“Jangan pernah memaksakan sepatu orang lain pada kaki kita. Begitu juga sebaliknya. Karena meski ukurannya sama, belum tentu nyaman kita pakai”
Pernah dengar kalimat seperti itu? Mungkin sering. Kalimat itu, salah satu kalimat yang bisa jadi pengingatku. Untuk tidak memasakan sesuatu pada keluargaku. Sering kali, rumput tetangga lebih hijau dari rumah kita. Tapi belum tentu rumah kita butuh rumput hijau 😆.
Sibuk. Terdengar biasa ya? Tapi pernahkah menyadari kalau kata sibuk sering dijadikan alasan menghindari sesuatu. Err, apa mungkin cuma aku yang begitu. He-he. Tahun 2011an adalah tahun di mana aku menemukan sesuatu yang baru. Aktivitasku tadinya hanya kuliah, pulang, dan sesekali nongkrong. Ketika mengenal dunia kerja, semua kegiatan ingin dicoba. Liputan sana, liputan sini. Kalau satu hari itu punya banyak list liputan, rasanya bahagia sekali. Aku merasa sangat produktif. Bahkan, sampai-sampai aku mengabaikan hari liburku, demi mengisi halaman yang ku asuh.
Kejadiannya terjadi pada pagi hari, pukul 06.15. Dengan cepat, video dan gambar-gambar menyebar cepat di beberapa media sosial dan whatsapp grup. Saat melihat sekilas gambarnya, aku cukup gemetaran. Karena pakaian kerja beberapa korban, sama dengan sepupuku, Dwi.
Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna – Najeela Shihab
Cinta yang dilabeli “terlalu sempurna”
karena kekurangannya pun dihitung
sebagai bagian yang pantas dijaga
Cinta yang punya suara, bukan hanya gema,
cinta yang dipilih, bukan hanya dikasih
Cinta yang muncul bukan hanya dalam puisi,
tapi dari hasil observasi
Cinta yang hadir bersama seribu ketakutan berbeda,
namun rasa takut kehilangannya selalu lebih dari segalanya
Itulah penggalan kutipan dalam buku, yang dicetak dibagian cover buku. Tulisan pertama yang kulirik saat buku ini sampai ke tanganku. Buku yang menjadi pilihan, karena aku merasa isinya tidak berat. Meski tidak berat, ternyata butuh ketenangan agar bisa meresapi isinya.
Rasa penasaran dan gundah gulana (halah) meliputi, ketika saya memutuskan membaca buku ini. Kisah tentang Andrea, ibu yang membunuh kelima anaknya, hanya sepintas lalu saya dengar. Dan begitu membuka lembar pertama buku ini, rasa deh-degan pun semakin menjadi. Lanjutkan membaca “Review Buku : Luka Cinta Andrea – Suzanne O’Malley”
Ah, ternyata sudah tanggal 13 Oktober aja. Meski belum berantakan, blog ini sudah lumayan berdebu. Penghuninya masih (sok) sibuk dengan beberapa agenda. Apalagi kalau bukan masak, nyuci baju, dan beres-beres rumah. Sibuk sekali bukan ? (kemudian ditimpuk baju kotor).
Di tengah kesibukan yang melanda. Saya menyempatkan diri untuk merapikan kotak-kotak yang berisi buku-buku. Sudah lebih dari satu tahun pindah rumah, masih banyak barang-barang di dalam kotak-kotak yang belum saya letakkan pada tempatnya. Ada tiga kotak buku yang saya buka dengan harapan, isinya bisa saya hibahkan. Jadi kotak-kotak tersebut bisa dimanfaatkan untuk yang lain. Bukannya sedih, saya malah bahagia setengah mati karena ternyata kotak-kotak tersebut berisikan beberapa novel dan buku penting (baca : kamus bahasa indonesia dan inggis).
Oke, saya sudah cukup bertele-tele. Di antara novel yang saya temukan berjudul “Bangun Lagi Dong Lupus”. Novel ini cukup menyuntikkan semangat saya yang mulai kendur karena malas beres-beres. Bagaimana tidak, karya Hilman selalu mampu membuat saya tertawa terbahak-bahak. Selalu ada kekonyolan. Ketika sudah mulai serius membaca, selalu diakhiri dengan canda tawa. Menurut saya, ini merupakan salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Saya mengenal Lupus sejak kelas 4 SD. Kebetulan saat SD, saya tinggal di dekat dengan perpustakaan. Seminggu tiga kali adalah agenda rutin saya ke perpustakaan. Ah, rindunya. Kegiatan yang saya lakukan sampai lulus SMP. Saat SMA, bukannya tidak mau ke perpustakaan lagi. Tapi perpustakaannya tutup lantaran peminat bacanya sedikit. Bisa dihitung jari, termasuk dengan saya.
Kembali ke novel Bangun Lagi Dong Lupus kali ini menceritakan tentang pengalaman Lupus yang menolong teman-teman barunya di SMA Merah Putih. Buku ini menceritakan bagian yang nggak pernah diceritain pada buku Lupus yang lain. Yaitu bagaimana Lupus bertemu dengan Boim, Gusur, dan Anto, serta bagaimana asal muasal cintanya dengan Poppy.
Dalam Islam, menikah adalah satu di antara tiga perkara yang disunnahkan oleh Rasulullah untuk disegerakan. Novel ini menceritakan tentang sosok Zahrana yang menunda-nunda pernikahan. Ia lebih memilih mendahulukan pendidikannya ketimbang menikah. Lanjutkan membaca “Review Buku : Kalau Jodoh, Tak Akan Kemana-mana”
“Ditinggal oleh orang yang dicintai menciptakan sebuah ruangan kosong di relung hati. Hampa. Hidup terasa tak berarti tanpa mereka, lalu yang ditinggal mati pun menjadi hamba Allah yang tak berdaya. Tentu itu dibenarkan selama kesedihan itu tak berkepanjangan”Lanjutkan membaca “Review Buku : Dekapan Kematian”
“Kelak, janganlah bercita-cita akan membelikan rumah untuk istrimu, bercita-citalah untuk tinggal bersama dan hidup berbahagia dengannya, selama-lamanya,”