Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar

Cerita sahur yang disambut dengan antusiasme anak, kesabaran ibu, dan belajar menahan emosi dalam satu rumah dengan beda generasi.

Ramadan selalu datang dengan cara yang berbeda setiap tahunnya. Kadang yang berubah adalah jadwal, kadang suasana hati, kadang justru anak-anak yang tiba-tiba terlihat lebih besar dari tahun sebelumnya. Dan di rumah ini, sahur pertama kali ini terasa sedikit lebih istimewa—bukan karena menu yang berbeda, tapi karena ada niat yang tumbuh di hati seorang anak.

Sahur pertama Ramadan kali ini ada yang berbeda. Rangga yang tahun-tahun sebelumnya hanya sanggup berpuasa setengah hari—yang kadang dilanjut, kadang tidak—kali ini berinisiatif untuk puasa penuh. Dulu-dulu sih, selalu aku, papah, dan neneknya yang mengingatkan, “ayo puasa.”

Lanjutkan membaca “Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar”

Ruang Sunyi di Dalam Diri

Sebuah refleksi tentang kecewa yang masih tinggal, kebutuhan untuk menyepi, dan harapan untuk kembali bahagia—pelan-pelan, dengan lebih jujur pada diri sendiri.

Setiap orang punya ruang sunyi di dalam dirinya.

Tempat yang jarang disentuh, tapi sering terasa.

Di sanalah perasaan-perasaan yang belum selesai berdiam—

kecewa, ragu, dan pertanyaan yang tak selalu berani diucapkan.

Lanjutkan membaca “Ruang Sunyi di Dalam Diri”

Review Buku : Tentang Anak – Joko Dwinanto 

“Bagi anak, sentuhan orangtua punya arti yang jauh lebih besar dibandingkan kata-kata” -tentanganak-

  
Entah kenapa, beberapa minggu ini mood ngereview buku kurang bagus. Padahal, udah beberapa buku dibaca. Tapi, mood buat ngeblog masih belum juga muncul. (Emang ada yang peduli? 😆) . Mungkin saya lelah, stress dan butuh liburan (alasan banget 😛).  Lanjutkan membaca “Review Buku : Tentang Anak – Joko Dwinanto “