Review Aldebaran Bagian 1 : Mempersiapkan Perjalanan Menuju Aldebaran

Ada cerita-cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Bukan karena penulisnya belum menamatkan, tapi karena kita, sebagai pembaca, selalu ingin kembali. Kembali ke dunia yang sama, tokoh yang sama, dan rasa yang entah kenapa selalu terasa dekat.

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya yang aku nantikan tiba—kisah perjalanan Raib, Seli, dan Ali.

Membaca novel ini selalu terasa seperti pulang ke tempat yang familiar. Di satu sisi aku sangat menantikannya, tapi di sisi lain, ada rasa kesal yang ikut datang. Kesal karena penasaran.

Kisah Raib, Seli, dan Ali dalam dunia paralel. Konflik, rahasia, dan perjalanan emosional yang membuat pembaca terus ingin kembali.

Perjalanan mereka di dunia paralel memang selalu punya cara untuk membuatku ingin terus mengikuti. Sebelumnya aku sudah menyelesaikan Hana Tara Hata. Meski bukan dalam satu rangkaian cerita utama, kisah para tokoh ini terasa seperti kepingan yang melengkapi semuanya.

Di buku kali ini, sudut pandang cerita terasa berbeda. Kita tidak hanya melihat dari Raib atau Seli, tapi dari ALI—benda kecil buatan Ali. Ia bisa melintasi dunia paralel, mengikuti banyak kejadian, dan mengirimkan data kembali ke Ali. Membuat Ali tetap “hadir” di banyak tempat, bahkan saat ia tidak benar-benar ada di sana.

Di buku sebelumnya, hubungan Raib dan Seli retak. Raib belum bisa memaafkan Seli yang membakar tubuh ayahnya. Sebenarnya, ia ingin. Tapi ada bagian dalam dirinya yang masih menolak.

Di sisi lain, Seli tidak bisa menjelaskan alasannya. Ia terikat janji. Dan tidak semua kebenaran bisa diucapkan, meski itu menyakitkan.

Untungnya, Cwaz pernah melihat kenangan Seli. Ia tahu alasan sebenarnya, juga kenapa Seli memilih diam.

Teman-teman di klan Bumi pun mulai bertanya-tanya. Selama ini Raib dan Seli seperti dua orang yang tak terpisahkan. Tapi kini, semuanya berubah. Bahkan orang tua Raib pun merasa heran—kenapa setiap Seli datang, Raib selalu “menghilang”? Padahal sebenarnya ia masih ada di sana, hanya bersembunyi di balik mantranya.

Ali, yang sempat memilih tinggal di SagaraS, akhirnya memutuskan kembali ke Bumi. Bukan tanpa alasan. Ia ingin memperbaiki semuanya. Ia tahu, hubungan Raib dan Seli harus dipulihkan. 

Apalagi Seli… sedang sekarat. Satu-satunya yang bisa menyelamatkannya hanyalah Raib—Sang Putri Bulan, dengan kekuatan penyembuhannya. Dan di titik inilah, rahasia itu perlahan terbuka.

Tak disangka, April—teman sekelas mereka—memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain. Dari situlah Raib akhirnya mengetahui alasan di balik keputusan Seli. Rasa penyesalan itu datang, begitu dalam. Dan akhirnya, Raib berjuang menyembuhkan Seli. 

Selesai? Belum.

Karena di dunia Raib, Seli, dan Ali. cerita tidak pernah sesederhana itu. Bibi Gill tiba-tiba datang ke Bumi. Ia membawa rencana besar—membuka gerbang Aldebaran. Sebuah keputusan yang tidak hanya berisiko, tapi juga bisa berdampak pada seluruh klan. Tujuannya mulia: mengantarkan si kembar Ngglanggeran dan Ngglanggeram kembali ke asalnya.

Namun, kita tahu, setiap ekspedisi besar di dunia ini, selalu menyisakan sesuatu. Banyak petarung yang khawatir, tapi mereka yakin mengantarkan si kembar kembali ke rumahnya adalah pilihan tepat.

Membaca kisah ini mengingatkanku, bahwa dalam setiap perjalanan, selalu ada rahasia, dan pilihan yang tidak mudah. Tentang memaafkan, yang kadang tidak sesederhana kata. Tentang kebenaran, yang tidak selalu bisa diungkapkan. Dan tentang persahabatan, yang berhasil bangkit setelah sempat retak. 

Selamat menantikan edisi selanjutnya (riskaaaa)! 

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar