Keluarga yang Lebih Seru, atau Kita yang Lebih Sering Bersama?

Bagaimana anak melihat keluarga “lebih seru” dan bagaimana kedekatan, waktu, serta pola asuh membentuk hubungan dalam keluarga.

Ada satu momen sederhana, tapi cukup membuatku berpikir lama.

“Mah, ternyata benar ya… kontennya orang yang bilang kalau keluarga mamah lebih asyik daripada keluarga papah.” Cinta bilang itu dengan nada santai. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa cukup dalam.

“Oh ya? Mamah pernah lihat sih konten itu. Memangnya benar?” tanyaku.

“Iya mah. Coba deh, kakak-kakak, abang, ibu, ayah, bunda, umi, abi… semua asyik. Bahkan mbah Budi yang jarang ketemu juga seru,” jelasnya panjang lebar.

“Hmmm… iya sih ya,” jawabku pelan.

Lalu tiba-tiba Cinta balik bertanya, “Mamah sendiri gimana? Keluarga nenek atau akung yang seru?”

Aku tertawa kecil.

“Sejujurnya nih kak… mamah nggak pernah dekat sama keluarga akung,” kataku.

Cinta langsung melengos. Seperti menemukan pembenaran dari apa yang dia rasakan. 

Aku buru-buru menambahkan, “Tapi nggak semua begitu ya kak. Buktinya kakak-kakak tetap akrab sama keluarga ayah. Ibu juga dekat banget sama keluarga ayah.”

“Iya sih mah… tapi kakak Icah pernah bilang kalau keluarga dari ibu lebih seru,” katanya lagi. 

Aku tersenyum. “Lebih seru, bukan berarti yang lain nggak seru kan? Mungkin… kita hanya lebih sering bersama.” 

Karena memang itu yang aku sadari. Kedekatan sering kali bukan tentang siapa yang lebih baik, tapi siapa yang lebih sering hadir.

Aku sendiri, kalau diingat-ingat, memang tidak pernah dekat dengan keluarga dari pihak bapak. Berbanding terbalik dengan mbakku. Keluarga jauh, keluarga dekat, dari pihak ibu maupun bapak—semuanya dia kenal. Kadang aku suka membayangkan, bagaimana dulu kami tumbuh dalam rumah yang sama, dengan dua karakter yang begitu berbeda. Aku yang cenderung diam. Dia yang begitu mudah berbaur. Dan mungkin… itu juga memengaruhi caraku melihat keluarga. Aku mendapatkan sudut pandang lain dari mbakku. 

Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin ini bukan soal siapa yang lebih hangat. Tapi tentang zaman dan pola yang berbeda. Dulu, para bapak sering kali terlihat lebih kaku. Ada jarak yang tidak terlihat, tapi terasa. 

Berbeda dengan sekarang, banyak bapak yang sedang belajar— untuk hadir, lebih dekat, lebih hangat dengan anak-anaknya. Dan di sisi lain, pola asuh dalam keluarga juga ikut membentuk. Di keluargaku, laki-laki dari pihak ibu justru dikenal hangat dan seru. Mungkin karena mbahku dulu harus membesarkan anak-anaknya seorang diri. Sejak saat itu, peran di rumah tidak lagi dibagi secara kaku. Anak laki-laki terbiasa membantu. Memasak, membersihkan rumah, mencuci—semua dilakukan bersama. Dan tanpa sadar, itu membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih terlibat.

Di titik ini, aku justru belajar satu hal yang sederhana. Bahwa hal-hal seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci, bukan sekadar “pekerjaan rumah”. Tapi basic life skill. Yang seharusnya dimiliki oleh siapa saja. Laki-laki maupun perempuan. Karena pada akhirnya, kita semua akan sampai di fase hidup di mana kita harus berdiri sendiri. Dan di momen itu, kemampuan kecil yang dulu terlihat sepele, justru menjadi penolong terbesar. 

Mungkin, yang terlihat “lebih seru” itu bukan karena satu keluarga lebih baik dari yang lain. Tapi karena ada lebih banyak waktu yang dihabiskan bersama. Lebih banyak cerita yang dibagi. Dan lebih banyak kehadiran yang terasa. Dan di tengah semua itu, aku menyadari bahwa kedekatan bukan sesuatu yang datang begitu saja. Tapi sesuatu yang dibangun dari waktu, dari kebiasaan dan dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama. 

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar