Apakah memaafkan itu mudah diberikan? Apakah melupakan itu ringan dilakukan? Sayangnya, itu sering kali lebih enteng diucapkan, tapi di hati terdalam tetap begitulah. Bagaimana caranya kita memeluk erat semua rasa marah, benci, sakit hati, ketika itu bahkan baru mulai dibicarakan saja sudah menyakitkan? Bagaimana berdamai dengan situasi tersebut?
Itulah yang tertulis di bagian cover buku. Eits, seperti biasa disclaimer dulu nih. Tulisan ini lagi-lagi mengandung bocoran. Kadang suka lupa kalau kebanyakan bocornya, he-he.
“Ah, cuma gelas custom gini, apa sih istimewanya?”
Jujur saja, itu adalah suara hatiku bertahun-tahun silam. Aku gak merasa istimewa dengan gelas bergambar tertentu. Apalagi kalau gelas tersebut pemberian dan tidak punya keterikatan denganku. Ya udah, sesuai fungsinya saja. Gelas untuk minum.
Aku sebenarnya merasa aneh kalau ada yang memajang gelas-gelas custom. Atau gelas sovenir pernikahan. Kayak ibuku yang malah memajang gelas serta mangkok sovenir pernikahan sepupuku.Ha-ha.
Namun, beberapa bulan lalu, Cinta mendapat kenang-kenangan dari sekolahnya custom mug yang beruliskan nama-nama teman di sekolahnya. Gelas itu adalah favoritnya. Setiap menggunakan gelas itu Cinta akan mellow dan bersemangat dalam waktu yang bersamaan. Bingung ya.
Nah, seminggu lalu mbak Nurul, teman menggendong yang sekarang menjadi freelancer ilustrasi membuat desain gelas custom. Karena aku sudah punya gambar yang ku suka, aku hanya memasan cetak dan gelasnya. Dalam beberapa hari gelasnya datang. Ternyata seperti perasaan Cinta. Ada kepuasan yang berbeda saat menggunakan gelas ini.
Jam analog, jam digital atau smartwatch? Mana yang paling kamu suka? Sejak kelas 1 SD aku sudah menggunakan jam tangan saat sekolah atau jalan-jalan. Saat kebanyakan anak-anak seumurku malas menggunakan jam, aku dengan senang hati menggunakannya.
Bisa jadi karena ibu dan bapakku adalah pengguna jam tangan yang setia. Makanya aku juga terikut. Bahkan seorang teman SD yang pernah bertemu denganku, menunjukkan keheranannya. “Setia banget ya. Dari SD aku kenal kamu, sampai kerja gk pernah kosong itu tangan dari jam,” katanya setelah bertahun-tahun kami tidak bertemu.
Kalau dia tidak berkata seperti itu, aku malah tidak menyadari kalau aku selalu menggunakan jam setiap hari.
I was wondering if after all these years you’d like to meet
To go over everything
They say that time’s supposed to heal ya, but I ain’t done much healing
Hello, can you hear me?
I’m in California dreaming about who we used to be
When we were younger and free
I’ve forgotten how it felt before the world fell at our feet
There’s such a difference between us
And a million miles
Hehehe, jujur saja setiap membaca judul novel ini aku selalu terngiang sama lagunya mbak Adelle (duh, akrab). Dan karena lagu ini juga aku berasumsi kalau novel ini akan bercerita sedih. Kisah seseorang yang masih mencinta tapi terpisahkan.
“Bergayalah sesuai isi dompetmu.” kata ibuku suatu hari. Ibu bukan sedang marah padaku. Tapi hanya mengingatkan. Bahwa banyak hal bisa terjadi seketika. Kita tidak boleh merasa di atas angin. Masalahnya aku berat, angin semilir tak mungkin mampu mengangkatku 😌.
Tapi ada yang menggelitikku. Tampaknya petuah bergaya sesuai isi dompet tidak lagi cocok dengan keadaan saat ini. Di mana orang-orang yang menyukai cashless bermunculan. Dompet bisa jadi kosong, tapi isi rekeningnya gendut. 🤪🤣
Tidak ada sinopsis. Anggap saja surprise saat membacanya.
Buku sebaiknya tidak dibaca oleh:
1. Kalian yang sedang patah hati
2. Kalian yang cinta pertamanya ambyar
3. Kalian yang tertipu kepalsuan.
Begitulah tulisan yang tertera di ulasan playbook. Deg. Aku bukan pesimis dengan versi yang belum dieditnya, tapi aku khawatir baper. Aku anaknya gampang terbuai dengan cerita di buku-buku. Makanya, aku selalu menghindari buku-buku romantis. Boleh sih romantis, tapi jangan bertele-tele dan harus happy ending. 😏
Tapi kan aku gak mengalami ketiganya, maka tekadku bulat untuk kembali membeli versi ebooknya.
Cover Yang Telah Lama Pergi – Tere Liye yang dibaca dengan ereader
Disclaimer : review ini kadang-kadang mengandung unsur spoiler.
Melihat cover buku ini muncul di beranda playbook, kok kayaknya sayang buat diabaikan. Apalagi penulisnya Tere Liye. Entah kenapa aku selalu cocok dengan karya-karyanya.
Yang Telah Pergi. Apa yang ada dibenakmu saat membacanya? Kehilangan. Itu kata yang pertama terbesit dipikiranku. Mungkin kehilangsn pasangan, orangtua, anak. Entah, judul-judul buku Tere Liye kadang tidak sesuai dengan prediksi awalku.
Siapa dulu yang hatinya luluh lantak sama keromantisan Edward Cullen? Coba cek tahun lahirnya 🤪.
Tenang, aku juga kok. Cuma pas nonton filmnya agak kesel dikit sama Edward yang pucat kulitnya gk rata.
Sudah puas dengan buku seri 1 – 4? Atau masih pengin ada kelanjutan lainnya. Meski bukan kelanjutan buku breaking down, Midnight Sun bisa dijadikan pilihan.
Jika pertanyaan ini ditanyakan padaku 20 tahun lalu? Jawabannya tentu saja membaca buku. Tapi bagaimana dengan sekarang? Masih membaca, sayangnya ada tambahan. Apalagi kalau bukan scrolling media sosial. Huhuhu.
Membaca saat ini menjadi kebiasaan yang sedikit mahal buatku. Memiliki 3 anak balita yang masih aktif, tentu sangat jauh berbeda saat aku yang masih remaja.
Aku remaja, dengan santai bisa menghabiskan 24 jam hanya untum membaca. Sekarang aku harus menyiasatinya. Bagaimana?
1. Menyewa buku. Dengan adanya target waktu dan biaya, membaca buku membuatku lebih fokus dan wajib. Ya meski kadang banyak molornya sih. Target 1 bulan 2 buku bisa molor jauh 🥲.
2. Membaca Via Playbook. Kalau yang ini sih, supaya aku bisa membaca tanpa perlu membawanya. Jadi sedikit lebih ringkes. Hanya saja, aku jadi tidak terlihat seperti membaca. Bisa saja aku dikira HAPEEEEE TEROOOOOOOS.