Review Buku 3600 Detik: Teenlit yang Diam-Diam Menyentil Hati Seorang Ibu

“Di balik sikap memberontak seorang anak, sering kali tersembunyi kebutuhan sederhana: ingin didengar, dipilih, dan tetap dicintai.”

Siapa, sih, yang masih suka baca teenlit sampai sekarang?

Ya aku. Ha-ha.

Padahal, sejak duduk di bangku SMP aku sudah akrab dengan genre ini. Anehnya, meski usia bertambah dan status berubah—bahkan sekarang sudah punya tiga anak—kecintaanku pada teenlit masih bertahan. Mungkin karena teenlit selalu punya cara sederhana tapi jujur untuk membahas luka, kehilangan, dan proses tumbuh yang sering kali kita anggap sepele.

Kali ini aku membaca 3600 Detik karya Charon. Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Sandra, yang tanpa ia sadari sedang berdiri di tengah keluarga yang perlahan retak. Selama ini Sandra merasa hidupnya baik-baik saja. Ia memang tidak terlalu dekat dengan ibunya yang sibuk sebagai wanita karier, tapi hal itu tak pernah menjadi masalah besar baginya. Kehadiran ayah yang hangat dan dekat sudah cukup untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam hidupnya. Bahkan ketidakhadiran ibunya di momen-momen penting pun tak pernah ia persoalkan.

Ebook 3600 Detik – Charon

Sampai semuanya runtuh sekaligus.

Lanjutkan membaca “Review Buku 3600 Detik: Teenlit yang Diam-Diam Menyentil Hati Seorang Ibu”

Liburan Tenang Bersama Keluarga di Deboekit Riverside Resort Balikpapan Timur

“Tempat yang baik tidak hanya memberi pemandangan indah, tapi juga rasa nyaman untuk berlama-lama.”

Menemukan Ruang Bersantai Tanpa Harus Keluar Kota

Kadang aku merasa, yang paling kami butuhkan sebagai keluarga bukan liburan jauh atau itinerary yang padat, tapi waktu untuk benar-benar berhenti sejenak. Duduk tanpa terburu-buru, mengobrol tanpa melihat jam, dan tidur tanpa alarm. Di tengah rutinitas harian, momen seperti itu terasa mewah.

Kami punya kebiasaan kecil saat harus ada tempat untuk (mancing) menenangkan pikiran, suasananya tidak terlalu ramai, dan setiap anggota keluarga bisa menikmati hobinya masing-masing. Ada yang bahagia cukup dengan memancing, ada yang senang berenang, ada juga yang hanya ingin rebahan sambil menikmati pemandangan. Sederhana, tapi itu yang kami cari.

Biasanya, untuk mendapatkan suasana seperti itu, kami memilih pergi sedikit lebih jauh ke luar Kota Balikpapan. Rasanya lebih “dapet” saja tenangnya. Apalagi aku yang sangat menikmati perjalanan darat. Tapi kali ini berbeda. Aku justru menemukan tempat yang mampu menghadirkan rasa liburan tanpa harus pergi jauh dari rumah. Liburan di Balikapan kali ini terasa beda.

Deboekit Riverside Resort di Balikpapan Timur memberi kejutan kecil buatku. Dari suasananya yang tenang, aliran Sungai Manggar yang mengalir pelan, sampai konsep wisatanya yang terasa ramah untuk keluarga. Tempat ini mengajarkan aku satu hal: ternyata, untuk merasa rehat, kita tidak selalu harus pergi jauh. Kadang, yang kita butuhkan hanya tempat yang tepat. Tempat yang tenang, tidak terlalu ramai, dan bisa mengakomodasi hobi masing-masing anggota keluarga.

Deboekit Riverside, resort di Balikpapan
Lanjutkan membaca “Liburan Tenang Bersama Keluarga di Deboekit Riverside Resort Balikpapan Timur”

Tanjakan Patah Hati – C.Samudera , Jika Saja Pagi Bertahan

Tentang cinta, takdir, dan waktu yang tak pernah benar-benar adil

Sebagai tim happy ending garis keras, aku sungguh kesal dengan akhir ceritanya. Bukan semata karena kisah ini tidak berakhir bahagia—tapi karena rasanya… MASIH BISA DILANJUTIN WOY! Serius. Tanganku gatal ingin nyeret penulisnya sambil bilang, “Ini belum selesaiii!”

Pagi Ayub Bahtera jatuh cinta pada seorang gadis bernama Chalanthee. Usia mereka terpaut tiga tahun—Pagi lebih muda. Bagi banyak orang, jarak itu saja sudah cukup untuk meragukan. Ditambah lagi, keduanya hidup dalam ikatan adat istiadat yang begitu kental, yang membuat hubungan ini terasa mustahil sejak awal. Seolah semesta sendiri berkata: jangan.

Tapi sebagai pembaca yang sudah terlanjur sayang, aku cuma bisa bilang: aku mau maksa. T_T

Lanjutkan membaca “Tanjakan Patah Hati – C.Samudera , Jika Saja Pagi Bertahan”

Saat Luka Bicara, Hati Belajar Sembuh

Kadang muncul pikiran yang sunyi: jika seseorang pergi selamanya, apakah ada yang benar-benar merasa kehilangan? Apakah ada yang menyesali hal-hal yang tak pernah terucap?

Menyembuhkan luka bukanlah proses yang cepat. Sebanyak apa pun cinta yang diberikan, trauma tidak serta-merta hilang. Ia membutuhkan waktu—dan kesabaran untuk merawatnya.

Sering muncul pertanyaan… apakah cinta itu masih ada? Apakah ketulusan itu nyata? Atau jangan-jangan semua hanya karena rasa takut kehilangan?

Lanjutkan membaca “Saat Luka Bicara, Hati Belajar Sembuh”