Belajar Percaya pada Proses Anak

Refleksi seorang ibu saat belajar menahan diri dalam mendampingi anak mengerjakan tugas. Tentang percaya pada proses, memberi ruang, dan melihat anak bertumbuh dengan caranya sendiri.

Ada satu fase dalam membersamai anak yang ternyata tidak mudah: menahan diri untuk tidak terlalu ikut campur. Bukan karena kita tidak peduli, justru karena terlalu peduli, kita sering ingin semuanya berjalan sempurna.

Padahal, mungkin yang anak butuhkan bukan hasil yang sempurna, melainkan ruang untuk mencoba, gagal, dan bangga atas usahanya sendiri.

“Oii, sudah kerjain tugas TIK? Progress seni rupa gimana?” Sebuah pesan WhatsApp masuk ke smartphone-ku. Aku menarik napas sejenak.

Aku membalas pesan Merry, sahabatku sejak SMA. Anaknya dan anakku saat ini belajar di sekolah yang sama. Enaknya lagi, mereka satu kelas dan cukup akrab. Mungkin karena mamanya juga bersahabat sejak dulu. Hehe.

“Ha-ha. Pastinya belum. Apalagi seni rupa. Aku sudah ngajak buat ngerjain Jumat ini, biar Senin tinggal finishing di sekolah. Tapi banyak yang gak bisa. Ya sudah, aku ikut saja,” jawabku.

“Santai amat. Kelompokmu emang TOP,” balas Merry.

“Wkwkwk. Biar deh. Yang penting anak-anak yang turun tangan berkreasi, aku bagian pengawas saja,” jawabku lagi.

Sebagai orang tua yang masih terus belajar, aku paham betul bagaimana gemasnya ingin turun tangan mengerjakan tugas anak. Rasanya ingin cepat selesai, ingin rapi, bahkan ingin hasilnya jadi yang terbaik.

Namun kali ini aku mencoba menahan diri. Kalau nilai ini untuk anak-anak, sesederhana apa pun hasilnya, biarkan mereka yang mengerjakan. Aku hanya boleh mendampingi.

Tugas seni rupa ini sebenarnya sudah diberikan sejak seminggu sebelum Ramadhan. Tapi aku yakin, selama bulan Ramadhan, banyak orang tua di kelompok Cinta yang memilih menunda. Selain karena dikumpulkannya setelah libur Lebaran, banyak juga yang mudik.

Kami pun mulai mengerjakan diorama dari kertas. Temanya bebas—dari dinosaurus, hewan laut, hingga peternakan. Aku membantu mengumpulkan bahan, termasuk memanfaatkan kotak hampers yang ada di rumah agar panggungnya lebih kokoh.

Awalnya, aku pikir penggunaan lem tembak harusnya hanya aku yang pegang. Tapi ternyata aku salah.

Anak-anak itu… ternyata sudah jauh lebih siap.

Mereka bekerja dengan penuh semangat. Bahkan saat lem tembak tak sengaja mengenai tangan, tidak ada teriakan kesakitan. Mereka justru tertawa, menikmati prosesnya.

Di momen itu, aku sadar—mungkin selama ini aku yang kurang percaya. Padahal anak-anak bisa. Asal kita memberi mereka kesempatan. Maaf ya, Nak.

Menjadi orang tua ternyata bukan hanya soal mengajarkan, tapi juga belajar. Belajar percaya, belajar melepas, dan belajar memberi ruang. Karena dibalik karya sederhana mereka, ada proses besar yang sedang tumbuh: keberanian, kemandirian, dan rasa percaya diri.

Dan mungkin, yang perlu kita lakukan hanya satu, mundur sedikit, agar mereka bisa melangkah lebih jauh. 

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar