Kadang sebuah perjalanan menjadi menarik bukan karena tujuannya, tetapi karena jalur yang kita lewati.
Beberapa hari lalu, sebuah pengumuman lewat di beranda Instagramku :
“Jalan tol IKN resmi dibuka secara fungsional terbatas untuk mendukung kelancaran arus mudik Idul Fitri 1447 H/2026.”
Tidak lama berselang, akun Instagram Kaltim Post juga memposting rute tol IKN yang bisa dilewati pengguna kendaraan roda empat.
Belum sempat aku banyak berpikir, ibuku tiba-tiba mengirim pesan.
“De, kalau ke seberang lewat tol aja.” Sepertinya ibu juga melihat postingan yang sama.

“Kayaknya Dani tetap pilih lewat feri deh, Bu. Karena pintu keluarnya kan lebih jauh dari lokasi yang mesti dikunjungi,” jawabku.
Padahal, kalau soal perjalanan darat dengan mobil, aku termasuk yang senang mencoba jalur baru. Termasuk lewat jalan tol. Tapi sebagai penumpang—yang kadang juga mudah mengantuk di perjalanan—aku biasanya mengikuti saja keputusan suami yang berada di balik kemudi.
Kunjungan kami ke Penajam Paser Utara (PPU) sebenarnya sudah direncanakan beberapa hari sebelumnya. Hanya saja suami masih belum yakin dengan waktu keberangkatan yang tepat.
Setelah sempat molor beberapa hari, akhirnya kami benar-benar berangkat selepas sholat Dzuhur. Karena sudah masuk arus mudik, pilihan menggunakan feri sebenarnya bisa membuat waktu perjalanan menjadi lebih lama.
Tiba-tiba suami bertanya,
“Kalau kita lewat tol gimana?”
“Terserah aja. Kalau yakin, ayuk gas. Kan kami belum pernah lewat tol IKN,” jawabku.
Memang benar, aku dan anak-anak belum pernah melewati tol IKN. Berbeda dengan suami yang sudah beberapa kali ke sana karena pernah menjadi tamu undangan di beberapa acara.
Akhirnya diputuskan: kami mencoba lewat tol IKN. Kami masuk melalui jalan pintas di Km 8. Pertimbangannya sederhana. Kalau harus masuk lewat gerbang tol Manggar, jaraknya justru terasa lebih jauh. Ternyata jaraknya memang sedikit lebih singkat. Tapi waktu tempuhnya kurang lebih sama saja.
Kenapa?
Karena ternyata tidak semua jalan sudah dicor. Masih ada beberapa bagian yang berupa jalan tanah. Hujan yang turun sebelumnya membuat beberapa bagian jalan menjadi becek.
Kalau sampai salah jalur sedikit saja, bisa-bisa mobil kami justru terjebak lumpur.
Tol yang Lebih Lebar dan Pemandangan Hijau
Sepanjang perjalanan di tol IKN, aku cukup dibuat kagum.
Jalannya terasa lebih lebar dibandingkan Tol Balikpapan–Samarinda. Dan yang paling menyenangkan, sejauh mata memandang terlihat hamparan rumput hijau di kanan dan kiri jalan.
Suasananya terasa berbeda. Seperti melintas di jalan baru yang masih sangat muda.
Ada satu hal yang cukup menarik perhatianku di tol ini. Di beberapa titik terdapat semacam gapura yang disebut “Jembatan Satwa.”
Menurut penjelasan suami, jembatan ini memang dibuat sebagai jalur penyeberangan satwa liar. Hewan-hewan di hutan bisa berpindah dari satu sisi ke sisi lain tanpa harus melewati jalan tol.
Konsepnya memang terdengar bagus. Hanya saja aku sempat bertanya-tanya dalam hati. Apakah benar satwa-satwa itu akan menggunakan jembatan tersebut? Atau jangan-jangan mereka malah… melompat langsung ke arah kendaraan? He-he.
Melintasi tol di tengah kawasan hutan Kalimantan memberikan pemandangan yang berbeda. Jalannya terasa seperti garis panjang yang membelah hamparan hijau. Di beberapa titik bahkan terasa seperti melihat sebuah oase di tengah gurun—jalan lebar yang muncul di tengah bentang alam yang masih sangat alami.
Secara fungsional, tentu saja tol ini akan sangat membantu mobilitas ke depan. Apakah benar-benar seperlu itu? Entahlah.
Untuk saat ini, aku memilih menikmatinya saja sebagai bagian dari perjalanan. Tanpa perlu buru-buru mengkritik atau memberi penilaian yang terlalu jauh. Karena kadang sebuah jalan baru memang hanya perlu dilalui terlebih dahulu—baru kemudian kita benar-benar memahami ke mana arah perjalanan itu membawa kita.