Ada satu hal yang membuatku selalu tertarik membaca buku-buku psikologi: keinginan untuk mengenal diriku sendiri lebih jauh. Rasanya seru sekali mencari tahu bagaimana pengalaman masa kecil membentuk diri kita hari ini.
Apakah aku memiliki trauma masa kecil?
Mungkin saja.
Namun sampai saat ini aku belum pernah benar-benar mencari tahu secara mendalam dengan psikolog secara langsung.
Maka membaca buku-buku seperti ini terasa seperti langkah kecil yang bisa kulakukan. Setidaknya agar aku bisa lebih memahami diriku sendiri—dan semoga saja tidak menjadi orang tua yang toxic bagi anak-anak.

Kadang kita membaca buku psikologi bukan untuk mencari jawaban tentang orang lain, tapi untuk mengenal diri kita sendiri.
Ada satu bagian yang menurutku sedikit lucu, tapi sekaligus membuatku merasa, “Oh, buku ini sepertinya cocok buatku.”
Di bagian praktik ada paragraf yang menuliskan kalimat seperti ini:
“Jangan terlalu senang, nanti kamu sebentar lagi sedih.”
“Masa gitu aja nangis?”
Kalimat-kalimat itu terasa sangat familiar di telingaku. Ha-ha.
Saat kecil dulu, setiap kali aku tertawa terlalu bahagia, sering kali ada teguran seperti itu. Dan entah bagaimana, setelahnya memang sering berujung tangisan.
Salah satunya karena bapak yang marah-marah. Bukan marah yang sampai memukul, lebih kepada kemarahan yang muncul dari rasa sakit yang beliau rasakan—yang saat itu mungkin tidak sepenuhnya kami pahami.
Baru ketika dewasa aku menyadari sesuatu.
Kemungkinan besar itu adalah perasaan bapak yang merasa tidak berguna karena sakitnya.
Dan sebagai anak kecil, aku tentu tidak memahami semua itu.
Boleh jadi pengalaman-pengalaman seperti itu adalah luka kecil yang aku bawa sampai dewasa. Namun anehnya, aku tidak merasa pengalaman itu membuatku menjadi pribadi yang buruk.
Justru mungkin sebaliknya.
“Setiap manusia, saat dewasa, membawa pengalaman hidup di masa kecilnya (masa kanak-kanaknya), baik pengalaman buruk maupun pengalaman baik.”
— Carl Jung —
Aku tentu berharap kenangan baiklah yang lebih banyak tersimpan dalam memoriku. Kalaupun ada pengalaman buruk, semoga aku bisa menjadikannya pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Buku ini menurutku mengajak pembacanya untuk mengenal diri jauh lebih dalam. Bahasanya juga tidak berat. Rasanya seperti sedang melakukan sesi konseling ringan dengan seorang psikolog.
Setiap bab ditulis dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang seolah sederhana, tetapi membuatku sering berhenti sejenak.
Membaca.
Berpikir.
Lalu menjawab pertanyaan dari dalam diriku sendiri.
Bagaimana setelah membaca buku ini?
Jujur saja, aku jadi lebih sering “mengobrol” dengan diriku sendiri.
Apakah responku tadi sudah tepat?
Apakah seharusnya aku bersikap berbeda?
Apakah perasaanku ini valid?
Dan masih banyak apakah lainnya. Ha-ha.
Namun ada satu kalimat yang terasa seperti catatan tebal dalam pikiranku:
“Kita tidak bisa mengatur respon orang lain terhadap kita. Tapi kita bisa mengatur respon kita sendiri terhadap orang lain atau terhadap suatu kejadian.”
Mungkin pada akhirnya, perjalanan mengenal diri sendiri memang tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada hal baru yang bisa dipelajari dari pengalaman masa lalu. Dan mungkin, dengan mengenali diri lebih baik, kita juga bisa belajar menjadi orang tua yang lebih lembut bagi anak-anak kita.
Bukan orang tua yang sempurna. Tapi orang tua yang terus berusaha memahami dirinya sendiri.