pulang dari Surabaya dan kali ini buah tangannya bukan oleh-oleh khas kota, melainkan sebotol kopi susu. Ha-ha.

Bukan karena istrinya penggemar kopi susu gula aren. Justru sebaliknya. Kopi itu titipan teman-teman kantor, dan entah bagaimana, aku ikut kebagian.

“Udah di dalam kulkas,” tambahnya.

“Oh ya? T**u apa?” tanyaku.

Di kotaku, merek kopi itu belum punya gerai. Aku hanya sering melihatnya lalu-lalang di media sosial—ditenteng orang-orang yang pulang dinas, dititipkan dengan penuh harap pada keluarga yang sedang bepergian.

Kopi susu itu tidak salah. Rasanya juga tidak buruk. Hanya saja, bukan punyaku.
Lanjutkan membaca “Kopi Susu Itu Tidak Salah, Hanya Bukan Punyaku”

Di Antara Kopi yang Dingin dan Percakapan yang Tak Ingin Dimulai

Refleksi ringan tentang menjadi introvert di dunia yang ramai: kopi yang terlupa, telepon yang tak diangkat, dan keinginan kecil untuk tetap punya ruang sunyi sendiri.

Sebagai perempuan yang sering mengaku dirinya introvert, aku cukup sering berhadapan dengan aktivitas yang membuat napas harus ditarik lebih dalam dari biasanya.

Beberapa waktu lalu, aku mengiklankan sebuah kegiatan komunitas melalui WhatsApp Business milikku. Awalnya kukira semua akan berjalan biasa saja. Sampai aku baru sadar—terlambat—bahwa iklan itu ternyata terhubung dengan akun Facebook pribadiku.

Dan begitulah.

Nomor pribadiku mulai ramai.

Kadang bukan kopinya yang melelahkan,
melainkan percakapan yang tak ingin dimulai.
Lanjutkan membaca “Di Antara Kopi yang Dingin dan Percakapan yang Tak Ingin Dimulai”