Ibu, Peluklah Dirimu – Wafi Azkia Zahidah

Ibu, peluklah dirimu adalah kalimat yang sangat tepat untuk semua para ibu. Dengan semua sepak terjang yang tidak sama. Para ibu perlu tempat untuk bersandar, berkeluh kesah, tangan yang menepuk pundaknya atau telinga yang dengan sabar mendengar. 

Buku ini tiba-tiba muncul di beranda Gramedia Digitalku. Wah, apakah aplikasi sudah menyadari kalau aku sedang berada di fase lelah berkepanjangan. Ha-ha. Begitu memilih buku ini, aku tidak langsung membacanya. Entah mengapa hati masih belum siap. Setelah kurang lebih tiga minggu berada di perpustakaan Gramedia Digital, aku baru mulai membacanya. Terkadang aku khawatir kalau isi bukunya terlalu berat atau terasa menggurui, malah tidak merasuk ke dalam kalbu. 

Lanjutkan membaca “Ibu, Peluklah Dirimu – Wafi Azkia Zahidah”

Milkbun, Roti Sobek dengan Toping Susu yang Melimpah

“Jangan suruh aku bikin yang lagi viral itu ya! Aku mau persiapan bikin tester kue kering!”

Tulis salah satu teman SMAku yang berprofesi baker. Saat membacanya aku mencoba menerka-nerka, apa sih kue yang lagi viral? Cromboloni, kayaknya dia sudah pernah open PO. Setelah mencari informasi ke sana kemari, ternyata yang dimaksud adalah Milkbun. Kenapa juga aku gak tanya langsung sih! Ha-ha. 

Lanjutkan membaca “Milkbun, Roti Sobek dengan Toping Susu yang Melimpah”

Hai, Aku…

Hai, aku riska. Sebagian teman memanggilku dengan panggilan Betet, Mak Riska atau Mak Cin. Jelas, berbeda lingkaran pertemanan, maka nama panggilanku pun berbeda. Perbedaan ini membuatku lebih mudah mengingat, bertemu dengan mereka di waktu kapan. 

Hanya saja, sejak dulu aku selalu mengenalkan diri dengan namaku sendiri. Pernah, saat baru punya satu anak dan lingkaran pertemananku banyak terhubung dengan ibu-ibu baru, aku membiasakan diri menyebut sebagai Mak Cin. Tapi ternyata, aku sendiri tidak merasa nyaman ketika memperkenalkan diri dengan embel-embel nama anak. Rasanya itu bukan aku. Apalagi bertahun-tahun sebelumnya, inisial nama penaku pun tidak jomplang dari nama asliku. Maka aku makin merasa aneh. 

Lanjutkan membaca “Hai, Aku…”

Ceroz & Batozar – Tere Liye, Bertemu Sekutu

Ceros & Batozar adalah buku ke 4,5 serial Bumi. Ini agak membingungkan ya! Soalnya kalau mengikuti keterangan di akhir cerita Bintang, kita akan diberitahu kalau seri selanjutnya berjudul Komet. Sebelum memutuskan membeli seri selanjutnya, aku googling dulu. Lho, kok ada Ceros & Batozar. 

Lanjutkan membaca “Ceroz & Batozar – Tere Liye, Bertemu Sekutu”

Bintang – Tere Liye, Misi Penting Menyelamatkan Klan Permukaan

Bintang, judul buku keempat dari serial Bumi. Kali ini tiga sahabat kembali berpetualang ke klan Bintang. Mereka membawa misi penting setelah di buku sebelumnya menguak rahasia di klan Bintang. 

Raib, Sely dan Ali akhirnya mengetahui kalau para petinggi klan Bintang mau memusnahkan klan permukaan. Klan Bumi, klan Matahari dan klan Bulan. Jika Bintang yang kita lihat selama ini hidup di atas langit, klan Bintang malah sebaliknya. Mereka semua hidup di dalam perut Bumi. Hmmm, kok aneh. Ya namanya juga cerita gengs! 

Lanjutkan membaca “Bintang – Tere Liye, Misi Penting Menyelamatkan Klan Permukaan”

Belajar Speaking of Public Speaking di HIMA IP Balikpapan Raya

Cukup lama saya “istirahat” mengikuti seminar, webinar atau sejenisnya. Alasan utamanya karena saya khawatir menghadapi “tsunami” informasi. Alasan lain karena saya harus iklas belajar bersama anak-anak.

Ya, saya belum mampu belajar sendirian tanpa gangguan.

Lanjutkan membaca “Belajar Speaking of Public Speaking di HIMA IP Balikpapan Raya”

Game Level 3 Hari 9 : My Family My Team, Membangun dengan Balok Kayu

Hari ini, Cinta kembali kedatangan kakak sepupunya. Errrrr, tiap hari datang sih 🤣. Kalau sudah kakak sepupu datang, saya suka bubar jalan dengan rencana kegiatan hari ini. Ha-ha. Eh gk sih. Sebenarnya yang bikin kakak sepupnya datang karena ada kegiatan yang dilakukan Cinta.

Jadi, partnersaya sering dadakan bertambah. Lanjutkan membaca “Game Level 3 Hari 9 : My Family My Team, Membangun dengan Balok Kayu”

Game Level 1 Hari 12 : Komunikasi Produktif – Tunjukan Sisi Lain yang Menyenangkan

Saat ini, boleh dibilang akses kemana saja mudah kita dapat. Apalagi hampir semua krang memiliki kendaraan pribadi. Angkutan onlinepun mudah didapat. Dijemput di rumah dan diantar sampai tujuan. Tanpa harus lelah berjalan kaki di bawah teriknya matahari.

Meskipun kemudahan itu, agak sulit ditemui di angkutan kota, penggemarnya masih tetap ada. Sejak memiliki kendaraan pribadi, menggunakan angkutan kota sangat jarang saya gunakan. Tapi, saya sangat ingin memberikan Cinta pengalaman menyenangkan dari angkutan umum.

Lanjutkan membaca “Game Level 1 Hari 12 : Komunikasi Produktif – Tunjukan Sisi Lain yang Menyenangkan”

Game Level 1 Hari 11 : Komunikasi Produktif – KISS

Hari Minggu, biasanya saya dan keluarga menghabiskan pagi hari di Lapangan Merdeka, pantai atau taman tiga generasi. Saya memang lebih menyukai aktivitas bersama keluarga di luar.

Ke mall? Bukan tidak suka. Hanya saja, kalau tidak ada yang kami cari, mall bukan jadi pilihan utama. Kalaupun Cinta ingin bermain, biasanya kami menawarkan pilihan bermain di alam terbuka.

Lanjutkan membaca “Game Level 1 Hari 11 : Komunikasi Produktif – KISS”

Game Level 1 Hari 10 : Komunikasi Produktif – Refleksi Pengalaman

Akhir pekan ini, saya memutuskan untuk membuat ice cream bersama Cinta. Selain untuk melatih motoriknya, harapan saya dia akan lebih menyukai ice cream buatan rumah dari pada membelinya.

Meskipun, bahan yang saya gunakan adalah bahan instan alias tinggal tuang dan aduk 🙈.

Lanjutkan membaca “Game Level 1 Hari 10 : Komunikasi Produktif – Refleksi Pengalaman”