Ada satu momen sederhana, tapi cukup membuatku berpikir lama.
“Mah, ternyata benar ya… kontennya orang yang bilang kalau keluarga mamah lebih asyik daripada keluarga papah.” Cinta bilang itu dengan nada santai. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa cukup dalam.
“Oh ya? Mamah pernah lihat sih konten itu. Memangnya benar?” tanyaku.
“Iya mah. Coba deh, kakak-kakak, abang, ibu, ayah, bunda, umi, abi… semua asyik. Bahkan mbah Budi yang jarang ketemu juga seru,” jelasnya panjang lebar.
“Hmmm… iya sih ya,” jawabku pelan.
