Emosi Ibu dan Rasa Menyesal

Sebuah refleksi emosi seorang ibu—dari pagi yang penuh semangat, ledakan emosi di siang hari, hingga penyesalan saat malam tiba. Belajar memahami diri dan mencari cara menyalurkan emosi dengan lebih sehat.

Menjadi ibu sering kali terasa seperti naik roller coaster emosi. Ada hari-hari ketika semuanya terasa ringan dan menyenangkan. Namun di hari yang lain, emosi bisa datang tanpa permisi—bahkan dari hal-hal kecil yang sebelumnya tampak sepele.

Aku yakin bukan hanya aku yang pernah mengalaminya. Tapi untuk kali ini, aku bercerita tentang diriku sendiri.

Ibu mana yang di pagi harinya tenang, tapi tiba-tiba siang harinya meledak?

Lalu di malam hari menyesal saat menatap anak-anak yang sudah tertidur pulas?

Aku.

Iya, aku.

Belajar memahami diri dan mencari cara menyalurkan emosi dengan lebih sehat.

Pagi hari biasanya dimulai dengan semangat. Bangun tidur rasanya penuh energi dan harapan bahwa hari ini akan berjalan baik-baik saja. Namun ketika anak-anak mulai bersiap untuk menjalani harinya—dengan kecepatan yang menurutku sangat lambat—moodku perlahan berubah.

Rasanya semuanya tidak berjalan seperti yang aku bayangkan.

Apakah ini salah mereka?

Atau sebenarnya aku yang terlalu terburu-buru?

Mungkin aku yang terlalu ingin semuanya berjalan sesuai rencana, sampai lupa menikmati setiap detik yang sedang terjadi.

Apakah aku langsung meledak?

Belum.

Ini masih pagi. Biasanya kesadaranku masih cukup penuh. Apa pun yang mengganggu moodku masih bisa kusadari. Aku masih bisa mengingatkan diriku sendiri.

“Anak-anak mau sekolah. Jangan buat mood mereka berantakan,” kataku dalam hati.

Namun entah bagaimana, menjelang siang hari semuanya bisa berubah. Bukan tanpa sebab tentu saja. Ada banyak rangkaian kecil yang akhirnya menjadi pemicu.

Kadang karena mengantuk. Kadang karena lapar. Ha-ha, klise memang.

Tapi setelah dipikir-pikir, ada pemicu lain yang lebih dalam. Salah satunya adalah kurangnya komunikasi dengan suami. Aku termasuk orang yang tangki kasih sayangnya terisi lewat sentuhan dan kata-kata. Ketika suami sedang sangat sibuk dengan aktivitasnya, aku sering kali merasa limbung tanpa kusadari.

Dan dari situlah emosi kecil yang menumpuk bisa tiba-tiba meledak.

Yang paling berat biasanya datang di malam hari. Saat anak-anak sudah tertidur pulas lebih dulu, rasa menyesal mulai datang pelan-pelan.

Bagaimana caranya agar aku bisa lebih waras dan lebih sabar menghadapi mereka?

Pertanyaan itu sering muncul.

Saat ini, selain banyak berdoa, satu hal yang mulai aku lakukan adalah menulis dan jurnaling. Dengan menulis, aku merasa punya ruang untuk menyalurkan emosi yang tidak sempat keluar dengan baik sepanjang hari.

Menulis membuatku berhenti sejenak, melihat diriku sendiri dari jarak yang lebih tenang.

Dan mungkin, pelan-pelan belajar memahami bahwa menjadi ibu bukan tentang selalu sabar setiap saat. Tapi tentang terus belajar memperbaiki diri, bahkan setelah hari yang terasa berantakan.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar