Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar

Cerita sahur yang disambut dengan antusiasme anak, kesabaran ibu, dan belajar menahan emosi dalam satu rumah dengan beda generasi.

Ramadan selalu datang dengan cara yang berbeda setiap tahunnya. Kadang yang berubah adalah jadwal, kadang suasana hati, kadang justru anak-anak yang tiba-tiba terlihat lebih besar dari tahun sebelumnya. Dan di rumah ini, sahur pertama kali ini terasa sedikit lebih istimewa—bukan karena menu yang berbeda, tapi karena ada niat yang tumbuh di hati seorang anak.

Sahur pertama Ramadan kali ini ada yang berbeda. Rangga yang tahun-tahun sebelumnya hanya sanggup berpuasa setengah hari—yang kadang dilanjut, kadang tidak—kali ini berinisiatif untuk puasa penuh. Dulu-dulu sih, selalu aku, papah, dan neneknya yang mengingatkan, “ayo puasa.”

Karena kali ini inisiatifnya datang dari dirinya sendiri, aku pun ikut bersemangat membangunkannya untuk sahur. Sayangnya, karena ia tidur larut malam, sahur kali ini harus ekstra membangunkannya.

Begitu juga dengan Cinta. Aku hapal benar dengan sifatnya. Ia tidak bisa merasa tegang terlalu lama. Antusiasmenya akan sesuatu membuat adrenalin Cinta terpacu dengan sangat cepat. Akhirnya ia akan kesulitan tidur. Bolak-balik ke kamar mandi, keluar kamar, dan masih banyak tingkah lainnya. Padahal ia tidak tidur siang. Harusnya cepat mengantuk, ya.

Bukan cuma menyambut puasa Ramadan. Saat kami berencana keluar kota—yang kadang hanya berkunjung ke rumah nenek di kota sebelah—ia akan bersemangat sampai sulit tidur. Karena itu, aku memilih untuk packing di jam anak-anak sudah tidur dan dengan sengaja tidak memberi tahu mereka agenda keluarga.

Lalu bagaimana menghadapi anak-anak yang antusiasmenya tinggi seperti Cinta? Aku cuma bisa bilang: sabar. Ha-ha.

Dulu sih, aku suka kesal sendiri. Menahan emosi marah sampai kadang tidak sengaja keluar. Tapi kemarahanku tidak akan mengubah apa pun. Cinta masih tetap sama. Makanya aku belajar untuk lebih sabar menghadapi antusiasmenya. Aku memilih untuk menutup telingaku dari perkataan nenek yang kalau dibiarkan mengendap di hati, bisa bikin aku ngomel ke Cinta.

Menghadapi baby boomer dan tiga gen alpha dalam satu rumah memang tidak mudah. Haha. Percayalah, kita perlu belajar menebalkan telinga dan hati di saat-saat tertentu.

Semoga puasa hari ini lancar. Tidak ada keluh kesah yang membuat emosi tidak tertahan. Eh, tapi bukannya puasa memang harus membuat kita bisa menahan, ya?

Dan mungkin memang di situlah latihan sesungguhnya. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan reaksi, menahan kata-kata yang hampir keluar, menahan ego yang ingin selalu benar. Ramadan yang selalu mengajakku belajar —bahwa mendampingi anak bertumbuh juga berarti ikut bertumbuh bersama mereka. Sambil terus belajar sabar, meski kadang sambil tertawa kecil sendiri.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar