Tidak Semua Air Mata Terlihat

Tidak semua duka terlihat dari air mata. Tentang kehilangan, kenangan bersama ayah, dan cara setiap orang memproses rasa sedih dengan caranya masing-masing.

Beberapa hari ini media sosial diramaikan dengan pemberitaan tentang kepergian salah satu musisi Indonesia yang dikenal sebagai Duta Persahabatan, Vidi Aldiano. Banyak orang menyoroti kebaikan dan energi positif yang selalu dibawanya. Timeline-ku pun dipenuhi cerita tentang sosoknya yang hangat dan menyenangkan.

Aku lebih banyak membaca kisah-kisah baik tentangnya. Kalau ada komentar yang bernada sinis atau julid, biasanya aku hanya melihatnya dari kutipan orang lain. Entah kenapa, rasanya lebih nyaman fokus pada cerita-cerita yang membawa kebaikan.

Di antara berbagai tulisan yang muncul, ada satu yang cukup menarik perhatianku. Tulisan itu membahas tentang Sheila, sang istri, yang disebut mengalami delayed grief—duka yang datang terlambat. Saat kejadian, ia tampak seperti tidak memproses apa pun. Namun bisa jadi, rasa kehilangan yang sangat dalam justru datang ketika ia sudah sendirian.


Tidak semua duka terlihat. Sebagian hanya hadir di antara langit sore
dan kenangan.

Tulisan itu membuatku seperti terlempar ke masa lalu.

Ke masa ketika bapak meninggalkan aku dan ibu untuk selamanya.

Sebagai anak yang dikenal cukup introvert, mungkin banyak orang membayangkan aku akan mengurung diri di kamar. Tapi kenyataannya tidak begitu. Saat itu Cinta masih berusia sekitar 18 bulan, dan aku harus tetap bergerak.

Jika dibandingkan dengan kedua kakakku, mungkin aku termasuk yang paling sedikit menangis. Bukan karena tidak sedih, tetapi rasanya aku masih mencoba memproses semuanya. Saat orang-orang datang menyalami dan memelukku, aku juga tidak sampai runtuh.

Hal pertama yang terlintas di pikiranku justru sederhana: Bapak sudah tidak sakit lagi.

Bertahun-tahun beliau menahan sakitnya. Aku dan ibu yang merawatnya tentu tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya. Kami hanya bisa membayangkan.

Jadi di satu sisi aku merasa lega, tetapi di sisi lain tentu saja sangat sedih.

Menangis di depan banyak orang saat itu bukan pilihan yang terasa tepat. Apalagi aku harus menggendong Cinta ke mana-mana.

Lalu apakah aku jatuh terpuruk saat sedang sendirian?

Ternyata tidak juga.

Aku justru menikmati kesedihan dan kerinduan itu dengan cara yang berbeda. Aku mengingat kembali semua kenangan bersama bapak—dari masa kecil sampai dewasa.

Salah satu yang paling sering muncul di ingatanku adalah jalan pagi bersama bapak. Kami sering menikmati udara pagi yang segar sambil berjalan santai. Kenangan-kenangan kecil seperti itu tiba-tiba terasa sangat berharga.

Jadi kesedihan yang aku rasakan bukan semata karena ditinggalkan. Lebih dari itu, aku justru terharu karena diberi begitu banyak kesempatan untuk menikmati waktu bersama bapak.

Dulu aku bahkan sempat merasa kesal ketika diminta menunda menikah. Sebagai anak yang merasa sudah cukup matang, rasanya aku ingin marah. Namun sebagai anak, rasa hormat dan bakti jauh lebih besar. Akhirnya aku hanya memendam rasa itu.

Saat itu aku mencoba menenangkan diri dengan berkata,

“Mungkin ini kesempatan untuk puas-puas berbakti dulu. Karena kalau sudah menikah, baktinya bukan lagi hanya untuk bapak.”

Dan ternyata benar. Aku memang diberi waktu yang sangat banyak bersama bapak.

Kalau dilihat dari kacamata orang lain, mungkin aku dan ibu dianggap sedang memikul beban yang sangat berat. Tapi dari kacamata kami, masa itu justru terasa seperti kesempatan yang langka.

Maka semakin aku belajar memahami satu hal : tidak semua peristiwa bisa dilihat dari satu sisi saja.

Apalagi bagi kita yang tidak menjalaninya langsung. Sudut pandang setiap orang pasti berbeda.

Begitu juga dengan duka.

Tidak semua orang mengekspresikannya dengan cara yang sama. Ada yang menangis keras, ada yang memilih diam. Ada yang terlihat kuat di awal, lalu runtuh ketika semuanya sudah sepi.

Dan semua cara itu, pada akhirnya, sama-sama manusiawi.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar